JP Radar Kediri - Waitatiri, lulusan Universitas Indonesia dan penerima beasiswa LPDP, berhasil melanjutkan pendidikan di Harvard University pada jurusan Learning Design, Information, and Technology. Semangatnya dalam belajar dan berbagi mendorongnya untuk berkontribusi dalam dunia pendidikan, terutama bagi anak-anak di Indonesia. Kepeduliannya semakin besar saat pandemi Covid-19, ketika ia melihat banyak anak kesulitan belajar karena tidak memiliki ponsel dan beresiko putus sekolah. Dari keprihatinan itu, ia menggagas program donasi ponsel agar mereka tetap bisa mengakses pendidikan.
Sebelum melanjutkan studi S2, Waitatiri sempat merasa ragu karena sudah enam tahun fokus bekerja dan tidak aktif belajar. Namun, keinginannya untuk membawa perubahan dalam pendidikan mengalahkan ketakutannya. Setelah diterima di Harvard School of Education, ia mendalami inovasi dalam desain pembelajaran dan mengeksplorasi berbagai metode pendidikan, baik melalui buku, televisi, permainan, maupun aktivitas di luar ruangan. Meski mengalami tantangan dalam beradaptasi dengan sistem belajar yang sangat berbeda dari di Indonesia, ia tetap berkomitmen menyelesaikan pendidikannya.
Saat berkuliah di Harvard, Waitatiri menyadari bahwa orang Indonesia memiliki daya tarik tersendiri di mata akademisi internasional. Para dosen di sana tertarik dengan cerita dan pengalamannya mengenai sistem pendidikan di Indonesia serta kondisi anak-anak di tanah air. Selain itu, pengalaman pribadinya sebagai korban perundungan saat kecil juga membekas dalam hidupnya, mendorongnya untuk menulis buku berjudul The Missing Colours. Buku ini terinspirasi dari kisah nyata seorang korban bullying yang ia kenal dan bertujuan menjadi sumber dukungan bagi mereka yang mengalami hal serupa. Waitatiri ingin menyampaikan pesan bahwa para penyintas perundungan tetap bisa bangkit dan menjalani hidup yang bahagia.
Tanpa diduga, buku The Missing Colours menarik perhatian salah satu dosen di Harvard yang menilai isinya memiliki nilai edukasi tinggi. Akhirnya, buku ini dijadikan bagian dari kurikulum Harvard dan beberapa sekolah di Amerika Serikat. Setelah melewati proses penerbitan pada 2023, The Missing Colours resmi digunakan dalam sistem pendidikan di Amerika pada April 2024. Keberhasilan ini semakin memotivasinya untuk menulis buku baru yang masih membahas perundungan, tetapi dengan perspektif lebih luas. Kali ini, ia ingin menyasar remaja dan orang dewasa, mengangkat kisah dari sudut pandang penyintas yang pernah menjadi korban sekaligus pelaku bullying.
Selain aktif menulis, Waitatiri juga mengembangkan Smartick Indonesia, sebuah platform belajar berbasis teknologi untuk anak usia 4–14 tahun. Program ini berfokus pada peningkatan literasi numerasi, membantu anak-anak berpikir kritis, serta membangun kepercayaan diri dalam belajar. Dengan metode pembelajaran yang fleksibel, anak-anak dapat belajar dari rumah secara lebih efektif dan mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas. Dedikasinya dalam dunia pendidikan membuktikan bahwa pengalaman pribadi bisa menjadi inspirasi besar untuk menciptakan perubahan bagi generasi mendatang.
Author : Nawal Aulia
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira