JP Radar Kediri – Jumlah peserta didik Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi I Kabupaten Kediri ma sih berpotensi bertambah.
Meski Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) telah dimulai, proses penjangkauan calon siswa dari keluarga miskin masih terus berlangsung.
Berbeda dengan sekolah reguler, SR menggunakan sistem multi entry-multi exit. Sehingga peserta didik dapat bergabung meski tahun ajaran sudah berjalan.
Kepala SR Terintegrasi I Kabupaten Kediri Fadeli mengatakan, data jumlah siswa saat ini belum bersifat final. Sebab, selama MPLS hingga 31 Juli mendatang, Dinas Sosial bersama pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) masih melakukan penjangkauan terhadap anak-anak yang masuk kategori sasaran Sekolah Rakyat.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Mulai Difungsikan, Nindya Karya Tumbuhkan Harapan Cetak Generasi Unggul
“Pesertanya masih bergerak naik turun. Jangan disamakan dengan sekolah reguler karena di Sekolah Rakyat menggunakan sistem multi entry dan multi exit,” ujar Fadeli.
Dia menjelaskan, SR tidak membuka penerimaan peserta didik baru seperti sekolah pada umumnya.
Calon siswa tidak datang mendaftar ke sekolah, melainkan didatangi langsung oleh petugas berdasarkan data keluarga desil 1.
Setelah dilakukan verifikasi kondisi keluarga, anak kemudian ditawari untuk melanjutkan pendidikan di SR. Tanpa melalui proses seleksi.
Karena menggunakan mekanisme penjangkauan, siswa tetap dapat masuk meski MPLS telah berlangsung.
Selain masih membuka peluang penambahan siswa, pihak sekolah juga fokus membantu peserta didik beradaptasi dengan kehidupan berasrama. Menurut Fadeli, homesick menjadi hal yang wajar.
Terutama bagi anak-anak usia SD yang baru pertama kali berpisah dari orang tua.
Untuk mengatasinya, sekolah menerapkan pendampingan penuh.
Seluruh siswa dipastikan tidak memiliki waktu luang tanpa aktivitas. Setiap kegiatan juga selalu didampingi guru maupun tenaga kependidikan.
Selain itu, setiap guru diminta meluangkan waktu sedikitnya 30 menit setiap hari untuk membangun kedekatan dengan siswa secara personal.
“Kalau guru hanya mengajar lalu pulang, itu tidak akan jalan. Guru harus menjadi tempat anak-anak bercerita. Kami ingin mereka merasa nyaman meski jauh dari orang tua,” kata Fadeli.
Untuk diketahui, pada Kamis (16/7) lalu, juga dilakukan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Adapun Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kediri juga masih melakukan akumulasi hasil CKG.
“Saat ini hasilnya masih diolah. Nanti harus masuk ke web Kemenkes terlebih dahulu. Tapi secara menyeluruh pemeriksaan kebugaran dan CKG berlangsung lancar. Tidak ada kendala berarti,” jelas Kabid Kesmas Dinkes Kabupaten Kediri dr Ika Tjandra Kusuma. (*)
Editor : Mahfud
Sumber : Radar Kediri