JP Radar Kediri- Ratusan calon siswa SMP negeri di Kota Kediri masih harus mencoba peruntungan di jalur terakhir. Yaitu domisili umum.
Pasalnya, di jalur domisili khusus yang hasil seleksinya diumumkan hari ini (4/7), ada lebih dari 900 siswa yang terlempar.
Kesempatan mereka berebut sisa kursi di 9 SMP negeri di Kota Kediri pun tinggal jalur domisili umum yang akan dibuka pendaftarannya pada 7 Juli nanti.
Data yang dihimpun koran ini, pendaftar domisili khusus di 9 SMP negeri di Kota Kediri mencapai 1.268 siswa. Sedangkan yang diterima hanya sekitar 351 siswa.
Artinya, ada 917 siswa yang harus mencoba mendaftar di jalur selanjutnya atau mendaftar di sekolah swasta.
Sedangkan untuk jenjang SD, total pendaftarnya mencapai 992 anak. Dengan jumlah yang diterima mencapai 929 anak.
“Jalur domisili khusus ini akan diumumkan besok (4/7) hasilnya. Setelahnya mulai mempersiapkan untuk domisili umum. Di jalur itu nanti, semua siswa punya kesempatan untuk memilih sekolah dimanapun dia inginkan,” ujar Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Dinas Pendidikan Kota Kediri Achmad Wartjiantono.
Berbeda dengan domisili khusus yang hanya bisa memilih satu pilihan sekolah.
Di jalur domisili umum nanti, calon siswa SMP bisa memilih maksimal 9 SMP.
Teknis seleksinya pun berbeda. Tidak menggunakan jarak rumah, melainkan murni nilai rapor.
“Tetapi kalau SD, tetap dasar seleksinya pada nilai domisili dan usianya,” ungkapnya.
Artinya, calon siswa SMP akan bertarung nilai tertinggi di tahap terakhir itu. Kuota yang tersisa juga hanya sekitar 900-an kursi di seluruh SMP negeri.
Dengan bisa memilih lebih dari satu pilihan sekolah, otomatis mekanisme seleksinya juga berjenjang. Sesuai urutan prioritas yang ditentukan siswa.
Meski siswa bisa menaruh pilihan hingga 9 sekolah, pria yang akrab disapa Anton itu mengimbau agar calon siswa tetap memperhitungkan jarak ketika menentukan pilihan utama.
Sebab berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, tak sedikit siswa yang tidak memproses daftar ulang karena diterima di sekolah yang jaraknya jauh dari tempat tinggal.
“Kami juga tidak berharap anak-anak memilih sampai pilihan ke sekian, terus ternyata ketika diterima, malah di sekolah yang ternyata jauh. Sehingga tidak daftar ulang. Jadi harapannya, siswa memilih sekolah-sekolah yang memang bisa dijangkau,” pesan Anton.
Selain itu, dinas pendidikan—lanjut Anton—juga mengimbau agar siswa dan orang tua tidak khawatir jika belum lolos di SMP negeri.
Sebab, masih ada opsi pendidikan di sekolah swasta yang bisa diambil siswa.
“Masih banyak sekolah swasta kita yang baik (kualitas pendidikannya, Red), yang bisa menjadi tujuan menyekolahkan anak-anak, terutama yang SMP,” tandasnya.
Editor : Mahfud