JP Radar Kediri-Belasan mahasiswa dan profesor dari kampus National Yunlin University of Science and Technology atau YunTech, Taiwan, belajar menenun di Kampung Tenun Ikat Bandar, kemarin (23/8). Para mahasiswa dari departemen manajemen dan bisnis internasional itu mencoba tahap demi tahap proses menenun tradisional itu. Mereka pun tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya dalam membuat kain dengan motif cantik yang relatif rumit itu.
Adalah tenun Medali Mas yang kemarin dikunjungi oleh para mahasiswa. Di depan para mahasiswa, Siti Rukayah, pemiliknya, menunjukkan satu per satu tahapan membuat kain tenun. Mulai dari pembuatan pola, pengikatan benang, pemaletan, hingga menenun dengan alat tenun bukan mesin (ATBM).
Setelah mendapat penjelasan, mereka langsung diberi kesempatan untuk praktik. Dan, bisa ditebak. Mayoritas mengaku kesulitan menenun. “Sangat sulit belajar ini. Metode menenun tradisional ini sangat sulit bagi saya. Karena benangnya juga sangat kecil jadi saya sulit melihat dengan jelas,” aku Jenny, 20, salah satu mahasiswa, dalam bahasa Inggris.
Selain mencoba ATBM, mahasiswa jurusan manajemen itu juga mencoba proses pemaletan. Yakni, dengan mengoperasikan alat dengan cara diputar seperti roda. Di antara dua proses itu, menurutnya praktik menenun merupakan yang paling sulit. Bahkan, beberapa kali gerakan kakinya keliru.
Meski prosesnya sangat rumit, Jenny yang melihat hasil akhir kain tenun mengaku sangat kagum. Kain tenun ikat bisa diubah menjadi produk fashion yang menarik. “Topinya lucu. Saya suka. Saat saya diberi tahu akan ke sini, saya sudah kepikiran untuk beli produknya,” lanjut gadis yang ingin membeli baju dari kain tenun ikat itu.
Sementara itu, dosen Fakultas Internasional Business Management YunTech University Profesor Chen Yuan Huang juga mengungkapkan kekagumannya dengan industri kain tradisional di Kelurahan Bandarkidul, Mojoroto, Kota Kediri itu. Setelah perencanaan selama dua tahun, dia bersyukur akhirnya bisa berkunjung dan melihat langsung pembuatan kain tenun.
“Industri ini sangat unik. Karena di zaman sekarang, ada banyak teknologi canggih yang diterapkan perusahaan industri, robot menggantikan peran manusia. Dan itu berbeda dengan di sini. Saya berharap kultur tradisional ini bisa dipertahankan,” pintanya.
Sama seperti mahasiswanya, dia juga mencoba mesin tenun ATBM. Baginya, proses menenun secara tradisional itu tak semudah kelihatannya. “Saya pikir mudah, tetapi waktu saya coba sendiri, ternyata saya salah. Ini nggak mudah. Tidak ada yang mudah, perlu banyak berlatih,” imbuhnya juga dalam bahasa Inggris.
Chen mengatakan, kunjungan ke Kediri kemarin merupakan yang pertama. Meski demikian, dia mengaku sudah mempelajari Kediri sejak dua tahun terakhir lewat kerja sama yang dibangun secara online. Dari sana dia belajar sejarah panjang yang membangun daerah ini. Termasuk jejak kejayaan Kerajaan Kediri ribuan tahun lalu.
“Yang menarik bagi saya adalah di era ini, Kediri bisa mengolaborasikan teknologi canggih dengan kultur tradisional,” terang perempuan yang Jumat (22/8) lalu juga berkunjung ke perusahaan agrikultur BISI. Dia juga mengapresiasi pendekatan tradisional di perusahaan itu yang dipertahankan di tengah berbagai inovasi teknologi.
Untuk diketahui, kunjungan dalam rangka Summer Camp itu bekerja sama dengan Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNP Kediri Amin Tohari mengatakan, rombongan juga mengunjungi beberapa kampus di berbagai daerah di Indonesia.
“Harapannya mereka akan tahu prosesnya. Dan terkait pemasaran internasional mungkin kain tenun ini belum masuk di pasar Taiwan. Tentu harapan kami ini bisa menjadi bentuk pengabdian bersama yang bisa kita transaksikan sebagai implementasi kerja sama,” tandas Amin yang mendampingi rombongan berkunjung ke Tenun Ikat Bandar Kidul.
Selain belasan tamu dari Taiwan, kegiatan itu juga diikuti 23 mahasiswa UNP Kediri. “Konsepnya kita memang kolaborasi. Jadi dibuat kelompok-kelompok untuk saling mengenal. Bagi mahasiswa UNP juga bisa untuk menambah network dengan teman-teman dari Taiwan,” imbuh Amin. (*)
Editor : Mahfud