Dari Belajar di Rumah hingga Kelas Darurat, Begini Pendidikan Berjalan Pasca Gempa Flores

Mifta dwi saifin nisa • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 20:00 WIB
Kondisi bangunan SMPN Satap Wae Nunung, Kecamatan Lamba Leda Timur, yang terdampak gempa Flores. Kerusakan sekolah membuat kegiatan pembelajaran perlu disesuaikan dengan kondisi dan keamanan bangunan. (Sumber: Kemendikdasmen)
Kondisi bangunan SMPN Satap Wae Nunung, Kecamatan Lamba Leda Timur, yang terdampak gempa Flores. Kerusakan sekolah membuat kegiatan pembelajaran perlu disesuaikan dengan kondisi dan keamanan bangunan. (Sumber: Kemendikdasmen)

JP Radar Kediri - Gempa yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak 15 Agustus 2026 turut berdampak pada kegiatan pendidikan. Sebanyak 1.378 satuan pendidikan tercatat terdampak dengan sekitar 116.324 murid mengalami perubahan dalam kegiatan belajar.

Meski berada dalam kondisi darurat, kegiatan pembelajaran tetap diupayakan berjalan dengan menyesuaikan keamanan sekolah dan kondisi masing-masing wilayah. Sebagian murid belajar dari rumah maupun tempat pengungsian karena bangunan sekolah belum dapat digunakan secara normal.

Berdasarkan laporan Kemendikdasmen pada 22 Agustus 2026, sebanyak 923 satuan pendidikan menerapkan belajar dari rumah. Sementara itu, 171 sekolah menjalankan pembelajaran secara daring.

Baca Juga: DigiSkillBadge Resmi Diluncurkan, Kompetensi Siswa SMK Bisa Terekam dalam Portofolio Digital

Kondisi setiap sekolah tidak sama. Sebanyak 35 sekolah menggunakan kelas darurat agar kegiatan belajar tetap dapat berlangsung, sedangkan 30 sekolah masih menjalankan pembelajaran tatap muka dengan mempertimbangkan keamanan bangunan dan lingkungan sekitar.

Berbagai metode pembelajaran tersebut diterapkan dengan mempertimbangkan keselamatan murid dan guru. Gempa susulan yang masih terjadi juga membuat kondisi bangunan sekolah perlu terus diperhatikan sebelum kembali digunakan.

Selain menjaga kegiatan belajar tetap berjalan, pemerintah mulai menyiapkan pemulihan fasilitas pendidikan. Sekolah yang terdampak gempa di Flores akan diprioritaskan dalam program revitalisasi setelah proses pendataan dan penilaian tingkat kerusakan selesai dilakukan.

Kemendikdasmen juga menyalurkan bantuan awal untuk sekolah dan masyarakat terdampak di Kabupaten Nagekeo dan Ngada. Bantuan tersebut meliputi 9.400 buku nonteks, 495 school kit, 30 family kit, 1.000 kaos, serta 1.650 paket makanan.

Baca Juga: Gudang Rosok Banjaran Dilalap Jago Merah, Ini Penyebabnya!

Selain bantuan tersebut, pemerintah menyiapkan voucher dengan nilai total Rp860 juta untuk 61 sekolah. Bantuan ini digunakan untuk mendukung kebutuhan pendidikan selama proses pemulihan berlangsung.

Pendataan kondisi sekolah masih terus dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan serta kebutuhan di setiap wilayah. Hasil pendataan nantinya menjadi salah satu dasar dalam menentukan penanganan dan revitalisasi sekolah terdampak.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Jadi Rp2.750.000 per gram, Cek Rinciannya

Belajar dari rumah, pembelajaran daring, hingga penggunaan kelas darurat menjadi pilihan sementara selama bangunan sekolah belum dapat digunakan secara normal. Cara belajar tersebut disesuaikan dengan kondisi dan keamanan masing-masing wilayah.

Pemulihan fasilitas pendidikan tetap diperlukan agar murid dapat kembali belajar dalam lingkungan yang aman dan nyaman. Hingga proses tersebut selesai, kegiatan pembelajaran dapat terus disesuaikan agar pendidikan tetap berjalan di tengah kondisi pascabencana.

Editor : Shinta Nurma Ababil
gempa pendididkan sekolah ntt