JP Radar Kediri-Setelah Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur afirmasi, prestasi, dan mutasi SD/SMP negeri selesai, kini lulusan SD/MI di Kota Kediri berebut jalur domisili khusus. Di hari pendaftaran pertama kemarin, orang tua (ortu) siswa ramai-ramai meminta bantuan ke sekolah karena tidak bisa menentukan titik koordinat rumah.
Seperti di SD Negeri Bangsal 3. Sedikitnya ada sepuluh ortu yang mendatangi sekolah karena tidak bisa menentukan titik koordinat rumah.
“Sebenarnya sudah ada di panduan. Namanya wali murid itu kemampuan IT dan lainnya kan macam-macam. Ada yang masih bingung dan akhirnya kami bantu di sekolah,” kata Kepala SDN Bangsal 3 Dewi Sholihatur Rohmah.
Lebih jauh Dewi menyebut, di jalur domisili khusus ini seleksi memang murni berdasar jarak rumah siswa ke sekolah. Karenanya, tahapan menentukan koordinat rumah paling krusial.
Saat mereka datang ke sekolah kemarin, operator membantu men-download aplikasi hingga memproses pendataan di rumah. Sebab, pendataan titik koordinat itu harus melalui aplikasi SPMB Online Kota Kediri. Kemudian, penentuan koordinatnya dengan global positioning system (GPS) di rumah. Sesuai yang tertera dalam Kartu Keluarga (KK).
Setelah men-download aplikasi dan menyalakan GPS, siswa harus mengunggah tiga foto. Mulai dari di depan rumah, tengah rumah, dan belakang rumah.
“Fotonya harus di rumah. Jadi kami memandunya dari sekolah. Misalkan sudah di-download hari ini lalu mereka pulang untuk ambil foto. Nah, kami memandunya dari sekolah,” urai Dewi.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Kediri M. Anang Kurniawan melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar Achmad Wartjiantono mengatakan, penentuan koordinat rumah harus sesuai dengan alamat yang tertera di KK.
“Kemudian data koordinat rumah ini ditarik garis lurus dengan titik nol sekolah yang akan dituju,” ujar pria yang akrab disapa Anton itu.
Bagaimana sekolah menentukan titik nol-nya? Anton mengatakan, titik nol sekolah itu ditentukan di tengah-tengah sekolah. Masing-masing satuan pendidikan lalu mengajukan titik nol itu kepada Dinas Pendidikan Kota Kediri.
“(Penentuan titik nol) dengan mengambil titik tengah atau temu dua garis diagonal sekolah,” ungkap Anton.
Untuk diketahui, tahapan pendataan titik koordinat dibuka pada 16–24 Juni. Artinya, hari ini merupakan batas akhir penentuan koordinat rumah sekaligus pendaftaran hari terakhir untuk jalur domisili khusus.
Sedangkan siswa yang belum lolos masih memiliki kesempatan di jalur domisili umum. Nantinya, pendaftaran jalur domisili umum jenjang TK, SD, SMP baru akan dibuka pada 3–4 Juli mendatang.
Di Kabupaten Ditemukan Nilai Rapor yang Tidak Sama
Sementara itu, di Kabupaten Kediri jumlah pendaftar di SPMB hari pertama kemarin membeludak. Salah satunya di SMPN 1 Ngasem yang pendaftarnya mencapai 215 orang.
Waka Humas SMPN 1 Ngasem Khoirul Anwarudin mengatakan, dengan banyaknya jumlah pendaftar kemarin, verifikasi berkas siswa tidak bisa dilakukan dalam sehari.
Baca Juga: Jangan Sampai Salah Pilih Jalur SPMB! Satu Siswa di Kediri Gagal Daftar Gara-Gara Ini
“Ada yang harus dilakukan verifikasi besok (hari ini, Red). Yang tidak tertangani hari ini, besok (hari ini, Red) jadi urutan awal (verifikasi, Red),” kata Khoirul ditemui kemarin.
Untuk diketahui, SPMB hari pertama di Kabupaten Kediri dibuka untuk jalur afirmasi, prestasi, dan mutasi orang tua. Pendaftaran akan dibuka hingga Rabu (25/6) nanti.
Siswa mendaftar melalui website SPMB. Di sana siswa harus melengkapi administrasi pendaftaran, termasuk meng-input nilai rapor. Setelah mendaftar, siswa bisa memverifikasi berkas dengan mendatangi sekolah pilihan pertama.
Pendaftar diwajibkan membawa berkas pendaftaran untuk dikroscek dengan data di website SPMB. Dalam verifikasi berkas, menurut Khoirul panitia mendapati ada beberapa data nilai siswa yang tidak sesuai.
“Contohnya, di web itu nilainya 90. Setelah dilihat ternyata 70. Jadi kami menemukan ada beberapa yang tidak sesuai,” ungkapnya.
Dengan beberapa temuan itu, Khoirul menyebut verifikator lebih teliti lagi saat melakukan pengecekan. Hal itu pula yang membuat proses verifikasi lebih lama.
“Karena pengaruhnya (nilai, Red) di perangkingan. Bisa jadi kesalahan itu karena salah masukan atau kurang teliti,” terangnya.
Terpisah, Annisa Diyah, 40, warga asal Desa Nambaan, Ngasem, mengaku mendaftarkan anaknya di SMPN 1 Ngasem karena relatif dekat dari rumahnya. Meski proses verifikasi kemarin lancar, dia menyebut saat mendaftar di website sempat ada kendala.
Yakni, server pendaftaran yang sempat error. “Bisa jadi karena hari pertama, jadi banyak yang akses,” paparnya sembari menyebut pendaftaran online agak rumit bagi orang tua wali. (*)
Editor : Mahfud