Mereka menjadi sukarelawan penjaga perlintasan rel KA. Seperti dilakukan Fikri. Bocah 11 tahun ini ikut menjaga salah satu perlintasan di Dusun Gempol, Kecamatan Kayenkidul.
Mengenakan rompi oranye dan topi, dia membawa peluit yang digenggam. Sewaktu-waktu Fikri membunyikannya ketika ada pengendara hendak melintas dan bertepatan dengan kereta api yang akan lewat. “Biasanya setelah pulang sekolah, jam 11.00 saya ke sini,” ujar anak bermata sipit sebelah yang seperti tersengat lebah itu.
Siang itu ketika bertemu koran ni di pinggir rel, Fikri duduk sendiri. Sambil mengawasi setiap pengendara yang melintas. Biasanya dia bersama tiga warga setempat. Namun kali itu mereka pulang terlebih dahulu. “Selama libur sekolah saya jaga setiap hari. Jam 08.00 hingga 15.00 sore,” ungkapnya.
Fikri mengaku, telah menjaga perlintasan KA itu selama satu tahun. Itu atas kemauannya sendiri. Alasannya, karena ingin lintasan rel itu aman. Tidak menyebabkan kecelakaan. Sehingga bisa menyelamatkan orang lain. “Ya agar semua selamat. Biar tidak ada kejadian. Dan kereta lancar terus,” tuturnya.
Pelajar SD ini berharap, tidak ada pengendara yang menerobos perlintasan KA itu. Terutama ketika akan ada kereta api yang akan lewat. Meski menjaga rel lintasan KA itu, Fikri tak lupa kewajibannya sebagai siswa untuk belajar. Ia mengaku, malam hari kegiatannya adalah belajar. (c1/ndr) Editor : Anwar Bahar Basalamah