JP Radar Kediri- Gong penutup Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMP negeri di Kota Kediri akan berlangsung besok (7/7).
Menyisakan satu jalur terakhir, yaitu jalur domisili umum.
Namun demikian, bisa dipastikan ribuan lulusan sekolah dasar (SD) harus ke SMP swasta.
Sebab, sisa kuota yang tersedia tidak ada separuh dari jumlah lulusan yang belum tertampung di sekolah negeri.
Jumlah sisa kursi yang tersedia di sembilan SMP negeri, hanya 916. Sedangkan jumlah lulusan SD yang belum tertampung masih di angka 1.954 anak.
Padahal, itu belum termasuk lulusan madrasah ibtidaiyah (MI) yang kemungkinan juga ikut bersaing berebut jatah.
“Betul, ini adalah jalur terakhir untuk SPMB SMP negeri. Tetapi masyarakat tidak perlu khawatir jika belum diterima di sekolah negeri. Karena masih ada banyak sekolah swasta kita yang menerima siswa baru,” ujar Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Dinas Pendidikan Kota Kediri Achmad Wartjiantono.
Tahun ini, jalur domisili dibedakan jadi dua. Pertama, yang sudah terisi adalah jalur domisili khusus. Siswa yang diterima ditentukan berdasarkan jarak.
Sedangkan jalur domisili umum yang mulai besok menggunakan patokan nilai.
Semua anak yang berdomisili di Kota Kediri bisa bersaing berebut kuota. Penyeleksinya adalah nilai rapor.
Tahun ini pagu sembilan SMP negeri di Kota Kediri mencapai 3.168 siswa. Dari jumlah itu Dinas pendidikan mengalokasikan 40 persennya untuk jalur domisili.
Baik jalur domisili khusus yang seleksinya sudah berakhir 4 Juli lalu dan domisili umum sebagai jalur terakhir.
Di jalur domisili khusus, sudah terisi 351 siswa.
Sementara, SPMB untuk SD dan taman kanak-kanak (TK) juga memasuki jalur domisili umum.
Bedanya, untuk TK dan SD tetap menggunakan usia dan skor domisili.
Bedanya lagi jika di jenjang SMP calon siswa bisa memilih paling banyak sembilan sekolah tidak demikian untuk kelompok SD. Maksimal hanya memiliki lima sekolah pilihan.
Namun demikian, pria yang akrab disapa Anton itu tetap mengimbau siswa bijaksana dalam memilih. Yaitu mempertimbangkan jarak rumah dengan sekolah, sebelum menentukan pilihan.
Berbeda dengan jenjang SMP yang rata-rata persaingannya ketat, di SD justru sebaliknya.
Keterisian pagu di beberapa lembaga masih di bawah rata-rata. Termasuk dari hasil pendaftaran jalur domisili khusus. Banyak lembaga SD yang hanya mendapat sedikit pendaftar.
“Dilihat dari jalur sebelumnya di domisili khusus, banyaknya pendaftar SD itu juga masih kurang merata di seluruh lembaga,” ungkap Anton. Dia menyebut beberapa SD hanya mendapat pendaftar kurang dari lima anak.
Hal itu juga agaknya dipengaruhi lembaga SD negeri yang relatif banyak. Total ada 111 lembaga SD negeri di Kota Kediri. Rata-rata daya tampungnya 28 anak.
Untuk itu, jenjang SD masih mengakomodasi pendaftar yang berasal dari domisili luar Kota Kediri.
“(Siswa luar kota mendaftar di SD negeri Kota Kediri) bisa. Tetapi nanti nilai domisilinya nol,” tandasnya. Sehingga siswa akan bersaing lebih keras dengan mengandalkan usia.
Sebelumnya diberitakan, pendaftar jalur domisili khusus di 9 SMP negeri di Kota Kediri mencapai 1.268 siswa.
Sedangkan yang diterima hanya sekitar 351 siswa. Artinya, ada 917 siswa yang terlempar dari jalur yang seleksinya berdasarkan jarak rumah itu.
Mereka harus mencoba mendaftar di jalur selanjutnya atau mendaftar di sekolah swasta. (ais/fud)
Berebut Jatah Terakhir SMP Negeri Kota Kediri:
Pagu SMPN Kota Kediri : 3.168 siswa
Alokasi Kuota Jalur Domisili 40 persen : 1.267 siswa
Sisa Kuota untuk Domisili Umum : 916 siswa
Lulusan SD yang Belum Dapat SMP : 1.954
Pendaftaran Domisili Umum : 7 – 8 Juli 2026
Pengumuman Hasil Seleksi : 10 Juli 2026
Editor : Andhika Attar Anindita