JP Radar Kediri - Pembelajaran di kelas terkadang identik dengan guru menjelaskan materi, kemudian peserta didik mengerjakan tugas setelah pembelajaran selesai. Namun, pola tersebut dapat dibalik melalui pendekatan yang dikenal sebagai flipped classroom atau bisa disebut sebagai kelas terbalik.
Dalam flipped classroom, penyampaian materi dasar dipindahkan dari ruang kelas ke kegiatan belajar mandiri. Peserta didik dapat mempelajari materi terlebih dahulu sebelum pertemuan, sedangkan waktu di kelas digunakan untuk melakukan kegiatan yang lebih aktif dan mendalam..
Apa Itu Flipped Classroom?
Secara sederhana, flipped classroom merupakan model pembelajaran yang membalik sebagian pola belajar konvensional. Materi dasar dipelajari lebih dahulu oleh peserta didik sebelum masuk kelas.
Bahan yang dipelajari dapat berupa modul, bacaan, video, audio, presentasi, maupun media pembelajaran lain yang telah disiapkan sebelumnya.
Setelah memiliki pemahaman awal, peserta didik kemudian menggunakan waktu di kelas untuk berdiskusi, mengerjakan latihan, menyelesaikan masalah, melakukan praktik, atau bertanya mengenai bagian materi yang masih belum dipahami.
Baca Juga: KPK Panggil Ulang Rudy Tanoe sebagai Saksi Kasus Korupsi Bansos Beras Kemensos
Bagaimana Proses Belajarnya?
Dalam penerapannya, pembelajaran dapat dibagi menjadi kegiatan sebelum dan saat berada di kelas.
Sebelum pertemuan, peserta didik mempelajari materi awal secara mandiri. Mereka dapat membaca bahan yang diberikan, menonton penjelasan, mencatat poin penting, maupun menyiapkan pertanyaan dari materi tersebut.
Ketika masuk kelas, pembelajaran tidak lagi hanya berpusat pada penjelasan guru. Waktu pertemuan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang membutuhkan interaksi lebih banyak, seperti diskusi kelompok, latihan, studi kasus, maupun pemecahan masalah.
Dengan pola tersebut, peserta didik memiliki kesempatan untuk mencoba menggunakan pengetahuan yang sudah dipelajari sebelumnya.
Baca Juga: Cara Cek Desil 1-10 Kemensos 2026, Berikut Lengkap Link dan Dokumennya
Berbeda dengan Pembelajaran Konvensional
Pada pembelajaran konvensional, penjelasan materi biasanya banyak dilakukan ketika guru dan peserta didik berada di dalam kelas. Setelah itu, latihan atau tugas dapat dikerjakan secara mandiri.
Dalam flipped classroom, sebagian pola tersebut dibalik. Pemahaman awal terhadap materi dilakukan sebelum kelas, sedangkan penerapan dan pendalaman konsep lebih banyak dilakukan bersama guru.
Namun, hal tersebut bukan berarti guru tidak lagi memberikan penjelasan. Guru tetap dapat memberikan penguatan atau penjelasan tambahan ketika peserta didik mengalami kesulitan.
Tidak Harus Menggunakan Video
Flipped classroom sering dikaitkan dengan penggunaan video pembelajaran. Meski demikian, video bukan satu-satunya media yang dapat digunakan.
Guru dapat menggunakan bacaan, modul digital, infografis, audio, maupun bahan lain sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tujuan pembelajaran.
Baca Juga: Mengenal Literasi Bahasa Asing untuk Generasi Muda, Bukan Sekadar Bisa Berbicara
Dengan demikian, teknologi bukan menjadi tujuan utama dari flipped classroom. Hal yang lebih penting adalah bagaimana bahan sebelum kelas dan aktivitas saat pertemuan saling mendukung proses belajar.
Peran Guru Tetap Penting
Dalam model ini, peran guru tidak hilang. Guru tetap memiliki tanggung jawab dalam merancang pembelajaran, memilih bahan belajar, serta menentukan aktivitas yang sesuai.
Ketika berada di kelas, guru dapat lebih banyak berperan sebagai fasilitator. Peserta didik yang mengalami kesulitan dapat memperoleh pendampingan secara langsung saat mencoba menerapkan materi.
Guru juga dapat mengamati sejauh mana pemahaman peserta didik melalui diskusi, latihan, maupun kegiatan kelompok yang dilakukan selama pembelajaran.
Memberi Ruang untuk Belajar Mandiri
Salah satu hal yang ditawarkan flipped classroom adalah kesempatan bagi peserta didik untuk mempelajari materi awal sesuai dengan kecepatan belajarnya.
Baca Juga: Belajar Sambil Bermain, Benarkah Efektif? Mengenal Game-Based Learning
Materi yang sudah tersedia dapat dipelajari kembali ketika diperlukan. Peserta didik juga mempunyai kesempatan mengenali bagian yang belum dipahami sebelum membahasnya bersama guru.
Namun, pola tersebut juga membutuhkan kesiapan dari peserta didik. Mereka perlu memiliki kebiasaan untuk mempelajari bahan sebelum kelas agar kegiatan saat pertemuan dapat berjalan sesuai rencana.
Tetap Memiliki Tantangan
Penerapan flipped classroom tidak selalu dapat dilakukan dengan cara yang sama pada setiap kelas.
Guru perlu mempertimbangkan kesiapan peserta didik, karakteristik materi, ketersediaan bahan belajar, hingga akses terhadap perangkat apabila menggunakan media digital.
Baca Juga: Persedikab dan Inter Kediri Susun Ulang Program Latihan
Jika materi sebelum kelas tidak dipelajari, peserta didik dapat mengalami kesulitan ketika mengikuti kegiatan lanjutan. Karena itu, guru perlu merancang aktivitas yang membantu memastikan peserta didik tetap terlibat dalam proses pembelajaran.
Pada akhirnya, flipped classroom bukan sekadar memindahkan penjelasan guru ke video yang ditonton di rumah. Model ini mengatur kembali waktu belajar agar peserta didik dapat memperoleh pemahaman awal secara mandiri dan menggunakan waktu bersama guru untuk berdiskusi, mencoba, serta memperdalam materi.
Editor : Mahfud