KEDIRI, JP Radar Kediri- Setelah pendaftaran jalur afirmasi disabilitas ditutup pada 5 Mei lalu, puluhan calon siswa telah selesai mengikuti asesmen psikologi.
Rekomendasi dari psikolog akan menentukan nasib mereka di sekolah reguler. Yakni, apakah bisa diterima atau harus masuk ke sekolah luar biasa (SLB).
Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas) Dinas Pendidikan Kota Kediri Achmad Wartjiantono mengatakan, tim psikolog dari UIN Syekh Wasil Kediri sudah menyelesaikan asesmen kepada para pendaftar jalur inklusi. Selanjutnya, dinas pendidikan (disdik) masih menunggu hasil asesmen tersebut.
Baca Juga: Pengumuman Afirmasi Disabilitas SPMB Kota Kediri Tunggu Asesmen Psikologi
“Dari psikolog itu istilahnya mereka memberikan rekomendasi. Hasil rekomendasi itu nanti kami diskusikan dengan tim psikolog. Kira-kira masih bisa tidak anak ini sekolah di sekolah reguler. Kalau tidak bisa, nanti kami beri pemahaman kepada orang tua bahwa harus di lembaga pendidikan khusus,” urainya.
Pria yang akrab disapa Anton itu menambahkan, secara aturan, seluruh sekolah diharapkan bisa melaksanakan pendidikan inklusi. Artinya, calon siswa punya kesempatan melanjutkan pendidikan inklusi di semua lembaga SD dan SMP negeri.
“Tetapi memang guru kami itu guru umum yang diberi pemahaman dengan diklat untuk penanganan anak inklusi. Sehingga kami inginnya sesuai aturan itu, tidak semua anak memilih di satu sekolah tertentu,” sambungnya.
Meski calon siswa inklusi bisa memilih sekolah tujuannya, menurut Anton dinas pendidikan tetap akan mempertimbangkan aspek pemerataan. Hal itu juga yang akan jadi pertimbangan dalam menyeleksi calon siswa inklusi.
“Jadi nanti dalam seleksinya, kami akan melihat jumlah pendaftarnya juga. Terkadang ada yang di satu sekolah itu, pendaftarnya sampai 10 anak. Sedangkan kami tidak merekomendasikan seperti itu karena khawatirnya pendampingan tidak maksimal,” beber Anton.
Terpisah, salah satu tim asesmen psikologi SPMB Kota Kediri 2026 Hanis Ribut Makasara mengatakan, asesmen untuk 48 calon siswa SD dan SMP itu dibagi dalam tiga hari. Jumat lalu (15/5) merupakan hari terakhir pelaksanaan asesmen yang dilakukan oleh tim laboratorium psikologi UIN Syekh Wasil Kediri.
“Karena ini arahnya ke inklusi, kami mengukur kemampuan potensi kecerdasan anak yang ada hubungannya dengan akademik. Sehingga tes yang kami lakukan itu yang ada hubungannya dengan potensi kecerdasan,” terang dosen psikologi UIN Syekh Wasil Kediri itu.
Dengan dibagi dalam beberapa sesi, calon siswa diminta mengerjakan beberapa pertanyaan. Selain itu, pihaknya juga menghadirkan tes grafis untuk anak-anak yang membutuhkan asesmen secara lebih kompleks.
“Kami juga melakukan wawancara kepada orang tua. Makanya kami sangat berharap yang mengantarkan anak itu orang tuanya. Baik dua-duanya atau salah satunya. Karena mereka yang mengamati setiap hari,” ungkapnya.
Adapun tahun ini, Hanis menyebut peserta asesmen didominasi calon siswa SMP. Sebelumnya mereka sudah menjalani pendidikan inklusi semasa SD. Sehingga masa transisi itu juga memudahkan proses asesmen psikologi.
“Karena SD-nya sudah SD inklusi, sehingga lebih terkontrol untuk pengambilan datanya. Karena mereka kebanyakan sudah masuk inklusi sebelumnya waktu di SD,” jelasnya sembari menyebut ada 35 calon siswa inklusi jenjang SMP yang ikut asesmen psikologi. (ais/ut)
Editor : Andhika Attar Anindita