Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Kuota Calon Siswa SR Jenjang SMP dan SMA Terlampaui, sementara SD Masih Kekurangan: Begini yang Dilakukan Dinsos untuk Penjangkaua

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Minggu, 7 Juni 2026 | 06:00 WIB

 

Bupati Dhito memantau tes kesehatan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 24 Kediri.
Bupati Dhito memantau tes kesehatan di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 24 Kediri.

KEDIRI, JP Radar Kediri – Proses penjaringan calon siswa Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Kediri memasuki tahap krusial.

Setelah melakukan penjangkauan ke lapangan, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kediri kini mulai melakukan perankingan calon siswa.

Langkah tersebut dilakukan karena jumlah pendaftar jenjang SMP dan SMA telah melampaui kuota yang tersedia.

Hingga kemarin hasil penjangkauan mendapatkan ratusan calon siswa. Rinciannya, 167 calon kelompok SMA, 138 untuk jenjang SMP, dan 43 jenjang SD. Padahal kuota masing-masing jenjang hanya 90 orang.

“Karena SMP dan SMP melebihi kuota saat ini yang kami lakukan adalah asesmen dan perankingan. Nanti diprioritaskan dari urutan satu sampai 90, sesuai penilaian,” terang Kepala Dinsos Kabupaten Kediri Subur Widono.

Ditemui kemarin di kantornya, Subur menjelaskan kuota SR terdiri dari tiga rombongan belajar (rombel) untuk setiap jenjang.

Baca Juga: Juknis Pengisian Guru Sekolah Rakyat Belum Ada, SR Kabupaten Kediri Optimis Rampung Sesuai Target

Masing-masing rombel berisi 30 siswa. Sehingga total kuota per jenjang mencapai 90 anak.

Menurutnya proses perankingan tidak dilakukan secara sederhana. Seluruh data hasil penjangkauan harus dicermati satu per satu dengan mempertimbangkan berbagai indikator sosial ekonomi yang telah ditetapkan pemerintah.

“Ini bukan pekerjaan mudah. Banyak aspek yang harus dipikirkan dan banyak indikator yang harus diperhatikan agar yang masuk benar-benar anak yang paling membutuhkan,” katanya.

Penilaian dilakukan terhadap seluruh calon siswa yang telah masuk database hasil penjangkauan. Data tersebut kemudian dibandingkan dan diurutkan berdasarkan tingkat kerentanan sosial ekonomi masing-masing keluarga.

Meski seluruh calon siswa berasal dari kelompok desil 1 dan desil 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), tingkat kemiskinan mereka tidak sama.

Karena itu diperlukan pemeringkatan untuk menentukan siapa yang paling layak memperoleh kesempatan bersekolah di SR.

“Desil 1 memang kategori kemiskinan ekstrem, tetapi di dalamnya masih ada tingkatan. Jadi kami mencari mana yang benar-benar paling prioritas,” jelasnya.

Baca Juga: 8.000 Lowongan Guru Sekolah Rakyat 2026, Ini Syarat Lengkapnya!

Sejumlah indikator menjadi bahan penilaian. Di antaranya kondisi rumah, pekerjaan orang tua, tingkat penghasilan keluarga, jumlah tanggungan keluarga, kondisi kesehatan orang tua, hingga status keluarga apakah masih memiliki kedua orang tua atau hanya salah satu.

Subur mencontohkan, anak pertama dari lima bersaudara akan memiliki bobot penilaian berbeda dibanding anak terakhir dengan lima saudara dari keluarga yang sebagian besar saudaranya sudah bekerja atau berkeluarga.

Begitu pula kondisi orang tua yang sakit atau menjadi orang tua tunggal turut menjadi pertimbangan.

“Banyak sekali indikator yang kami lihat. Jadi tidak hanya soal penghasilan, tetapi juga kondisi keluarga secara keseluruhan,” ungkapnya.

Meski proses penjangkauan masih berlangsung hingga akhir Juni, Dinsos saat ini berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan pemeringkatan tersebut.

Sebab pada akhir Juni mendatang calon siswa yang diterima harus sudah ditetapkan dan dilaporkan ke pemerintah pusat.

“Saat ini kami fokus memilah dan memilih anak-anak yang benar-benar sesuai dengan ketentuan kementerian,” katanya.

Sementara itu, kuota jenjang SD hingga kini masih belum terpenuhi. Dari target 90 siswa, hasil penjangkauan baru menemukan 43 calon siswa.

Baca Juga: Wali Kota Kediri Vinanda Cek Pembangunan Sekolah Rakyat, Progres Fisik Baru 64 Persen

Namun Dinsos belum dapat memastikan langkah yang akan diambil apabila hingga batas akhir kuota tersebut tetap tidak terpenuhi.

“Kami masih konsultasi dengan kementerian. Sampai sekarang belum ada panduan resmi kalau kuota tidak terpenuhi harus seperti apa,” jelasnya.

Dia menambahkan, calon siswa yang nantinya tidak lolos seleksi SR masih memiliki peluang mendapatkan bantuan pendidikan melalui program lain. Salah satunya melalui program Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) maupun skema bantuan pendidikan lainnya yang tersedia.

“Masih ada peluang melalui program lain. Tetapi masing-masing program juga memiliki syarat dan ketentuan tersendiri,” pungkasnya. 

 

 

Editor : Andhika Attar Anindita
#sekolah rakyat (SR) #penjangkauan calon siswa sr #sr #dinsos #Presiden Prabowo Subianto