AI Mengubah Cara Masyarakat Mencari Informasi, Perpustakaan Mulai Sesuaikan Layanan

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 15:59 WIB
PDI KE-17: Para peserta dan penyelenggara Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 di Yogyakarta, 4–6 Agustus 2026.
PDI KE-17: Para peserta dan penyelenggara Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 di Yogyakarta, 4–6 Agustus 2026. (Web/UMY)

JP Radar Kediri – Perkembangan artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara masyarakat mencari dan menggunakan informasi. Saat ini, informasi bisa diperoleh dengan lebih cepat melalui berbagai layanan digital. Kondisi tersebut membuat perpustakaan perlu menyesuaikan layanan agar tetap sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Perubahan cara masyarakat dalam mencari dan menggunakan informasi menjadi salah satu topik utama pada Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 yang digelar pada 4–6 Agustus 2026 di Yogyakarta.

Baca Juga: Kesehatan Mental Guru Perlu Jadi Perhatian, UNESCO Dorong Dukungan yang Lebih Sistematis

Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Perpusnas, FPDI, dan UMY dengan membahas perubahan cara masyarakat mencari, memilih, dan menggunakan informasi di tengah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan.

Dalam kegiatan tersebut, salah satu hal yang dibahas adalah perubahan kebiasaan masyarakat dalam mencari dan menggunakan informasi. Perpusnas menilai perkembangan teknologi kecerdasan buatan membuat masyarakat kini bisa mendapatkan, mengolah, dan memakai informasi dengan cara yang lebih cepat dan mudah.

Baca Juga: Prediksi Skor Timnas Indonesia vs Singapura Nanti Malam, Harga Mati demi Lolos ke Semifinal Piala AFF 2026

Perpustakaan Tak Cukup Hanya Menyediakan Informasi

Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengatakan tantangan perpustakaan saat ini tidak lagi sebatas mengelola koleksi dan menyediakan akses terhadap informasi.

"Tantangan yang dihadapi perpustakaan saat ini bukan lagi sebatas mengelola koleksi dan menyediakan akses informasi, melainkan memastikan masyarakat mampu membedakan informasi yang benar dari informasi yang menyesatkan," katanya dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.

Baca Juga: BPJS Ketenagakerjaan Kediri Perkuat Sinergi dengan Perusahaan Strategis melalui Customer Relationship Management

Menurutnya, perpustakaan perlu menyediakan informasi yang dapat dipercaya sekaligus membantu masyarakat lebih teliti dalam menerima dan memeriksa informasi dari internet.

Perubahan ini juga membuat tugas pustakawan ikut berkembang. Pustakawan tidak hanya mengatur dan menyediakan buku atau bahan bacaan, tetapi juga membantu pengguna memastikan informasi yang ditemukan berasal dari sumber yang benar dan dapat dipercaya.

Perpusnas juga mengingatkan bahwa informasi dari AI tidak selalu tepat. Dalam beberapa kasus, AI dapat memberikan sumber atau artikel yang sebenarnya tidak ada. Karena itu, pengguna tetap perlu mengecek kembali sumber informasi sebelum menggunakannya.

Baca Juga: Pengumuman PPPK Sekolah Rakyat 2026: Begini Cara Cek dan Arti Kodenya!

Akses Perpustakaan Bergeser ke Digital

Perubahan cara masyarakat mencari informasi juga terlihat dari jumlah kunjungan ke Perpusnas.

Pada Januari hingga Maret 2026, Perpusnas mencatat sebanyak 3.409.741 kunjungan. Sebagian besar berasal dari layanan online, dengan rata-rata 37.338 kunjungan per hari atau sekitar 96,27 persen dari seluruh kunjungan.

Sementara itu, kunjungan langsung ke gedung Perpusnas rata-rata hanya 1.448 orang per hari atau sekitar 3,73 persen. Data ini menunjukkan bahwa masyarakat kini lebih sering menggunakan layanan perpustakaan melalui internet dibandingkan datang langsung ke gedung.

Penggunaan layanan membaca secara online juga terus meningkat. Aplikasi iPusnas memiliki sekitar 134.309 judul buku dengan 1.480.649 salinan digital. Sepanjang 2025, aplikasi ini juga mencatat 770.106 pengguna baru.

Baca Juga: Pelaku Penggelapan 8 Ponsel Pintar Divonis 2 Tahun Penjara 

Perkembangan teknologi semakin memudahkan masyarakat dalam mencari informasi. Jika sebelumnya pencarian dilakukan dengan memasukkan kata kunci, kini pengguna bisa mendapatkan penjelasan yang lebih luas dan menemukan informasi yang saling berkaitan dengan lebih cepat.

Perpustakaan Didorong Ikuti Perubahan

KPDI ke-17 menghasilkan lima saran untuk membantu perpustakaan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.

Salah satunya, perpustakaan perlu mengikuti perubahan kebiasaan masyarakat dalam mencari dan menggunakan informasi. Perpustakaan juga diharapkan menggunakan teknologi untuk membuat layanan menjadi lebih mudah dan tetap dapat digunakan oleh semua kalangan.

Baca Juga: Kesejahteraan Guru Meningkat, Pemerintah Singapura Resmi Naikkan Gaji Tenaga Pendidik

Dengan perubahan tersebut, perpustakaan tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan dan meminjam buku. Perpustakaan juga bisa menjadi tempat belajar yang membantu masyarakat memahami informasi, menggunakan teknologi dengan baik, serta mengecek apakah informasi yang didapat benar dan dapat dipercaya.

Oleh: Hendri Muhrozikin
Universitas Nusantara PGRI Kediri

Editor : Shinta Nurma Ababil
perpusnas KPDI ai kecerdasan buatan pustakawan