Direktur Jawa Pos Radar Kediri Beri Materi Jurnalistik ke Guru dan Siswa MTsN 2 Kediri

Hilda Nurmala Risani • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 12:26 WIB
BELAJAR JADI WARTAWAN: Direktur JP Radar Kediri Kurniawan Muhammad memberi materi jurnalistik di depan puluhan siswa MTsN 2 Kediri di Desa Kanigoro, Kras (24/9).  (Foto: Wahyu Adji/JPRK)
BELAJAR JADI WARTAWAN: Direktur JP Radar Kediri Kurniawan Muhammad memberi materi jurnalistik di depan puluhan siswa MTsN 2 Kediri di Desa Kanigoro, Kras (24/9). (Foto: Wahyu Adji/JPRK)

JP Radar Kediri-Sekolah tidak hanya menjadi tempat kegiatan belajar mengajar (KBM). Sekolah juga bisa menjadi ‘pabrik berita’. Yang kaya akan kisah kemanusiaan (human interest).

Hal itu disampaikan oleh Direktur Jawa Pos Radar Kediri Kurniawan Muhammad saat menjadi pemateri dalam pelatihan jurnalistik di MTsN 2 Kediri kemarin (24/9).

Di hadapan puluhan guru dan wakil siswa madrasah yang berada di Desa Kanigoro, Kecamatan Kras tersebut.

“Sekolah adalah pabrik berita. Banyak orang banyak kisah. Kalau dalam jurnalistik ada istilah human interest, berita yang bercerita tentang manusia,” ujar Kurniawan Muhammad, membuka sesi pemaparan.

Baca Juga: Siswa MAN 3 Kediri Antusias Ikuti Pelatihan Jurnalistik dan Public Speaking

pelatihan jurnalistik ini mengupas tuntas perbedaan mendasar antara dokumentasi dan jurnalistik. Jika dokumentasi hanya berfokus pada kegiatan seremonial seperti pelaksanaan upacara.  

Sementara jurnalistik hadir untuk menggali makna, dampak, serta menjawab pertanyaan krusial.

Misalnya mengapa sebuah peristiwa penting, apa dampaknya, dan siapa yang mendapat manfaat. Intinya, sebuah berita adalah sesuatu yang luar biasa dan bernilai kebaruan.

“Rumus rahasia menemukan berita super keren adalah melihat kegiatan serta menemukan news value dan human interest,” imbuhnya.

Baca Juga: Siswa SMAN 1 Pace Nganjuk Antusias Mengikuti Pelatihan Jurnalistik dan Digital Marketing

Dia pun mencontohkan kegiatan yang layak diberitakan. Itu adalah kegiatan demokrasi digital yang sudah diterapkan oleh MTsN 2 Kediri.

Kegiatan ini dinilai layak karena baru pertama kali dilakukan dan beda dari umumnya. Mengingat kegiatan pemilihan ketua OSIS melalui e-voting ini tidak semua sekolah bisa menerapkan. 

Tak lupa pria yang akrab disapa Kum itu juga menjelaskan terkait pemilihan angle berita. Yang seharusnya satu rilis berita hanya untuk satu angle cerita.

“Juga perlu untuk menghindari kalimat pujian berlebihan dan berfokus pada data konkret bermakna,” tandasnya.

Puluhan guru dan siswa antusias mendengarkan materi yang dijelaskan. Mereka juga aktif berdiskusi terkait cara menghadapi oknum wartawan atau LSM yang kerap datang dengan embel-embel permintaan uang.

Baca Juga: MTsN 7 Kediri Gelar Pelatihan Jurnalistik, Diikuti Puluhan Siswa Anggota Tim Jurnalistik Jourju

“Kalau sesuai kode etik jurnalistik itu seperti apa pak cara kerja wartawan,” tanya Kepala Tata Usaha (KTU) MTsN 2 Kediri Moh. Ikhwan.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Kum menegaskan bahwa cara menghadapinya adalah dengan memahami UU Pers, UU ITE, dan Kode Etik Jurnalistik.

"Semua sudah diatur. Apa yang boleh dilakukan, tidak boleh dilakukan, dan apa yang perlu dilakukan ketika menemui permasalahan. Di UU Pers ada sanksinya, dan UU ITE bisa digunakan untuk menjerat homeless media," jelasnya.

Baca Juga: Siswa MTsN 6 Kediri Antusias Mengikuti Pelatihan Jurnalistik bersama Jawa Pos Radar Kediri

Guru maupun siswa harus aktif memverifikasi keabsahan informasi dan mampu membedakan berita hoaks atau fake news.

“Tak kalah penting membangun portofolio sekolah melalui media sosial itu sangat penting. Ketika ada pemberitaan jelek bisa tertutup dengan sendirinya,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu peserta Qutrunnada dari kelas 7E mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Itu karena di tengah perkembangan teknologi, pemberitaan di media sosial juga sangat massif.

“Saya jadi bisa membedakan mana berita yang benar dan bohong,” pungkasnya dengan melempar senyum. 

Editor : Ayu Ismawati
Sumber : Radar Kediri
MTSN 2 KEDIRI UU PERS jawa pos radar kediri kurniawan muhammad pelatihan jurnalistik