Suasana malam hari di asrama saat para siswa beraktivitas selepas kegiatan di sekolah.
Nyaris Putus Harapan karena Tak Punya Biaya
Para siswa SRMA 24 Kediri datang dari keluarga yang masuk desil 1 DTSEN. Artinya, anak keluarga yang masuk kategori miskin ekstrem.
Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga ini untuk memenuhi kebutuhan harian saja saja sulit. Apalagi untuk melanjutkan sekolah. Merasakan sekolah berfasilitas wah seperti di SR ini hanyalah mimpi.
Seperti Moh. Nasril Ilham, siswa asal Kedawung, Mojo ini. Setelah menempuh bangku SMP, remaja 16 tahun ini sempat putus sekolah sejak 2023 lalu.
Saat itu dia sudah mulai belajar kerja jadi kuli bata. Sempat pula memutuskan jadi penjual bakso di Bandung.
“Dulu ada keinginan lanjut SMA, mau ke SMAN 1 Mojo. Tapi melihat orang tua ekonominya semakin turun, akhirnya memutuskan bekerja untuk membantu orang tua,” aku anak buruh tani serabutan itu.
Ketika ada tawaran masuk SR, dia pun senang. Karena bisa melanjutkan sekolah tanpa harus memikirkan biayanya.
“Saat dikabari senang, tapi sempat bingung. Karena kondisi tidak pegang uang sama sekali. Jadi memutuskan untuk jadi sopir dulu, antar pindang. Biar ada uang yang bisa ditinggal untuk orang tua,” jelasnya yang sempat terlambat masuk selama seminggu karena harus bekerja terlebih dahulu.
Kini dia sangat senang, bisa lanjut sekolah. Dia juga merasa betah dengan kegiatan yang ada di SR. “Cita-cita saya jadi tentara,” ucapnya mantab.
Hal serupa juga dialami oleh Silma Andarista, asal Dusun Pojok, Desa Tiron. Orang tuanya juga hanya buruh tani serabutan. Sehingga, melanjutkan pendidkan hanyalah sekedar mimpi semata.
“Kalau gak ada SR gak lanjut. Karena ingin bantu orang tua saja,” kenangnya yang sempat menyerah untuk tidak melanjutkan sekolah.
Namun, SR membuatnya terbantu. Dia jadi bisa semakin dekat dengan cita-cita yang diimpikan. Untuk menjadi seorang perawat.
“Sempat pupus harapan. Karena sekolah perawat kan mahal ya. Dengan ini jadi lebih yakin,” aku gadis yang akrab disapa Sisil itu.
Walau demikian, saat awal-awal masuk menurutya ada tantangan tersendiri. Terlebih sebelumnya tidak pernah lepas lama dari orang tua. Sehingga, selama lima hari berturut-turut dia terus-terusan menangis.
“Karena gak bisa tidur,” kenangnya sambil tertawa.
“Seminggu awal sempat nangis. Karena kangen orang tua. Tapi sekarang sudah nyaman dan betah,” imbuh Mey Na Sila.
Walaupun banyak positinya. Pengamat Pendidikan Dr Mahfudh M Pd I mengaku SR adalah kebijakan yang kurang efektif. Menurutnya, saat sekolah-sekolah di bawah naungan Kemdikbud seperti SD, SMP dan SMA bahkan SMK harus bersaing ketat dengan madrasah yang bernaung di Kemenag, Sekolah Rakyat hadir dengan mengulang sejarah selayaknya Sekolah Rakyat pada masa penjajahan Belanda zaman dahulu.
“Saat itu Sekolah Rakyat merupakan kasta terendah dalam pendidikan yang untuk kaum pribumi. Persis Sekolah Rakyat saat ini hadir juga untuk kalangan masyarakat miskin yang dari sisi ekonomi sangat lemah. Siswa yang diambil dari sekolah yang sudah lebih dulu ada, baik SD, SMP dan bahkan SMA, sementara sekolah yang ada banyak yang kekurangan murid. Kita berhak bertanya. Mengapa tidak memberdayakan sekolah yang sudah ada?” jelas anggota dewan pendidikan Kabupaten Kediri periode 2020-2025.
Dia mengatakan, untuk pengadaan Sekolah Rakyat membutuhkan anggaran yang sangat besar. Belum lagi bicara guru dan kepala sekolahnya yang bisa dibilang dadakan. Sehingga- menurutnya sangat meragukan. Begitu juga sarpras lainnya terkesan dipaksakan.
“Komponen-komponen lain yang serba dadakan, menjadikan program ini dihantui kekhawatiran,” jelas dosen Sejarah Pendidikan Islam di Univeritas Islam Tribakti (UIT) Lirboyo Kediri ini.
Dia mengatakan, mencermati berbagai perkembangan Sekolah Rakyat ada ke khawatiran terkait keberlanjutannya.
Menurutnya ada tumpang tindih di dalamnya. Misalnya segi pelaksananya diserahkan Kemensos RI.
”Kan ini sudah bukan ahlinya? Mestinya ya Kemendikbud.
Siswa yang terekrut semuanya dari keluarga Desil 1 dan Desil 2, yang notabene sudah penerima bansos. Mulai PKH, BPNT, KIS, KIP Sekolah/Kuliah, BLTDD dll,” jelasnya.
Menurutnya, gedung sarprasnya yang baru membutuhkan anggaran yang sangat besar. Sementara banyak sekolah yang terbengkalai. Tumpang tindih dalam kebijakan ini terus berulang setiap era berganti.
“Ada ungkapan yang kita hapal betul. Era baru, pemimpin baru. Kebijakan baru, dan kegagalan baru. Itu yang kita khawatirkan. Bukannya tanpa alasan, di beberapa daerah ada guru dan pegawai serta siswa dari Sekolah Rakyat yang mengundurkan diri,” imbuh laki-laki kelahiran 1974 itu. (muhamad asad muhamiyus sidqi/fud)
Serba-serbi SRMA 24 Kediri
Kabupaten Kediri masuk dalam SR tahap pertama. Diberi jatah empat kelas untuk 100 siswa
Mereka dijaring dari DTSEN desil 1 dan desil 2. (Diutamakan desil 1)
Dalam tahap pertama ini, SR di Kediri menempati BPKASN Kabupaten Kediri. Rencananya akan belangsung tahun ini sembari menunggu gedung permanen jadi.
Adapun gedung permanen dibangun di lahan Pemkab Kediri yang ada di Plosokidul, Plosoklaten. Di sana disediakan 14, 7 hektare. Namun yang digunakan untuk bangunan SR separonya, yakni 7,62 hektare(*)