KABUPATEN, JP Radar Kediri–Festival Pelepasan Siswa Berbudaya 2026 yang diikuti ratusan sekolah, memasuki tahap final penjurian. Kemarin (14/7) tim juri melakukan rapat untuk memilih 10 sekolah yang terbaik.
Penjurian dilakukan dengan menggelar rapat secara tertutup. Tim dariDinas Pendidikan Kabupaten Kediri, eksternal, dan dari Jawa Pos Radar Kediri itu memilih 10 besar pemenang di jenjang PAUD dan TK, SD, dan SMP. Sebanyak 30 sekolah itu nantinya akan diundang untuk menghadiri final party pada 22 Juli.
Jauhar Yohanis, salah satu juri mengatakan, penilaian dilakukan dengansangat teliti. Sebelum tim juri melakukan rapat kemarin, sebelumnya merekasudah melihat langsung pelepasan siswa di tiap sekolah.
Di sana tim juri melakukan penilaian. Di antaranya untuk menentukanapakah pelepasan sudah berjalan sesuai juknis yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri.
“Penilaian kami lakukan langsung dengan mendatangi sekolah sekolahyang telah mendaftar. Kategori penilaian juga benar benar kami perhatikan.Harapannya agar acara pelepasan siswa ini menjadi suatu ajang yang mampuberdampak baik bagi siswa. Bukan sesuatu yang memberatkan.” ungkap priayang akrab disapa Hanis ini.
Untuk diketahui, Festival Pelepasan Siswa Berbudaya digelar untukmemberi ruang bagi sekolah-sekolah di Kabupaten Kediri. Yakni untukmenampilkan kreativitas dan nilai budaya dalam merayakan kelulusan secarasederhana dan penuh makna.
Dalam acara Festival Pelepasan Siswa Berbudaya 2026 ini dinaspendidikan juga menegaskan komitmennya dalam penuntasan angka anak tidaksekolah (ATS). Wawan Sarudi, juri dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kedirimengatakan, di tahun kedua festival mulai terlihat perbedaan yang sangat signifikan. Sekolah-sekolah juga lebih optimal lagi.
“Pada tahun ke dua ini antusias dan pelaksanaannya lebih besardibanding tahun lalu. Tiga jenjang yang ikut serta dalam rangkaian festival pelepasan ini juga sudah memenuhi kategori yang telah di tentukan. Sekolah-sekolah juga antusias mendukung program pemerintah penuntasan ATS” terangWawan.
Lebih jauh Wawan menegaskan, penjurian dilakukan dengan teknis yang sudah di tentukan panitia. Para juri menilai sejauh mana kreativitas guru dan siswa dalam mengemas pelepasan siswa. Termasuk cara mereka menuangkanide unik dan baru. Namun tetap kental dengan unsur budaya lokal.
Juri juga menilai seberapa besar dampak sosial dari acara yang digelar. Demikian pula komitmen mereka untuk membebaskan siswa dari pungutanyang memberatkan. (c1/ut)
Editor : Andhika Attar Anindita