KEDIRI, JP Radar Kediri – Kesehatan mental remaja kini menjadi perhatian serius. Sebuah aplikasi inovatif, SAKTI-Remaja, dikembangkan oleh Universitas Strada Indonesia melalui dana hibah pengabdian masyarakat (Pengmas) Kemendikbudristekdikti 2024.
Pengabdian ini bekerja sama dengan Puskesmas Baron, Kabupaten Nganjuk. Inovasi ini bertujuan untuk mendukung deteksi dini dan intervensi kesehatan jiwa di pesantren dan komunitas remaja.
Ketua tim Pengmas Universitas Strada Indonesia Reni Nurhidayah, S.Kep.,Ns.M.Kep menerangkan, remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap masalah kesehatan jiwa akibat perubahan signifikan dalam aspek fisik, emosional, sosial, dan kognitif yang mereka alami.
Menurut data WHO (2021), sebanyak 4,6 persen remaja usia 15-19 tahun mengalami kecemasan. Sementara 2,8 persen mengalami depresi.
Di Indonesia, situasi ini semakin mengkhawatirkan, terutama di kalangan santri pondok pesantren, di mana keterbatasan akses layanan kesehatan mental menjadi salah satu kendala utama.
“Aplikasi SAKTI-Remaja hadir sebagai solusi inovatif bertujuan untuk mendukung deteksi dini masalah kesehatan mental,” ujar Reni.
Melalui fitur self-screening, lanjutnya, mudah digunakan, edukasi kesehatan jiwa yang terintegrasi, dan layanan konseling dasar.
Uji coba aplikasi di Pondok Pesantren di wilayah kerja Puskesmas Baron menunjukkan respons positif dari para pengguna.
Aplikasi SAKTI-Remaja memiliki tiga fitur utama. Pertama, fitur skrining mandiri ini memungkinan santri untuk mengevaluasi kondisi mental mereka secara berkala melalui serangkaian pertanyaan sederhana.
Fitur ini membantu mendeteksi gejala awal masalah kesehatan mental seperti kecemasan atau depresi.
Kedua, fitur edukasi terintegrasi. Fitur ini memberikan materi edukasi dalam bentuk artikel, infografis, dan video untuk meningkatkan pemahaman santri tentang kesehatan mental.
Ketiga, Konseling dimana fitur ini menyediakan akses kepada layanan konseling online yang dapat diakses oleh santri atau pengurus pondok pesantren.
Tim pengmas juga melakukan sosialisasi dan pelatihan kesehatan jiwa dengan Puskesmas Baron kepada pengurus pesantren dan santri.
Serta memberikan pelatihan kepada Unit Kesehatan Sekolah Pos Kesehatan Pesantren. Pelatihan ini untuk memastikan aplikasi digunakan secara optimal.
Sejak implementasi aplikasi SAKTI-Remaja ini terjadi peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan santri.
Data menunjukkan bahwa 85 persen santri merasa lebih sadar akan kondisi mental mereka, dan 83 persen menggunakan aplikasi secara rutin untuk memantau kesehatan jiwa.
Hal ini menunjukkan bahwa aplikasi tidak hanya meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan mental, tetapi juga membangun kebiasaan positif dalam pemantauan kesehatan mental mandiri.
Program ini mencerminkan potensi besar teknologi dalam mendukung kesehatan mental remaja.
Keberhasilan aplikasi SAKTI-Remaja membuka peluang untuk diterapkan di lebih banyak pesantren dan institusi pendidikan lain.
Dengan dukungan lebih lanjut dari pemerintah dan lembaga terkait, aplikasi ini diharapkan dapat menjadi model nasional untuk inovasi teknologi dalam meningkatkan kesehatan mental remaja Indonesia.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah