Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cabdisdik Jatim Wilayah Kediri Serahkan Teknis Perayaan Kelulusan Siswa SMA/SMK kepada Sekolah

Ayu Ismawati • Kamis, 13 Maret 2025 | 18:41 WIB
Siswa SMAN 1 Kota Kediri menunggu jemputan di depan sekolah. Tahun ini Dinas Pendidikan Provinsi Jatim menerapkan larangan pelaksanaan wisuda tingkat SMA/SMK.
Siswa SMAN 1 Kota Kediri menunggu jemputan di depan sekolah. Tahun ini Dinas Pendidikan Provinsi Jatim menerapkan larangan pelaksanaan wisuda tingkat SMA/SMK.

KEDIRI, JP Radar Kediri- Cabang Dinas Provinsi Jatim Wilayah Kediri menindaklanjuti instruksi Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur tentang larangan wisuda atau purnawiyata di tingkat SMA/SMK.

Menindaklanjuti nota dinas tersebut, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdisdik)  Provinsi Jatim Wilayah Kediri Adi Prayitno sudah merapatkannya dengan kepala SMA/SMK di Kediri Raya.

Untuk diketahui, ada lima poin dalam nota dinas dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai itu.

Yaitu, penghapusan istilah wisuda atau purnawiyata, melainkan hanya ada istilah kelulusan siswa dari SMA, SMK, atau SLB.

Kemudian, larangan pelaksanaan wisuda di luar lingkungan sekolah. Selanjutnya, tidak boleh ada paksaan kepada siswa untuk mengenakan jas, kebaya, atau sejenisnya dalam kegiatan kelulusan.

Selain itu juga tidak boleh ada penarikan biaya apapun untuk tujuan wisuda. Kecuali ada donatur dari masyarakat secara sukarela.

Aries juga meminta agar acara kelulusan dilakukan secara sederhana, kreatif, dan inovatif. Tanpa harus membebani orang tua siswa.

“Selain sosialisasi tertulis melalui nota dinas, kemarin sore (10/3) Pak Kacab (Adi Prayitno, Red) juga sudah rapat dengan kepala sekolah untuk mengingatkan terkait dengan wisuda,” ungkap Kasi SMA/SMK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Provinsi Jawa Timur Wilayah Kediri Chairul Effendi.

Selama ini menurut Chairul memang masih ada beberapa sekolah yang menggelar wisuda di luar sekolah.

Mayoritas alasannya karena pertimbangan fasilitas sekolah yang tidak bisa menampung seluruh tamu undangan.

 “Perpisahan itu kan mengundang orang tua. Akhirnya jumlahnya banyak. Misal muridnya saja 300, (tamu undangan) bisa jadi 600 orang. Mungkin sekolah tidak punya tempat yang cukup,” tuturnya sembari menyebut tidak semua sekolah memiliki budaya wisuda di luar sekolah.

Beberapa sekolah yang memiliki gedung pertemuan sendiri dengan kapasitas yang besar, sering kali menggelar wisuda di sekolah.

Namun, diakuinya selama masa sosialisasi ini tetap ada beberapa penolakan.

“Biasanya anak-anak itu kan inginnya beda. Mungkin merasa kakaknya kemarin boleh, kok sekarang nggak boleh. Penolakan seperti itu pasti ada. Tetapi tinggal bagaimana teman-teman guru memberikan pemahaman kepada mereka,” beber Chairul.

Alternatif lainnya, siswa bisa mengadakan acara yang dikemas sederhana namun tetap berkesan. Asal tidak memberatkan orang tua dengan menarik sejumlah biaya.

Hal tersebut menurutnya karena kebijakan itu dibuat juga tak lepas dari keluhan masyarakat.

Di tahun ini, sudah ada tiga orang yang menyampaikan keluhan ke cabdisdik terkait penarikan sumbangan atau biaya untuk wisuda.

“Yang ke saya kemarin sekitar tiga orang dari SMA dan SMK,” jelasnya.

Dari situ, orang tua siswa mengeluhkan harus diminta membayar. Rentangnya mulai dari Rp 150 ribu – 250 ribu.

Menurutnya, saat ini rata-rata SMA di Kota Kediri sudah menyerahkan acara kelulusan ke siswa. Dengan begitu, siswa juga yang mengakomodasi kebutuhan perayaan itu.

“Terkadang anak-anak itu juga bikin album. Kalau bagus kan juga bisa mahal,” tandasnya. Dengan adanya instruksi itu, mau tidak mau budaya perayaan wisuda harus dihapus.

Termasuk untuk sekolah yang sudah mulai mempersiapkan wisuda yang pada umumnya digelar Mei mendatang.

“Seandainya ada yang sudah sampai pesan tempat di luar, ya harus dibatalkan,” sambungnya sembari menyebut, sepengetahuannya sudah ada satu sekolah yang memesan tempat di luar sekolah.

Terpisah, Diana—bukan nama sebenarnya— salah satu orang tua siswa kelas XII SMA di Kota Kediri mengaku senang dengan aturan baru itu.

Sebab, baginya saat ini yang menjadi prioritas adalah mencari pendidikan lanjutan untuk anaknya.

“Kalau anak saya karena cowok juga sepertinya nggak begitu peduli. Karena sekarang ini, yang paling dipikirkan kan bagaimana cari sekolahan,” ujarnya.

Sebagai orang tua, dia mengaku senang jika acara seremonial seperti itu diganti dengan aktivitas lain. Sebab, di sekolahnya sudah cukup banyak biaya yang harus dikeluarkan.

 “Karena sejujurnya banyak beban pikiran lain kalau anak mau lulus SMA. Salah satunya ya mencari sekolah itu.

Tapi sejauh ini juga dari sekolah belum ada pembahasan soal wisuda,” pungkasnya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #sma/smk #kepala dinas pendidikan #purnawiyata #Kelulusan Sekolah #jawapos