Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, Agus berlatih bersama teman-temannya di halaman SMPN 2 Kediri sejak pukul 20.00. Ada satu warga yang melatih para siswa, sebutan untuk calon anggota PSHT, di sana.
Sekitar pukul 22.00, dilakukan latihan pernapasan. Salah satu sumber koran ini menyebut, saat itu para siswa diminta menarik napas dalam-dalam. Diduga, saat tengah menarik napas tiba-tiba Agus terjatuh ke belakang. “Informasinya, kepala korban terbentur lantai,” kata sumber koran ini.
Setelah terjatuh, pemuda yang mondok di salah satu ponpes di Mojoroto itu juga terdengar mengerang. Melihat salah satu siswa terjatuh, pelatih bersama siswa lain berusaha menolong. Di antaranya, dengan mengolesi perut Agus menggunakan minyak kayu putih.
Rupanya hal itu belum membuat kondisi Agus membaik. Melainkan justru lemas. Setelah melihat perkembangannya, mereka lantas membawa Agus ke RSUD Gambiran untuk mendapatkan perawatan. “Dibawa ke RS menggunakan sepeda motor,” lanjut sumber koran ini yang mewanti-wanti agar namanya tak dikorankan.
Sekitar pukul 23.00, Agus dinyatakan meninggal dunia. Selanjutnya, kematian Agus dilaporkan ke Polsek Kota sekitar pukul 00.30, Selasa (06/12) dini hari kemarin. Hingga kemarin siang, polisi masih melakukan serangkaian pemeriksaan kepada saksi.
Termasuk Kepala SMPN 2 Kota Kediri Handoko Wiyono yang kemarin dimintai keterangan di Polsek Kota. “Latihan itu bukan dari sekolah. Mereka (PSHT, Red) hanya menyewa tempat saja,” tutur salah satu pegawai SMPN 2 Kota Kediri yang juga tidak mau disebutkan namanya.
Terpisah, Kanitreskrim Polsek Kota Iptu Nanang Sugianto yang dikonfirmasi tentang penyelidikan kasus meninggalnya Agus, juga tidak bersedia memberikan komentar. Pun terkait permintaan keterangan beberapa orang kemarin. “Mohon maaf, saya nggak bisa ngomong. Semuanya satu pintu,” terang perwira dengan pangkat dua balok di pundak itu sembari meminta koran ini mengonfirmasi ke Kapolsek Kota AKP Mustakim.
Sementara itu, Ketua Cabang PSHT Kota Kediri Agung Sediana yang dihubungi secara terpisah mengungkapkan, saat ini peristiwa meninggalnya Agus setelah terjatuh saat berlatih itu tengah diupayakan untuk diselesaikan secara internal. “Hasil visum sebenarnya tidak ada kekerasan fisik,” bebera Agung sembari menyebut pihaknya menunggu hasil otopsi dari RS Bhayangkara.
Lebih jauh Agung menyebut pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan keluarga Agus yang juga merupakan warga PSHT. Dia menyebut, pihak keluarga tidak mengajukan tuntutan. Meski demikian, PSHT masih mengikuti proses prosedurnya.
Mengapa Agus bisa terjatuh saat berlatih? Agung menduga siswa tersebut sedang sakit. Meski demikian, dia tidak berani berkomentar lebih jauh. “Kami masih menunggu hasil otopsi,” paparnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah