AI Makin Dekat dengan Dunia Pendidikan, Siswa Perlu Dibekali Etika dan Kemampuan Berpikir Kritis

Isna Febriani Nur Habibah • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 11:30 WIB
Teknologi Chipset AI (freepik)
Teknologi Chipset AI (freepik)

JP Radar Kediri – Pemanfaatan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan terus berkembang.

Teknologi tersebut mulai digunakan untuk membantu siswa mencari informasi, memahami materi, menyelesaikan tugas, hingga menghasilkan berbagai konten pembelajaran.

Di balik manfaat tersebut, penggunaan AI juga menghadirkan tantangan baru. Siswa tidak hanya perlu memiliki kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga harus memahami cara menggunakannya secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.

Baca Juga: RUU Sisdiknas Baru Tekankan Kesetaraan Sekolah, Kampus, hingga Pesantren

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bersama Polri bahkan memperkuat edukasi AI bagi pelajar melalui Program Paham AI.

Program tersebut disiapkan sebagai langkah preventif untuk menghadapi berbagai risiko perkembangan teknologi, mulai dari deepfake, disinformasi, kejahatan siber, pelanggaran privasi, hingga penyalahgunaan AI.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan peningkatan kompetensi digital tidak cukup hanya berfokus pada kemampuan menggunakan teknologi.

Baca Juga: Inter Kediri Mengungsi ke Lapangan Ngronggo, FC Pare Mundur Imbas Ada Biaya Gotong Royong

Menurutnya, karakter digital juga diperlukan agar murid mampu memanfaatkan AI secara bijaksana.

"Membangun karakter digital agar murid mampu memanfaatkan AI secara bijaksana juga tak kalah penting agar kehadiran AI bisa bermanfaat secara optimal," ujar Tatang dalam keterangan Kemendikdasmen, Juli 2026.

Melalui Program Paham AI, personel dari 12 Kepolisian Daerah (Polda) akan dilatih menjadi trainer untuk memberikan edukasi kepada murid SMA, SMK, dan sederajat di wilayah masing-masing.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa literasi AI mulai dipandang sebagai bagian penting dari kesiapan siswa menghadapi perkembangan teknologi.

AI Bukan Sekadar Alat untuk Mengerjakan Tugas

Penggunaan AI oleh siswa juga menjadi perhatian dalam penelitian terbaru yang diterbitkan Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, pada Juni 2026.

Penelitian berjudul Artificial Intelligence Use Among Generation Z Students and Its Impact on Academic Performance and Learning Behavior melibatkan mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan menggunakan pendekatan metode campuran.

Hasil penelitian menunjukkan AI memberikan manfaat terhadap performa tugas, produktivitas akademik, serta kepercayaan diri mahasiswa dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.

Baca Juga: 11 Fitur Eksklusif Instagram Plus, dari Story Tahan 48 Jam sampai Mode Anonim

Namun, penggunaan AI secara intensif juga dikaitkan dengan perubahan perilaku belajar. Peneliti menemukan adanya potensi berkurangnya keterlibatan dalam proses berpikir reflektif, berpikir kritis, dan pembelajaran kolaboratif.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan penggunaan AI dalam pendidikan bukan sekadar apakah siswa boleh atau tidak menggunakan teknologi tersebut. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana AI digunakan agar tetap mendukung proses belajar.

AI dapat digunakan untuk membantu siswa memahami materi atau mencari alternatif penyelesaian masalah. Namun, proses memahami, memeriksa, dan mengambil keputusan tetap perlu dilakukan oleh siswa.

Etika AI Sudah Masuk Pedoman Pendidikan

Pemerintah telah memiliki dasar kebijakan untuk mengarahkan penggunaan AI di lingkungan pendidikan.

Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 127/P/2025 tentang Pedoman Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial pada pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah mengatur bahwa pembelajaran koding dan AI dapat diterapkan sebagai mata pelajaran pilihan maupun diintegrasikan dengan mata pelajaran lain.

Dalam pedoman tersebut, materi etika kecerdasan artifisial bahkan dapat diintegrasikan ke mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Pembelajaran AI juga diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan pemecahan masalah.

Dengan demikian, pendidikan AI tidak diarahkan hanya untuk membuat siswa mampu mengoperasikan teknologi. Siswa juga diharapkan dapat memahami dampak dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Pedoman tersebut juga memberikan ruang bagi sekolah untuk menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi dan sumber daya masing-masing. Pembelajaran dapat dilakukan secara berbasis internet, menggunakan perangkat digital tanpa koneksi internet, maupun melalui aktivitas tanpa perangkat digital.

Baca Juga: Full Gaspol di Awal Agustus, MAXi Yamaha Day kembali Tebar Keseruan di Sumatera Selata

Kemampuan Memeriksa Jawaban AI Jadi Penting

Kemudahan mendapatkan jawaban melalui AI membuat kemampuan memeriksa informasi menjadi semakin penting.

Siswa perlu memahami bahwa jawaban yang dihasilkan AI tidak otomatis benar. Informasi tetap perlu dibandingkan dengan sumber lain, terutama ketika digunakan untuk tugas atau pengambilan keputusan.

Kebiasaan tersebut dapat diterapkan melalui kegiatan sederhana di kelas. Guru, misalnya, dapat meminta siswa membandingkan jawaban AI dengan buku, jurnal, situs lembaga resmi, atau sumber terpercaya lainnya.

Siswa kemudian dapat diminta menjelaskan bagian mana yang sesuai dengan sumber dan bagian mana yang perlu diperbaiki.

Cara tersebut membuat AI berfungsi sebagai alat bantu untuk belajar, bukan sebagai pengganti proses berpikir siswa.

Guru Juga Perlu Memiliki Kompetensi AI

Penggunaan AI di sekolah tidak hanya menuntut kesiapan siswa. Guru juga perlu memiliki pemahaman yang memadai mengenai teknologi tersebut.

UNESCO melalui AI Competency Framework for Teachers menempatkan etika AI, dasar dan penerapan AI, pedagogi berbasis AI, serta pengembangan profesional sebagai bagian dari kompetensi yang perlu dimiliki guru.

Sementara itu, AI Competency Framework for Students UNESCO menempatkan empat dimensi utama bagi siswa, yakni pola pikir berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta desain sistem AI.

Kerangka tersebut menekankan bahwa siswa perlu memiliki kemampuan untuk menilai penggunaan AI secara kritis dan bertanggung jawab.

Artinya, keberhasilan pemanfaatan AI dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak aplikasi yang dapat digunakan siswa. Yang lebih penting adalah kemampuan sekolah membangun lingkungan belajar yang membuat teknologi tetap berada dalam kendali manusia.

Perkembangan AI akan terus berlangsung dan semakin masuk ke berbagai bidang kehidupan. Karena itu, pendidikan memiliki peran penting untuk memastikan siswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami batas, risiko, dan tanggung jawab di balik penggunaannya.

Dengan bekal literasi AI, etika, dan kemampuan berpikir kritis, teknologi dapat ditempatkan sebagai alat pendukung pembelajaran tanpa menghilangkan peran siswa sebagai pengambil keputusan dalam proses belajar.

Editor : Mahfud
LiterasiDigital pendidikan ai