Cara UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Meraih Silver dalam STARS Internasional

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 10:47 WIB
UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Meraih Silver dalam Sustainability Tracking
UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Meraih Silver dalam Sustainability Tracking
TULUNGAGUNG, JP Radar Kediri – Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung berhasil meraih rating Silver dalam Sustainability Tracking, Assessment & Rating System (AASHE STARS) sejak 1 Oktober 2026. Penghargaan ini bukan sekadar jumlah pohon yang ditanam, luas ruang terbuka hijau, atau tampilan fisik kampus yang semakin hijau. Di balik capaian tersebut terdapat proses membangun keberlanjutan sebagai bagian dari sistem akademik, riset, tata kelola, operasional, hingga keterlibatan sivitas akademika dan masyarakat.

Bagi Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Dr. H. Abd. Aziz, M.Pd.I. capaian tersebut merupakan hasil dari kerja bersama seluruh sivitas akademika. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga kampus yang telah ikut membangun budaya keberlanjutan.

“Alhamdulillah, selamat dan sukses kepada seluruh sivitas akademika UIN SATU Tulungagung atas capaian peringkat Silver dari STARS. Capaian ini membuktikan bahwa kampus kita mampu mengelola institusi secara terencana, terukur, akuntabel, serta berani menilai kinerjanya dengan standar internasional,” ujar Prof. Abd. Aziz.

STARS merupakan kerangka pelaporan mandiri yang transparan untuk membantu perguruan tinggi mengukur dan melaporkan kinerja keberlanjutan. Karena itu, penilaian tidak berhenti pada persoalan lingkungan fisik, tetapi mencakup berbagai dimensi kehidupan perguruan tinggi.

Baca Juga: Dosen UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Jadi Saksi Meringankan Kasus Minum Racun Sekeluarga di PN Kabupaten Kediri 

Keberlanjutan Masuk ke Ruang Kelas

Salah satu kekuatan UIN SATU terdapat pada sektor akademik. Dalam kategori Curriculum, UIN SATU memperoleh 34 dari maksimal 45 poin. Capaian tersebut antara lain berasal dari sustainability course offerings, program sarjana dan pascasarjana, serta applied learning.

Hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak ditempatkan semata sebagai program tambahan di luar kegiatan akademik. Isu lingkungan mulai diposisikan sebagai bagian dari proses pendidikan dan pembentukan cara berpikir mahasiswa.

Bagi perguruan tinggi keagamaan, pendekatan tersebut memiliki ruang pengembangan yang lebih luas karena isu ekologis dapat dipertemukan dengan nilai-nilai Islam. Lingkungan tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan sains dan kebijakan publik, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah fil ardhi.

Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan yang selama ini disampaikan Rektor UIN SATU dalam berbagai kegiatan ekoteologi.

“Manusia diberi mandat sebagai khalifah fil ardhi, yakni pemakmur dan penjaga bumi. Dalam perspektif tersebut, ekoteologi menjadi pendekatan penting untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dalam merawat lingkungan dan keberlanjutan hidup,” kata Prof. Abd. Aziz.

Baca Juga: Bank Jatim Cabang Syariah Kediri Tingkatkan Kerja Sama dengan UIN Satu Tulungagung.

Riset Menjadi Mesin Perubahan

Aspek lain yang menjadi kekuatan UIN SATU adalah penelitian. Dalam kategori Research, UIN SATU memperoleh poin yang baik. Pada komponen Sustainability Research, kampus bahkan memperoleh yang maksimal, sementara Center for Sustainability Research memperoleh poin maksimal. 

Capaian tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan telah memperoleh ruang dalam ekosistem penelitian kampus. Agenda lingkungan tidak berhenti pada kegiatan penghijauan, tetapi juga dikembangkan menjadi tema pengetahuan dan penelitian.

Arah tersebut sejalan dengan kebijakan riset UIN SATU. Rektor sebelumnya menekankan agar penelitian dan pengabdian kepada masyarakat diarahkan pada tema-tema strategis yang memiliki dampak, termasuk pengembangan ekoteologi dan ReliGreen. 

“Seluruh tema penelitian dan PkM harus selaras dengan Asta Protas Kementerian Agama. Penelitian kolaboratif perlu diarahkan untuk menghasilkan luaran yang aplikatif, termasuk pengembangan kurikulum ekoteologi dan Religreen yang berkelanjutan,” tegas Prof. Abd. Aziz. 

Air Menjadi Salah Satu Kekuatan

Pada sektor operasional, salah satu capaian menonjol UIN SATU terdapat pada pengelolaan air. Dalam kategori Water Use, UIN SATU memperoleh poin maksimal. Pengelolaan air menjadi bagian penting dalam konsep kampus berkelanjutan karena berkaitan langsung dengan konsumsi sumber daya dan perubahan perilaku pengguna fasilitas kampus.

Di lingkungan UIN SATU, isu tersebut kemudian dipertemukan dengan perspektif keagamaan. Penggunaan air secara bijak di toilet, tempat wudu, dan wastafel tidak hanya dipahami sebagai upaya menghemat sumber daya, tetapi juga sebagai bagian dari kesadaran bahwa air merupakan amanah.

Pendekatan tersebut memperlihatkan karakter keberlanjutan UIN SATU yang berusaha mempertemukan dimensi ekologis dengan spiritualitas Islam.

Dari Pohon hingga Perubahan Perilaku

Gerakan penghijauan tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan UIN SATU menuju kampus berkelanjutan. Namun, penghijauan tersebut ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas melalui ReliGreen – Sustainable Minds, Greener Futures.

Program ReliGreen dikembangkan sebagai gerakan keberlanjutan kampus yang menghubungkan lingkungan dengan pendidikan, penelitian, pengabdian, tata kelola, dan kehidupan sivitas akademika.

Rektor UIN SATU bahkan menegaskan bahwa aksi ekologis tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial.

“Jangan hanya menanam lalu ditinggal,” pesan Prof. Abd. Aziz dalam kegiatan penanaman pohon yang menjadi bagian dari gerakan ReliGreen. 
Menurutnya, penanaman pohon merupakan bagian dari hablun min al-'alam, yakni hubungan spiritual manusia dengan alam. Karena itu, kegiatan ekologis harus diikuti dengan perawatan dan keberlanjutan.

“Siapa pun yang mencintai lingkungan, akan didoakan oleh tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekitarnya,” ujar Prof. Abd. Aziz. 
Perspektif tersebut membuat gerakan ReliGreen tidak berhenti pada penghijauan fisik. Ia diarahkan menjadi gerakan kesadaran yang menghubungkan keberlanjutan dengan nilai keagamaan.

Keberlanjutan Tidak Berhenti di Lingkungan

Hal menarik lainnya dari sistem STARS adalah cakupan penilaiannya yang tidak hanya berkaitan dengan lingkungan alam.
Aspek sosial dan kelembagaan juga menjadi bagian dari penilaian. Dengan demikian, kampus berkelanjutan juga dituntut menjadi ruang pendidikan yang inklusif, sehat, adil, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Cara pandang tersebut sejalan dengan prinsip yang dikembangkan UIN SATU melalui gagasan SIP: Sustainable, Inclusive, Partnership.  Dalam salah satu kesempatan, Prof. Abd. Aziz menegaskan bahwa seluruh sivitas akademika memiliki tanggung jawab bersama dalam membangun kampus.
“Kita semua memiliki peran dan tanggung jawab membesarkan UIN SATU. Inilah kampus yang inklusif sekaligus partnership, sesuai dengan prinsip SIP,” pungkasnya.

Dengan demikian, keberlanjutan tidak hanya dipahami sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut bagaimana kampus membangun hubungan yang sehat antara institusi, warga kampus, masyarakat, dan berbagai mitra.

Enam Poin dari Inovasi

UIN SATU juga memperoleh poin bonus inovasi dalam penilaian STARS. Scorecard AASHE menunjukkan sejumlah praktik inovasi yang turut diperhitungkan dalam capaian tersebut. 

Hal ini memperlihatkan bahwa inovasi dalam keberlanjutan tidak selalu harus berbentuk teknologi canggih. Inovasi juga dapat hadir melalui cara kampus mengelola pengetahuan, mengembangkan penelitian, melibatkan masyarakat, membuka akses terhadap hasil penelitian, hingga mengembangkan mekanisme pengambilan keputusan.

Dari Green Campus Menuju Sustainable University

Bagi UIN SATU, capaian Silver AASHE STARS pada akhirnya bukan sekadar tentang mendapatkan sebuah rating internasional. Lebih jauh, proses tersebut menunjukkan adanya pergeseran cara pandang: dari green campus menuju sustainable university.

Green campus lebih mudah dilihat dari apa yang tampak secara fisik—pohon, taman, pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau, atau fasilitas hemat energi. Sementara sustainable university menuntut sesuatu yang lebih mendalam: keberlanjutan harus masuk ke dalam cara universitas mendidik mahasiswa, menghasilkan pengetahuan, mengambil keputusan, mengelola sumber daya, memperlakukan warga kampus, dan berhubungan dengan masyarakat.
Karena itu, Rektor UIN SATU berharap rating internasional tersebut tidak berhenti sebagai penghargaan.

“Saya berharap hasil penilaian ini dimanfaatkan sebagai bahan evaluasi dan perencanaan ke depan. Semoga kinerja keberlanjutan UIN SATU terus meningkat dan mampu menjadi percontohan yang baik bagi perguruan tinggi keagamaan Islam lainnya di Indonesia,” harap Prof. Abd. Aziz. 

Di titik inilah ReliGreen menemukan relevansinya. Gerakan tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan agenda lingkungan dengan identitas UIN SATU sebagai perguruan tinggi Islam.

Dengan demikian, rating Silver AASHE STARS dapat dibaca bukan semata sebagai pengakuan atas kampus yang semakin hijau, tetapi sebagai penanda bahwa keberlanjutan mulai dibangun sebagai ekosistem kelembagaan.

Pekerjaan berikutnya adalah memastikan ekosistem tersebut terus tumbuh. Silver bukan garis akhir, melainkan titik awal untuk memperbaiki data, memperkuat kebijakan, memperluas riset, meningkatkan partisipasi sivitas akademika, serta membawa praktik keberlanjutan UIN SATU semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

Sebab, kampus berkelanjutan pada akhirnya bukan hanya kampus yang hijau ketika dilihat dari udara, tetapi kampus yang menghasilkan manusia, pengetahuan, dan kebijakan yang membuat kehidupan di sekitarnya menjadi lebih berkelanjutan. (*)

Editor : Shinta Nurma Ababil
uin tulungagung UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung UIN