Kalau di Rumah Salatnya Bolong, di SR Jadi Jangkep
Siswa-siswa ini datang dari keluarga tidak mampu. Merasakan untuk pertama kali model sekolah berasrama dengan pengawasan dan disiplin ketat. Awalnya kaget, tapi kelamaan pun terbiasa.
Jam dinding menunjukkan pukul 17.00. Waktu salat Maghrib masih setengah jam lagi. Namun, Kamis (7/8) petang itu, anak-anak yang bersekolah di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 24 Kediri sudah bersiap di aula, tempat salat jamaah berlangsung.
Satu anak bersiap di ruang guru. Mengumandangkan azan bila waktunya tiba. Yang bertugas menjadi muazin bergiliran.
“Memang diajarkan agar semuanya bisa azan,” terang Ima Masafatus Solihah. Wanita ini adalah wakil kepala SRMA 24 Kediri bagian kurikulum.
Memang, di sekolah yang jadi program Presiden Prabowo Subianto ini tidak hanya mengajari siswanya pendidikan akademis. Juga soal karakter. Mulai kedisplinan berperilaku hingga soal ibadah.
"Sebelum masuk ke pelajaran formal, dalam masa pengenalan lingkungan sekolah ini adalah menyiapkan terlebih dahulu karakter siswa. Oleh Kemensos diberi waktu persiapan (jelang masuk pembelajaran formal) selama 13 pekan. Tergantung kondisi sekolah dan anak-anaknya (siap lanjut melakukan pembelajaran formal)," jelas Kepala SRMA 24 Kediri Fadeli.
Ya, empat pekan pertama tahun ajaran baru ini memang masih diisi kegiatan yang disingkat MPLS itu. Kenapa lama? Karena, menurut Fadeli, untuk mendidik karakter.
Terlebih, para siswa ini anak dari keluarga desil 1, miskin ekstrem. Sehingga pemahaman dan karakter yang beragam.
"Dengan demikian, harapannya mereka bisa memulai pelajaran formal dengan posisi yang sama. Startnya dalam posisi yang sama," imbuh laki-laki yang juga Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri ini.
Di SR, segala aspek untuk siswa telah diatur. Rutinitas setiap hari terjadwal.
Misalnya untuk makan malam. Usai tahlil dan salat isya mereka makan bersama di ruang khusus. Tujuannya membentuk keakraban.
Ketika selesai pun siswa diajari mengumpulkan sampah. Memilah sesuai dengan jenisnya.
“Hal sekecil ini pun (memilah sampah, Red) juga diajari,” terang Fadeli, sambil terus mengawasi aktivitas siswanya.
Setelah makan malam, mereka tidak langsung tidur. Melainkan diajak melakukan evaluasi dan refleksi. Tentang yang mereka lakukan seharian tadi. Termasuk terkait ada tidaknya perbuatan curang yang dilakukan para siswa. “Ini untuk mendidik karakter kejujuran anak,” terang Fadeli.
Saat ditanya apa ada yang bolos kelas, beberapa anak terlihat mengacungkan jari. Mengakui perbuatannya yang tak baik itu.
Barulah setelah itu semuanya beranjak ke peraduan. Namun, mereka tak bisa mbangkong alias bangun kesiangan. Pukul 03.30 sudah harus bangun. Bersiap untuk melaksanakan ibadah salat subuh.
Wali asrama dan wali asuh yang mengawasi. Sedangkan yang masih terlelap dibangunkan oleh temannya yang sudah terjaga. Mengetuk pintu kamar temannya yang terlihat belum ada pergerakan.
“Kalau awal-awal lumayan sulit. Masih banyak yang sulit dibangunkan. Jadinya wali asrama harus mengetoki satu persatu. Ini sudah mulai tertib semua,” ujar Mantaaba Zukhruf, guru mata pelajaran seni budaya, yang kala itu piket untuk menginap.
Usai ibadah, berlanjut ke acara senam pagi. Waktunya, setiap pukul 05.30. Dilanjut dengan kerja bakti bersih-bersih lingkungan. Baru setelah itu siap ke sekolah dengan didahului sarapan bersama.
Dari adanya pola kegiatan baik yang sudah teratur itu, membuat anak-anak yang sedianya punya kebiasaan buruk jadi lebih disiplin.
“Kalau di rumah sering keluyuran. Ibadah juga gak jangkep, kalau di sini beda. Lebih tertib,” aku Moh. Nasril Ilham, siswa asal Kedawung, Mojo.
Tak hanya dididik secara semi-militer, kebutuhan dan fasilitas para siswa juga dicukupi. Peralatan sekolah, mulai dari seragam, sepatu, tas, dan alat tulis secara bertahap diberikan. Termasuk segala urusan pribadi. Mulai dari peralatan mandi hingga pakaian dalam.
“Makanannya juga enak. Kalau di rumah menunya tidak selengkap ini,” terang Nasril, terkait menu makanan yang mencukupi gizi. “Ada snaknya juga. Kadang juga susu,” imbuh bocah kelahiran 2009 itu.
Soal fasilitas kamar, sangat mencukupi. Apalagi sekarang menggunakan fasilitas asrama BPKASN Kabupaten Kediri yang memang sangat layak. Kalaupun nanti di gedung baru, fasilitas yang disediakan juga sama.
Bila nanti di gedung baru fasilitasnya sama, suasananya sangat nyaman. Kamarnya seperti hotel berbintang. Lengkap dengan fasilitas kamar mandi dalam.
“Nanti yang di lokasi SR nya yang asli (di lahan Plosokidul, Plosoklaten, Red), hampir sama. Kamar mandi dalam juga. Kasurnya juga sama. Bedanya kalau yang punya BPKASN itu dipannya bagus, seperti hotel-hotel. Kalau yang dari SR besi seperti ini,” jelas Mantaaba.
Ada lagi yang berbeda, kamar di tempat baru nanti tidak menggunakan AC. Melainkan hanya kipas angin. Karena itulah, selama di tempat sementara ini para siswa juga beradaptasi.
Fasilitas AC di setiap kamar boleh difungsikan di dua pekan awal. Setelah itu remot AC dikumpulkan agar tidak difungsikan.
Soal AC ini, sebagian siswa juga sempat ‘kaget’. Kembung perutnya karena tidak terbiasa.
“Pernah ke hotel (ber-AC) saat ada kegiatan lomba ketika SMP dulu. Tapi tidak selama ini. Jadi ya ini kembung,” aku Mey Na Sila, siswa asal Selopanggung, Semen, sembari terkekeh.
Editor : Mahfud