KEDIRI, JP Radar Kediri- Ribuan siswa yang belum mendapat SMA negeri agaknya benar-benar memaksimalkan peluang terakhir mereka.
Di hari pertama pendaftaran jalur prestasi akademik kemarin (24/6), skor tinggi masih banyak yang belum keluar.
Mereka memilih wait and see atau mengamati, menakar peluang diterima.
Seperti dikatakan oleh Naufal, 15. Memiliki skor 85, dia memilih tidak langsung mendaftar kemarin. “Lihat-lihat dulu peluang tertingginya dimana. Kesempatannya kan hanya tiga sekolah,” aku Naufal.
Baca Juga: Adu Nilai di Jalur Prestasi Akademik SMA, Berebut 730 Kursi SMA Terakhir di Kota Kediri
Langkah untuk menahan diri itu menurut Naufal sesuai saran dari sekolah dan bimbingan belajar (bimbel) yang diikutinya.
“Takutnya telanjur mendaftar, ternyata banyak nilai yang lebih tinggi. Rawan (tidak diterima di tiga sekolah),” lanjutnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri pukul 13.00 kemarin, rata-rata nilai terendah pagu di tujuh SMA negeri Kota Kediri berada di rentang 60 hingga 70-an.
Misalnya, Seperti di SMAN 2 Kota Kediri yang nilai terendahnya 66,6. Padahal, di SPMB prestasi akademik tahun 2025 lalu, nilai terendah pagu berkisar 90.
Kemudian, di SMAN 1 Kota Kediri nilai terendahnya 75,8. Yang lebih rendah lain didapati di SMAN 4 sebesar 64,3.
Terkait hasil pemeringkatan di situs SPMB Jatim itu, Operator Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Provinsi Jatim Wilayah Kediri Yazid Bastomi mengatakan, daftar nilai itu masih dinamis.
Sebab, disinyalir banyak siswa yang belum mulai mendaftar di hari pertama. “Sejak awal juga kami sosialisasikan untuk tidak buru-buru mendaftar,” ujarnya.
Siswa dengan nilai yang tidak terlalu tinggi diimbau untuk mengamati persaingan di sekolah yang diincar. Sehingga mereka bisa memperkirakan peluang apakah bisa diterima atau tidak.
“Dari pengalaman sebelum-sebelumnya, banyak yang akhirnya protes tidak lolos karena keliru pilihan sekolahnya dan lain sebagainya karena terburu-buru mendaftar di dini hari,” ungkap Yazid.
Seperti kemarin, pihaknya juga mendapat pertanyaan dari calon siswa. Salah satunya tentang mengubah pilihan sekolah usai mendaftar.
“Itu tidak bisa. Kalau sudah mendaftar tidak bisa diubah lagi pilihan sekolahnya,” tandasnya.
Sementara itu, sejak pendaftaran SPMB SMA/SMK tahap I, pihaknya juga mendapat permohonan perubahan nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) dari sejumlah siswa.
Berbeda dengan nilai rapor yang diinput sendiri oleh sekolah, nilai TKA yang jadi komponen nilai kemampuan akademik langsung tersinkronisasi ke sistem SPMB. “Permohonan perubahan nilai TKA itu karena ternyata nilai itu diumumkan dua kali,” terangnya.
Pengumuman dua kali dari Pusat itu rupanya terkait siswa yang mengikuti TKA susulan karena beberapa alasan. Salah satunya trobel saat mengikuti TKA serentak.
Akibatnya, ada nilai yang berbeda dari pengumuman kedua. Sedangkan nilai yang terinput di sistem SPMB adalah nilai yang diumumkan pertama kali.
“Banyak yang mengusulkan waktu di pendaftaran tahap 1 (jalur domisili). Kalau dia mengusulkan setelah mendaftar di jalur itu, tetap tidak bisa membatalkan pendaftarannya,” beber Yazid.
Nilai yang sudah diperbarui oleh provinsi itu baru bisa dipakai untuk tahap selanjutnya. Sedikitnya ada sekitar 50 siswa yang melapor ke cabdindik untuk diperbaiki.
Adapun kemarin (24/6), menurutnya sudah tidak ada yang mengajukan perubahan nilai TKA di Kediri. Meski demikian, di beberapa daerah lain masih ada yang mengajukan.
“Dari dinas provinsi infonya hari ini sudah closed untuk perubahan nilai TKA,” tandasnya.
Terpisah, terkait nilai TKA yang sempat diumumkan dua kali juga dibenarkan Dinas Pendidikan Kota Kediri. Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Dinas Pendidikan Kota Kediri Achmad Wartjiantono mengatakan, nilai TKA pertama kali diumumkan Kemendikdasmen pada akhir Mei lalu.
Namun, pada Juni lalu, Kemendikdasmen kembali meluncurkan daftar kolektif nilai TKA dengan nilai yang berbeda pada beberapa anak.
“Ternyata setelah kita cek, yang berbeda itu terdapat pada beberapa anak yang mengikuti TKA susulan. Jadi tidak sama (nilai terbaru dengan yang sudah terinput di sistem SPMB SMA/SMK, Red)” ungkapnya.
Pria yang akrab disapa Anton itu menyebut, jumlahnya juga tak sedikit. Sebab, hampir di setiap sekolah ada siswa yang mengikuti TKA susulan dengan berbagai alasan.
Mulai karena alasan sakit hingga kendala teknis saat mengerjakan. Berdasarkan data dinas pendidikan, sedikitnya ada 72 siswa SMP Kota Kediri yang mengikuti TKA susulan.
“Cuma berapa anak yang mengajukan perubahan untuk pendaftaran SPMB ini, kami tidak bisa memantau. Karena perubahan nilai itu kan haknya si anak sendiri, dan prosesnya tidak melalui sekolah atau dinas pendidikan,” beber Anton sembari menyebut, perubahan nilai TKA itu langsung diajukan ke Dinas Pendidikan Provinsi Jatim melalui operator cabdindik.
Editor : Ayu Ismawati