Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kisah Warga Yang Jadi Korban Plengsengan Ambrol di Pare

Anwar Bahar Basalamah • Kamis, 9 Februari 2023 | 18:07 WIB
MASIH TERGENANG: Chris Cahyono, warga Gedangsewu, membersihkan rumahnya masih tergenang air setelah kebanjiran kemarin. (Foto: Iqbal Syahroni)
MASIH TERGENANG: Chris Cahyono, warga Gedangsewu, membersihkan rumahnya masih tergenang air setelah kebanjiran kemarin. (Foto: Iqbal Syahroni)
Bagi warga Desa Gedangsewu, kejadian hujan deras yang terjadi pada Selasa (7/2) sore-malam sangat mencekam. Karena membuat ambruk tiga kios yang berdiri di tepi sungai. Tiga lainnya tergenang air.

Suara sapu lidi bergesekan dengan pasir dan air terdengar nyaring. Datangnya dari rumah Chris Cahyono di Desa Gedangsewu, Kecamatan Pare. Tepatnya berada di tepi Kali Bening, sungai aliran lahar dingin, yang melintas di desa tersebut.

“Besok (hari ini, Red) sepertinya akan saya pompa sedot,” ucap lelaki yang biasa disapa Pak Mul itu, sambil menunjuk genangan air yang masih ada di ruang tamu.

Rumah Pak Mul itu jadi korban ambrolnya saluran air di tepi Kali Bening itu. Ketika hujan deras Selasa (7/2) lalu, saluran air tersebut meluap dan jebol. Akibat sampah yang menumpuk dan menutup jalannya air.

Rumah yang ditempati Pak Mul sejatinya adalah deretan kios. Jumlahnya ada enam. Tiga unit di antaranya dijadikan rumah toko (ruko) oleh Pak Mul. Dibuat berjualan beraneka barang. Mulai baju, sepeda, dan alat elektronik. Ada juga kios ayam geprek.

Air yang menggenangi rumahnya setinggi 40 sentimeter. Membuat barang-barangnya basah. Tapi, bukan masalah basah itu yang dia khawatirkan. Melainkan ketakutan dinding rumah ambrol akibat terkena rembesan air terus-menerus. Apalagi, salah satu bagian dinding sudah jebol selebar 60 sentimeter.

Rumah yang dibangun di ‘atas’ Kali Bening itu tersisa tiang-tiangnya saja. Dinding belakang yang ada di atas plengsengan sungai sudah hilang. Ikut ambrol bersama tanah penyangganya.

“Saya hitung kerugian mencapai Rp 25 juta,” akunya.

 

Bagi Pak Mul, bencana Selasa malam itu benar-benar mencekam. Di saat hujan belum reda, tiba-tiba air memancar deras dari selokan. Menerjang gerobak yang dibuat berjualan ayam geprek hingga kacanya pecah.

“Air seperti tsunami, setelah menabrak gerobak langsung masuk kios,” kisahnya.

Akibatnya, bangunan miliknya langsung ambles hingga sedalam empat meter. Sebagian barangnya hanyut terbawa air. Yaitu delapan sepeda. Sedangkan televisi dan kulkas jatuh ke sungai. Kini, Pak Mul mengungsikan keluarganya ke rumah adiknya yang berada tak jauh dari lokasi.

Kondisi yang lebih parah menimpa tiga kios lain yang masih berupa bangunan semipermanen. Tiga bangunan itu hancur total tak bersisa lagi.

Rembati, 52, pemilik warung yang berad di seberang jalan, juga mendapat imbas dari jebolnya saluran air. Tempat usahanya itu ikut tergenang air hingga nyaris setengah meter.

“Warung langsung tutup. Cucu saya ketinggalan di dalam teriak-teriak hampir tenggelam,” terang Rembadi. Untungnya, bangunan milik Rembati tak hancur. Kerugiannya berkisar Rp 5 juta.

“Sebenarnya takut dan pingin mengungsi tapi tak punya rumah lain,” ucap wanita tersebut sambil ngemong cucunya.

Para korban berharap pihak berwenang segera memperbaiki tanggul yang rusak. Agar mereka kembali merasa aman meninggali rumah tersebut.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #berita hari ini #banjir bandang #kebanjiran #korban banjir