Di TKP, polisi menemukan bukti surat wasiat. Isinya bertuliskan, “Aku wis gak kuat karo kahanan iki (saya sudah tak kuat dengan keadaan ini)”. Kapolsek Pare AKP Bowo Wicaksono mengatakan, menemukan surat tersebut dari kantong celana korban. “Ditemukan saat jasadnya diturunkan petugas,” ujarnya.
Dari keterangan warga yang diperoleh polisi menyebut, Naryo diduga depresi karena memiliki riwayat sakit di kaki sebelah kanan. Awalnya hanya terkena knalpot motor. Namun tak kunjung sembuh.
Selain itu, juga ada rekam medis Naryo yang menyatakan dirinya menderita diabetes dan hipertensi. “Pernah dirawat anak-anaknya di Malang. Sudah membaik sekitar 50 persen, lalu minta kembali ke Kediri,” ungkap Bowo.
Keluhan atas kondisi sakitnya, sering diceritakan Naryo kepada Adi, 57, tetangganya. Petugas juga mendapatkan informasi bahwa Adi terus memberikan motivasi kepada petani itu agar tidak menyerah dalam kehidupan.
Bowo mengatakan, kali terakhir Adi dan Naryo berkomunikasi pada Kamis (23/6) malam. Adi sempat mengingatkan, jika penyakitnya bisa sembuh. Naryo tidak boleh menyerah dengan keadaannya. Namun paginya, Adi yang biasanya melihat Naryo duduk di teras, tiba-tiba tidak ada.
Curiga, Adi mengecek tetangganya di dalam rumah. Alangkah kagetnya ia melihat tubuh Naryo menggantung di atap kamar. Panik, ia langsung melapor ke perangkat desa dan Polsek Pare. “Hari ini (kemarin) langsung dimakamkan Mas,” pungkas perwira polisi berpangkat tiga balok di pundaknya itu.
Bowo mengatakan bahwa saat pulang sekitar satu bulan, Naryo dibantu terus oleh tetangganya. Seperti diberi makan hingga diganti perban sakitnya. Sedangkan anak-anaknya di luar kota. Ada yang kerja di Batam, Surabaya, dan Malang. Editor : Anwar Bahar Basalamah