JP Radar Kediri – Tugas kelompok menjadi salah satu aktivitas yang sering ditemui siswa di sekolah. Namun, apakah setiap tugas yang dikerjakan bersama otomatis dapat disebut sebagai collaborative learning?
Belum tentu. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa tidak hanya membagi pekerjaan, tetapi juga berinteraksi, bertukar ide, dan bertanggung jawab bersama untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Baca Juga: Digital Distraction, Ketika Notifikasi Mengganggu Fokus Belajar
Bukan Sekadar Bagi-Bagi Tugas
Misalnya, dalam sebuah kelompok terdapat lima siswa. Satu orang mencari materi, satu membuat desain, satu menulis, sementara lainnya mengerjakan bagian masing-masing. Setelah selesai, semua bagian digabung menjadi satu tugas.
Cara tersebut memang membuat pekerjaan lebih terbagi. Namun, belum tentu menunjukkan proses kolaborasi.
Dalam collaborative learning, anggota kelompok perlu saling berinteraksi dan membangun pemahaman bersama. Setiap siswa tetap memiliki tanggung jawab terhadap proses dan hasil pekerjaan kelompok.
Baca Juga: Bocoran Jadwal Seleksi CPNS 2026, Siapkan Berkas Ini dan Daftar Awal Tahun
Ada Tujuan yang Sama
Kolaborasi membutuhkan tujuan bersama yang jelas. Setiap anggota perlu memahami apa yang ingin dicapai dan bagaimana kontribusinya mendukung tujuan tersebut.
Karena itu, pembagian tugas sebaiknya tidak membuat anggota bekerja secara terpisah sepenuhnya. Diskusi, pemberian masukan, dan pengambilan keputusan bersama tetap menjadi bagian penting dalam prosesnya.
Setiap Anggota Tetap Bertanggung Jawab
Kerja kelompok juga perlu menghindari kondisi ketika hanya satu atau dua siswa yang mengerjakan sebagian besar tugas.
Dalam pembelajaran kolaboratif, setiap anggota memiliki tanggung jawab terhadap proses belajar dan hasil kelompok. Siswa tidak hanya dituntut menyelesaikan bagian masing-masing, tetapi juga memahami kontribusi anggota lain dan terlibat dalam penyelesaian masalah bersama.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 19 Agustus 2026 Anjlok Rp50.000, Buyback Turut Melemah
Bagaimana Membuatnya Lebih Efektif?
Guru dapat merancang tugas yang memang membutuhkan interaksi antarsiswa, bukan sekadar pekerjaan yang bisa dikerjakan sendiri-sendiri lalu digabung.
Misalnya, kelompok diminta menganalisis sebuah masalah dan menyusun solusi. Setiap siswa dapat mencari informasi atau memberikan sudut pandang berbeda, kemudian kelompok mendiskusikan temuan tersebut sebelum menentukan solusi bersama.
Dengan cara ini, proses berdiskusi, memberikan alasan, mendengarkan pendapat, dan mengambil keputusan menjadi bagian dari pembelajaran.
Baca Juga: Nilai Saja Tidak Cukup, Kenapa Feedback Penting dalam Pembelajaran?
Pada akhirnya, tugas kelompok yang efektif bukan hanya tentang berapa banyak pekerjaan yang dapat dibagi, tetapi tentang bagaimana siswa belajar bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.
Karena bekerja bersama belum tentu berkolaborasi. Kolaborasi terjadi ketika setiap anggota benar-benar terlibat dalam proses belajar bersama.
Editor : Mahfud