Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mereka Yang Mengejar Asa lewat Bangku-Bangku SLB Kota Kediri, Targetnya Anak-Anak Terampil dan Mandiri

Ayu Ismawati • Minggu, 27 April 2025 | 06:15 WIB
Photo
Photo

Di tengah riuhnya pusat Kota Kediri, para anak berkebutuhan khusus (ABK) ini memupuk asa. Di Sekolah Luar Biasa (SLB) mereka bermain sekaligus belajar. Tidak sedikit yang bisa terampil dan berprestasi. Ada pula yang tujuannya hanya agar bisa hidup ‘mandiri’.

Seperti yang terjadi di Sekolah Luar Biasa (SLB) B dan C Putera Asih Kota Kediri. Berdiri sejak 1976 di Kelurahan Balowerti, Kecamatan Kota, bisa dibilang sekolah ini terletak di pusat Kota Kediri.

Namun, di sana anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) justru memupuk asa dalam senyap. Jauh dari hiruk pikuk seperti di sekolah pada umumnya.

          Jumat ( 25/4) pagi, anak-anak di SLB Putera Asih sudah disibukkan dengan berbagai aktivitas.

Siswa tunarungu dari jenjang SD hingga SMA terlihat tidak hanya belajar di dalam ruang kelas.

Melainkan ada yang sedang mengikuti kegiatan membatik, membuat film, hingga menyulam.

          “Anak-anak, Ibu mau bicara,” ujar Rahmah Hidayah Solihatin, kepala SLB-B Putera Asih, meminta perhatian kepada siswa di depannya dengan menggunakan bahasa isyarat.

          Bahasa isyarat hanya bersifat sebagai bahasa pendukung dalam berkomunikasi. Rahmah menyebut, lembaga yang dipimpinnya itu tetap menerapkan metode maternal reflektif (MMR) yang berupaya dalam meningkatkan kemampuan bahasa lisan dari anak tunarungu.

“Karena ibu mana yang nggak mau dipanggil ‘ibu’ secara lisan sama anaknya,” terangnya.

          Meski termasuk sekolah yang tua, Rahmah bersyukur sarana dan prasarana (sarpras) di sana sudah cukup memadai untuk mendukung kegiatan belajar siswa.

Dia mencontohkan keberadaan ruang terapi wicara sebagai salah satu pendukung metode pembelajaran di sana.

          “Seminggu sekali ada terapi wicara. Setiap pagi juga tetap wajib ada percakapan minimal 5-10 menit di awal pembelajaran antara guru dan murid,” jelas perempuan 25 tahun itu.

          Ada satu kesamaan di setiap ruang kelas SLB-B di sana. Yakni, semua kelas memiliki cermin di dalam ruangan.

Rupanya, cermin itu bukan sekadar hiasan atau untuk bersolek. Cermin itu—lanjut Rahmah—merupakan salah satu alat pembelajaran wajib  di kelas siswa tunarungu.

          “Supaya anak bisa meniru guru saat mengucapkan kata atau huruf. Misal saat mengucapkan ‘A’ bagaimana bentuk mulutnya,” bebernya terkait prinsip pembelajaran unggulan berupa bina wicara di sana.  

Pengembangan keterampilan siswa memang menjadi fokus pembelajaran di SLB. Kurikulum pembelajaran SLB tidak bisa disamakan dengan sekolah umum. Hampir 75 persen pembelajaran diarahkan untuk kegiatan keterampilan.

          “Di SLB-B unggulannya batik canting. Kemudian melukis juga ada, menjahit, kecantikan, tata boga, terus kalau untuk laki-laki ada potong rambut, cuci motor, kriya, dan komputer juga ada,” beber Rahmah tentang aktivitas 145 siswa di sana.

          Fasilitas sarpras dan pendampingan itu juga yang mengantarkan siswa di sana meraih beragam prestasi.

Salah satunya Eva, siswi tunawicara kelas XI yang tengah mempersiapkan diri menghadapi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat provinsi.

Dengan tekun dan telaten dia terlihat berlatih membuat pola untuk batik tulisnya.

          “Seperti ini anak-anak yang memilih mau ikut keterampilan apa. Tapi nanti biasanya kan bapak ibu guru bisa melihat potensi anak. Oh, anak ini cocok di sini, anak ini cocok di sana. Jadi ada juga yang mendapat arahan dari guru,” tandasnya.

          Jika SLB-B berfokus pada bina wicara dan keterampilan siswa, di SLB-C punya pendekatan yang berbeda.

Di sana, siswa-siswinya merupakan ABK tunagrahita dari tingkat sedang hingga berat. Sehingga, kemandirian siswa lebih banyak digali di SLB-C dengan pengajaran yang bersifat bina diri.

          “Kalau guru-guru itu mengajar menyesuaikan kemampuan anak masing-masing,” kata Kepala SLB-C Putera Asih Eka Putri Rahayu.

Baca Juga: Cabdin Kediri Kawal Penyerahan Ijazah Sampai Tuntas. Instruksikan Sekolah Pro Aktif Sampai Ke Rumah Alumni

          Dengan jumlah siswa sebanyak 73 anak, 15 guru di sana harus bisa beradaptasi dengan kondisi anak yang heterogen. Salah satu tantangan paling utama adalah berhadapan dengan konsentrasi anak yang berbeda-beda.

          “Ada yang pagi konsentrasinya hanya lima menit habis itu bermain. Jadi gurunya harus menyesuaikan sama mood-nya anak belajar. Kalau sudah nggak mood belajar, ya isinya hanya bermain seperti menggunting, menempel, mewarnai, tapi tetap sesuai capaian pembelajarannya,” bebernya.

          Jika cermin adalah salah satu alat pembelajaran wajib di ruang kelas SLB-B, berbeda dengan SLB-C.

Di sana, setiap ruang kelas dilengkapi dengan satu unit televisi sebagai alat metode pembelajaran visual yang lebih mudah diterima anak-anak tunagrahita.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #slb #pemkot kediri #sekolah luar biasa #sekolah luar biasa (slb)