“Pak Ali itu memang suka petualangan. Tujuannya untuk ritual keagamaan dan biar bisa menyatu dengan alam,” tutur Yon, 62, teman dekat Ali.
Ali berangkat sendiri. Selain ke gunung, juga berjalan hingga batas Kediri Raya. Ali dikenal tidak terlalu terbuka dan jarang di rumah. “Mungkin juga faktor pekerjaan. Pak Ali kan kerja sebagai sales di pabrik kecap,” imbuh Yon sembari mengatakan Paijah, istrinya, berteman dekat dengan Binti Alfiati, 39, istri Ali.
Selama ini, Ali bekerja di pabrik kecap Karanganyar, Solo. Seminggu sekali pulang. Namun sejak 15 Oktober lalu, tak pernah kembali. Ia sempat pamit kerja pada istrinya. “Hari Sabtu dan Minggu pagi, Ali sempat memberi kabar istrinya bahwa dirinya berada di Gunung Lawu,” tutur Asih, 53, tetangga sebelah rumah Ali. Namun, Minggu sore sudah tidak bisa ditelepon.
Tiga hari tanpa kabar (18/10), Binti memberitahu mertuanya. Dua saudara Ali kemudian ke gerbang pendakian Cemoro Sewu di Desa Ngancar, Magetan untuk memastikan. Di sana nama Ali terdata melakukan pendakian sejak Sabtu.
Karena suami belum pulang, Binti bersama dua anaknya tinggal di rumah mertuanya di Kertosono, Nganjuk sejak dua hari lalu (16/10). Rumahnya di Rejowinangun, Minggiran terkunci rapat. “Saat pamit, Binti menangis dan meminta doa agar suaminya segera ditemukan,” ungkap Asih. Dia lihat Binti diantar adiknya naik sepeda motor.
Beberapa bulan lalu, Asih mengaku, mencium aroma dupa dari rumah Ali. Namun hal itu direspons biasa. Keluarga Ali menurutnya tertutup. “Bau dupa sering saya cium. Tiga kali sih lebih,” urainya.
Terpisah, Kasun Rejowinangun MS. Aji mengatakan, keluarga Ali pergi ke Gunung Lawu ikut mencari bersama tim gabungan BPBD, TNI, dan Polri. “Ada saudaranya Ali orang pintar ikut cari,” pungkasnya sembari mengatakan keluarga Ali rata-rata orang pintar dan sering melakukan ritual.(c1/ndr) Editor : Anwar Bahar Basalamah