KEDIRI, JP Radar Kediri-‘Genderang’ perebutan pagu SMA/SMK negeri mulai ditabuh kemarin (11/6).
Di jalur domisili, baru sekitar sebelas jam dibuka saja pendaftar jalur yang diukur dari nilai akademik dan jarak rumah itu sudah jauh melebihi kuota.
Pendaftar diprediksi akan semakin membeludak hari ini (12/6) karena kemarin (11/6) masih banyak yang mengamati pergerakan nilai.
Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Kediri, hingga pukul 11.30 kemarin total pendaftar jalur domisili SMA negeri di Kota Kediri sudah tembus 1.625 siswa. Mereka memperebutkan alokasi 35 persen kuota, atau 1.023 kursi di tujuh SMA negeri Kota Kediri.
Baca Juga: Persaingan Masuk SMA/SMK di Kediri Superketat, Ini Pesan Cabdindik Kepada Siswa!
Untuk diketahui, kuota jalur domisili sebesar 35 persen dari daya tampung satuan pendidikan itu dibagi dalam tiga kategori.
Yakni, domisili reguler dengan alokasi kuota 19 persen, dan domisili sebaran dengan kuota 15 persen.
Yang berbeda di tahun ini juga ada kuota khusus domisili reguler lulusan sebelum tahun 2026 yang ditetapkan 1 persen.
“Jalur domisili ini diperuntukkan bagi calon siswa yang berdomisili di dalam rayon untuk jenjang SMA. Sedangkan SMK diperuntukkan bagi yang berdomisili di dalam rayon atau wilayah luar rayon,” kata Kasi SMA PK-PLK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Jatim Wilayah Kediri Chairul Effendi.
Di Kota Kediri, ada dua wilayah rayon yang ditetapkan. Rayon 1 mencakup SMAN 1 Kediri, SMAN 2 Kediri, dan SMAN 7 Kediri.
Baca Juga: 11 Ribu Siswa Siap Berebut Pagu SMA/SMK, Website Sempat Error, Ini Yang Dilakukan Siswa!
Sedangkan rayon 2 meliputi SMAN 3 Kediri, SMAN 4 Kediri, SMAN 6 Kediri, dan SMAN 8 Kediri. Ketentuan rayon berdasarkan domisili itu dapat dicek secara mandiri melalui situs SPMB Jatim.
Di jalur ini, calon siswa jenjang SMA dapat memilih paling banyak tiga pilihan satuan pendidikan. Meski disebut jalur domisili, namun urutan prioritas seleksi dilakukan dengan menimbang nilai kemampuan akademik.
Nilai itu ditentukan dari gabungan rerata nilai rapor dan nilai tes kemampuan akademik (TKA). Yakni dengan bobot nilai TKA mencapai 40 persen.
“Utamanya semua dari nilai dulu. Diperingkat berdasarkan nilai. Nanti kalau di peringkat akhir ada nilai yang sama, baru dilihat jaraknya (jarak tempat tinggal dengan sekolah, Red)” terang Chairul.
Baca Juga: Mulai Ambil PIN tapi Banyak Yang Belum Paham Juknis SPMB SMA/SMK 2026, Ini Kata Cabdindik Kediri!
Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, hasil pemeringkatan sementara untuk jalur domisili reguler SMA menunjukkan statistik nilai yang cukup bersaing.
Dari tujuh SMA negeri di Kota Kediri, hingga pukul 10.15 kemarin nilai terendahnya tercatat di angka 77. Sedangkan nilai tertinggi ada di SMAN 2 Kediri dengan nilai 94,07.
Statistik nilai itu masih dapat mengalami perubahan. Sebab pendaftaran jalur domisili baru ditutup Jumat malam nanti (12/6). “Ini (pemeringkatan calon siswa, Red) semuanya sudah by system,” tuturnya.
Meski pendaftar SMA sudah mencapai ribuan, agaknya peminat jalur domisili yang sebenarnya baru akan terlihat sore ini (12/6).
Pasalnya, banyak sekolah yang mengimbau siswa untuk tidak langsung mendaftar di hari pertama kemarin. Melainkan, mengamati lebih dulu pergerakan nilai di setiap sekolah yang dituju.
“Jangan mendaftar dulu. Mendaftar besok (12/6) setelah Maghrib,” demikian bunyi salah satu pesan di grup sekolah.
Baca Juga: Komisi IV DPRD Awasi Penerimaan Siswa Baru: Tuntut SPMB Objektif dan Transparan
Pesan yang sama juga banyak didapati di grup bimbingan belajar (bimbel). Siswa diminta untuk tidak langsung mendaftar.
Melainkan mengamati pergerakan nilai untuk menakar peluang diterima. Jika kemungkinannya kecil, siswa diminta mencoba beberapa jalur lainnya.
Dengan strategi pendaftar SMA yang mayoritas memilih mengamati nilai, jumlah pendaftar SMK di hari pertama kemarin lebih mendominasi (lihat grafis).
Padahal, kuota untuk jenjang ini hanya 10 persen dari pagu sekolah. Namun yang mendaftar justru sudah tembus 12 kali lipat kuota yang tersedia.
Sementara itu, untuk jalur domisili reguler lulusan sebelum tahun 2026 justru belum banyak ditemui. Hanya sedikit sekolah yang sudah mendapat pendaftar di jalur ini.
“Jika kuota jalur domisili reguler SMA lulusan sebelum tahun 2026 masih belum terpenuhi, secara sistem aplikasi sisa kuota langsung dimasukkan pada jalur domisili reguler SMA lulusan tahun 2026,” terang Chairul.
Baca Juga: Banyak Ortu Bingung Daftar SPMB Online, Begini yang Dilakukan Sekolahan
Kemudian untuk jalur domisili sebaran, dinas pendidikan mengalokasikan kuota hingga 15 persen dari daya tampung sekolah. Kuota itu dibagi rata ke seluruh desa atau kelurahan dari dalam wilayah rayon. Dengan kriteria pemeringkatan yang sama seperti jalur domisili SMA.
“Pembagiannya merata. Misalnya di rayon 1, ada berapa kelurahan yang masuk rayon itu. Misalnya daya tampung sekolah 100, kuotanya 15 persen, berarti ada 15 yang dialokasikan untuk jalur ini. Itu dibagi jumlah kelurahan yang ada,” paparnya.
Dengan rata-rata daya tampung SMA negeri Kota Kediri yang berkisar 420-an anak, maka rata-rata ada 63 kuota di setiap sekolah yang disiapkan untuk jalur ini.
Jumlah itu lalu dibagi rata dengan total kelurahan yang ada. Jika ada sisa, maka akan dialokasikan ke kelurahan terdekat.
Di jalur ini, pihaknya mengimbau agar siswa memaksimalkan peluang dengan mengisi maksimal tiga opsi sekolah. Sehingga peluang diterima di sekolah lain juga masih terbuka jika belum berhasil lolos di pilihan pertama.
“Kuota untuk tiga pilihan sekolah ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kemudian menentukan pilihannya hati-hati. Jangan sampai terbalik (berdasarkan urutan persaingannya, Red),” pesannya. (ais/ut)
Grafis jumlah pendaftar jalur domisili:
- SMA Kota Kediri : 1.625 siswa
- SMA Kabupaten Kediri : 3.657 siswa
- SMK Kota Kediri : 2.346 siswa
- SMK Kabupaten Kediri : 3.497 siswa
*Dicatat pada pukul 11.30 (11/6)
Editor : Ayu Ismawati