Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mendorong peningkatan budaya sains di masyarakat sebagai langkah untuk mendukung pelestarian sejarah, budaya, dan tradisi lokal di Indonesia.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdikbudristek Ahmad Najib Burhani mengatakan, sejarah membuktikan bahwa sains bukanlah sesuatu yang asing bagi masyarakat Indonesia.
Pengetahuan di Nusantara tumbuh karena pengalaman masyarakat dalam berbagai bidang, seperti berlayar, bertani, berobat, mempelajari bintang, teknologi laut, dan mengurus lingkungan hidup.
Menurut Najib, pengetahuan itu adalah bagian dari proses perkembangan peradaban Nusantara yang harus terus ditingkatkan agar bisa menghadapi tantangan di masa depan.
Membaca kembali sejarah juga penting untuk membangun budaya sains sekaligus meningkatkan rasa percaya diri bangsa.
Baca Juga: Ajak Ribuan Bocah TK Senam Bareng Mbak Wali, Ini Pesan Yang Perlu Diperhatikan!
Menurutnya, pengetahuan yang sudah berkembang di masyarakat perlu dijaga dan dikaji ulang, lalu disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang terjadi saat ini.
"Sains tidak boleh hanya berkembang di dalam laboratorium atau kampus, tetapi harus masuk ke dalam kehidupan sehari-hari, menjadi dasar dalam mengambil keputusan, serta mendorong munculnya inovasi yang memberi manfaat bagi masyarakat," katanya.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Yudi Darma mengatakan, memperkuat budaya sains tidak hanya tentang tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sains, tapi juga tentang peran aktif publik dalam berbagai kegiatan dan pembicaraan ilmiah.
Berdasarkan survei nasional tentang persepsi dan minat terhadap saintek 2025 yang dilakukan bersama LSI kepada 1.203 responden, sebanyak 87,9 persen masyarakat menyatakan percaya pada sains, sedangkan 81,1 persen percaya kepada ilmuwan dan peneliti.
Namun, tingkat kepercayaan yang tinggi tersebut belum diikuti oleh partisipasi masyarakat. Sebanyak 88,2 persen responden tidak berpartisipasi dalam kegiatan sains dan teknologi, 74,1 persen mengatakan tidak pernah membicarakan hal-hal terkait sains dan teknologi, sedangkan 87,3 persen jarang atau bahkan tidak pernah membaca jurnal atau buku ilmiah dalam setahun terakhir.
Yudi mengatakan, situasi ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap sains sudah mulai berkembang.
Meski begitu, masih dibutuhkan ruang yang lebih luas agar masyarakat bisa berdiskusi, berinteraksi dengan proses ilmiah, serta memahami bagaimana pengetahuan dibuat dan diuji.
Baca Juga: Sound Horeg dan Euforia Perayaan Kemerdekaan
Oleh karena itu, menyebarluaskan sains tidak cukup hanya dengan memberikan hasil penelitian saja. Ruang publik, museum, sejarah, dan pengalaman masyarakat bisa digunakan sebagai cara untuk mendekatkan cara berpikir ilmiah kepada masyarakat.
Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana juga mengingatkan pentingnya memahami sejarah sains dengan lebih terbuka dan menerima berbagai sumber pengetahuan yang ada.
Menurut Bonnie, pengetahuan yang dimiliki masyarakat lokal tidak perlu bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern. Pengetahuan tersebut bisa dibawa, dianalisis dengan kritis, dan ditingkatkan melalui ilmu pengetahuan.
Baca Juga: Kisah Honda PCX 125 CBU: Sang Pionir yang Mengubah Selera Pasarhonda pcx
Ia menjelaskan gagasan tentang pluralitas pengetahuan, yaitu pemahaman bahwa pengetahuan bisa tumbuh dari berbagai pengalaman, budaya, dan latar belakang masyarakat yang berbeda.
Pendekatan ini tidak berarti menolak cara berpikir ilmiah yang rasional, tetapi mencegah ilmu pengetahuan hanya mengandalkan satu perspektif yang mungkin mengabaikan pengetahuan yang sudah berkembang lama di masyarakat.
Bonnie menganggap pengetahuan tradisional bisa menjadi sumber yang sangat berharga bagi penelitian selanjutnya. Sains bisa digunakan untuk menguji, memastikan kebenarannya, menjelaskan, dan memperluas pengetahuan lokal agar lebih mudah dipahami oleh banyak orang serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Baca Juga: Tarif Listrik PLN per kWh Berlaku Hingga Akhir Agustus 2026, Warga Kediri Bisa Cek untuk 13 Golongan
Penulis: Isna Febriani Nur Habibah
Universitas Negeri Surabaya
Editor : Shinta Nurma Ababil