JP Radar Kediri – Belajar menjelang ujian dalam waktu singkat atau cramming masih menjadi salah satu pola belajar yang dikenal di kalangan siswa.
Materi dipelajari sekaligus dalam satu sesi panjang dengan harapan dapat diingat saat ujian. Namun, ada strategi yang menyebarkan proses belajar ke beberapa waktu, yaitu spaced practice atau distributed practice.
Spaced practice merupakan strategi belajar dengan memberikan jeda di antara sesi-sesi belajar, sehingga materi tidak dipelajari sekaligus dalam satu waktu.
Berbeda dengan massed practice atau cramming, strategi ini mengatur pertemuan siswa dengan materi dalam beberapa sesi.
Baca Juga: Sekolah Masih Kekurangan Guru, Pemerataan Tenaga Pendidik Jadi Tantangan
Mengapa Belajar Diberi Jeda?
Ketika materi dipelajari dalam satu sesi panjang, siswa dapat merasa lebih lancar mengingat informasi dalam waktu dekat. Namun, kelancaran tersebut belum tentu menunjukkan bahwa informasi akan bertahan lama dalam ingatan.
Dalam spaced practice, materi dipelajari kembali setelah adanya jeda. Ketika kembali berhadapan dengan materi, siswa perlu mengingat kembali apa yang telah dipelajari sebelumnya. Pengulangan yang dilakukan secara berkala ini dapat membantu mempertahankan informasi lebih lama.
Baca Juga: Kriteria Masyarakat yang Dilarang Beli Pertalite, Dilihat dari Desil hingga Gaji
Sebuah meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 menyaring lebih dari 3.000 artikel dan memasukkan 22 laporan dengan 31 ukuran efek serta lebih dari 3.000 peserta dalam analisis.
Hasilnya menunjukkan efek sedang yang mendukung distributed practice dibandingkan massed practice dalam pembelajaran di kelas, dengan ukuran efek d = 0,54.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penyebaran sesi belajar dapat memberikan manfaat dibandingkan pembelajaran yang dipadatkan dalam satu waktu. Namun, hasil belajar tetap dapat dipengaruhi oleh materi, kondisi pembelajaran, dan karakteristik peserta didik.
Bukan Berarti Belajar Lebih Sedikit
Istilah “belajar sedikit” dalam spaced practice tidak berarti siswa harus mengurangi jumlah materi atau waktu belajar secara keseluruhan.
Yang diubah adalah cara membagi waktu belajar. Misalnya, seorang siswa memiliki waktu belajar tiga jam untuk satu materi. Dalam pola cramming, tiga jam tersebut dapat digunakan sekaligus dalam satu malam.
Dengan spaced practice, waktu tersebut dapat dibagi menjadi beberapa sesi, misalnya satu jam pada Senin, satu jam pada Rabu, dan satu jam pada Jumat.
Dengan total waktu yang sama, siswa memiliki beberapa kesempatan untuk kembali mempelajari materi setelah jeda.
Karena itu, inti spaced practice bukan sekadar belajar dalam durasi pendek, melainkan menyebarkan proses belajar agar tidak terkonsentrasi dalam satu waktu.
Baca Juga: Belajar Lebih Dalam, Bukan Lebih Lama: Apa Itu Deep Learning?
Bisa Digabung dengan Retrieval Practice
Spaced practice juga dapat dikombinasikan dengan strategi lain, salah satunya retrieval practice, yaitu mencoba mengingat kembali informasi yang sudah dipelajari tanpa langsung melihat jawabannya.
Contohnya, setelah mempelajari materi pada Senin, siswa dapat menutup buku dan mencoba menjelaskan kembali konsep yang masih diingat. Beberapa hari kemudian, materi tersebut ditinjau kembali dengan menjawab pertanyaan atau mengerjakan latihan.
Tinjauan sistematis pada pendidikan profesi kesehatan terhadap 63 eksperimen menemukan 43 penelitian menunjukkan manfaat signifikan dari distributed practice dan/atau retrieval practice dibandingkan kelompok pembanding, meskipun strategi dan konteks pembelajarannya beragam.
Kombinasi keduanya dapat membuat siswa tidak hanya kembali melihat materi, tetapi juga berlatih mengambil informasi dari ingatan.
Bagaimana Menerapkannya?
Spaced practice tidak membutuhkan aplikasi khusus. Siswa dapat memulainya dengan membagi materi menjadi beberapa sesi belajar.
Misalnya, materi yang akan dipelajari selama satu minggu dapat dibagi menjadi beberapa tahap.
Setelah mempelajari topik baru, siswa dapat kembali meninjaunya beberapa hari kemudian, lalu mengulanginya lagi pada waktu berikutnya.
Jadwal tersebut tidak harus sama untuk semua mata pelajaran. Jarak antarsesi dapat disesuaikan dengan jumlah materi, tingkat kesulitan, dan waktu yang tersedia sebelum evaluasi.
Yang terpenting, siswa tidak menunggu hingga sehari sebelum ujian untuk mempelajari seluruh materi sekaligus.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini 13 Agustus 2026 Naik Rp20.000, Cek Rincian per Gramnya
Bukan Berarti Belajar Menjelang Ujian Tidak Berguna
Spaced practice bukan berarti belajar menjelang ujian sama sekali tidak berguna. Ketika ujian sudah dekat, meninjau kembali materi tetap dapat dilakukan.
Namun, strategi belajar yang tersebar memberi lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi kembali dengan materi sejak jauh-jauh hari.
Penelitian mengenai distributed practice pada pembelajaran di kelas menunjukkan bahwa manfaatnya dapat lebih terlihat ketika terdapat jarak waktu yang lebih panjang antara proses belajar dan pengukuran hasil belajar.
Dengan demikian, penyebaran sesi belajar menjadi relevan ketika tujuan belajar bukan hanya mengingat materi dalam waktu singkat, tetapi juga mempertahankannya lebih lama.
Pada akhirnya, spaced practice mengubah pola belajar dari “belajar sebanyak mungkin dalam satu malam” menjadi “memberi kesempatan untuk kembali mempelajari materi dari waktu ke waktu.”
Belajar tidak harus selalu dilakukan dalam sesi panjang. Dengan perencanaan yang teratur, materi dapat dipelajari secara bertahap sehingga proses mengingat dan memahami berlangsung lebih konsisten.
Editor : Mahfud