Menyusuri Kampung Inggris Pare, ada begitu banyak lembaga kursus bahasa Inggris. Mungkin akan melelahkan jika menghitung satu per satu.
Tetapi jika jeli, ternyata tidak hanya program bahasa Inggris saja yang ditawarkan.
Seperti saat melewati Jalan Cempaka.
Ada lembaga kursus bahasa Arab. Bahkan, seperti menjadi episentrum tersendiri.
Salah satu lembaga kursus pun mem-branding dengan Kampung Arab. Ternyata, keberadaan lembaga kursus bahasa itu memang sudah ada sejak dulu.
“Bahasa Arab sebetulnya sudah ada dari dulu. Tetapi berkembangnya mulai tahun 2000-an,” terang Ketua Forum Kampung Bahasa (FKB) Arsyad Naufal Ngadiono.
Dia bercerita bahwa lembaga belajar bahasa Arab di Kampung Inggris memang berdampingan dengan lembaga kursus bahasa Inggris yang ada. Hanya saja, lokasinya antara lembaga kursus memang tidak berdekatan.
Sehingga, keberadaannya tidak terlalu terlihat seperti halnya kursusan bahasa Inggris yang menyebar.
“Ada OCEAN, terus berkembang ada Al Farisi, kemudian ada Al Azhar. Lha dari sini semakin meningkat di 2012. Dari situ muncul murid yang membuat lembaga sendiri,” terang Arsyad saat ditemui di rumahnya, menyebut nama-nama tempat kursus bahasa Arab.
Arsyad menyebut ada sekitar sepuluh lembaga kursus bahasa Arab yang ada saat ini. Tetapi jika melihat di maps, lebih dari sepuluh.
Tersebar di beberapa jalan yang masuk coverage area Kampung Inggris. Seperti di Jalan Cempaka, Jalan Aster, dan juga di Jalan Asparaga.
Arsyad juga menerangkan tidak hanya bahasa Arab yang menunjukkan perkembangan. Bahasa Mandarin juga cukup diminati.
Artinya, pasar di Kampung Inggris Pare ini semakin meluas. Target pasarnya tidak hanya orang-orang yang ingin belajar bahasa Inggris.
Selain Mandarin, lembaga kursus bahasa Korea juga mulai muncul.
“Tidak menutup kemungkinan sebentar lagi ada bahasa Korea. Meskipun sebetulnya suda ada namun belum begitu pesat. Kemungkinan (berkembang, red) pasti ada,” katanya.
Arsyad kemudian menerangkan bahwa alasan orang-orang yang datang ke Kampung Inggris Pare semakin beragam. Tidak hanya sebagai penunjang pendidikan lagi.
Melainkan juga untuk keperluan melamar pekerjaan. Karenanya, ada semakin banyak lembaga yang tidak hanya fokus pada pembelajaran bahasa Inggris saja.
Tidak menutup kemungkinan, lembaga kursus juga akan bekerja sama dengan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK). Yang mana, orang yang belajar bahasa ini ditujukan untuk mendapat pekerjaan.
“Contohnya ada LTE (leading Tourism Education, Red). LTE sebetulnya kan bahasa Inggris biasa kemudian mereka bekerjasama dengan LPK yang akhirnya (outputnya) menjadi spesialis di kapal pesiar,” ujar Arsyad memberikan contoh.
Terlepas dari itu, Arsyad menjelaskan bahwa saat ini ada sebanyak 173 lembaga kursus yang tergabung di FKB. Di dalamnya, tidak hanya lembaga kursus bahasa Inggris saja.
Melainkan juga lembaga kursus bahasa Arab, dan Mandarin.
“Bahasa Arab sekitar sepuluhan, Mandarin ada tiga, dan sisanya bahasa Inggris,” rincinya sembari menyebut total tersebut masih bisa terus berkembang.
Karenanya, dia berpendapat bahwa sebutan yang pas adalah Kampung Bahasa. Pasalnya, tidak hanya ada bahasa Inggris yang berkembang di Pare saat ini.
Namun demikian, brand Kampung Inggris Pare sudah sangat kuat. Perlu waktu lama untuk mem-branding menjadi Kampung Bahasa.
“Kayaknya susah, karena yang kuat sudah Kampung Inggris Pare, semua media sosial menyebutkan Kampung Inggris Pare meskipun ada Kampung Inggris di tempat-tempat lain. Dan untuk membuat branding ulang itu butuh waktu yang panjang. Kampung Inggris ini tidak berdiri satu atau dua tahun, sudah puluhan tahun lalu. Ada proses-proses panjang,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira