Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sekolah-sekolah di Kabupaten Kediri Ini Berjuang Keras agar Bisa Menggelar ANBK

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Kamis, 7 November 2024 | 17:32 WIB
Sejumlah siswa SDN Parang 4 mengikuti ANBK dengan sarpras seadanya
Sejumlah siswa SDN Parang 4 mengikuti ANBK dengan sarpras seadanya

KEDIRI, JP Radar Kediri-Ruangan itu tak terlalu luas. Berukuran 7x6 meter. Sehari-hari dimanfaatkan sebagai ruang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Parang 4. Sekolah yang berada di Desa Parang, Kecamatan Banyakan.

Kemarin (6/11), ruangan kecil itu bertambah penghuni. Tidak hanya delapan guru, termasuk kepala sekolah, saja.

Juga ada enam siswa kelas lima. Menjadikan ruangan yang berada paling jauh dengan pintu masuk ini terasa sesak.

Enam siswa itu, tiga laki-laki dan tiga perempuan, tengah mengikuti asesmen nasional berbasis komputer (ANBK).

Program ini adalah tes untuk mengevaluasi mutu pendidikan. Yang membutuhkan kelancaran jaringan internet agar berjalan lancar.

“Routernya (alat untuk memancarkan sinyal wifi, Red) ada di kantor guru. Kalau keluar kantor jadi tak sampai sinyalnya,” ucap kepala SDN Parang 4 Sugeng Hariyadi.

Perkataan Sugeng tersebut  menjawab pertanyaan kenapa para siswa tidak menyelesaikan soal ANBK di ruang kelas yang lebih luas. Melainkan harus berjubel di ruang guru.

Akibatnya, guru pun terpaksa mengurangi aktivitasnya. Tidak berlalu-lalang, atau berbicara dengan suara keras.

“Tak hanya murid yang harus konsentrasi, kami juga harus memperhatikan kondisi mereka,” lanjut pria 55 tahun ini.

Desa tempat sekolah ini berada termasuk pelosok. Ada di kaki Gunung Wilis. Yang sinyal selular sangat sulit. Demikian halnya dengan fasilitas wifi.

Agar bisa mendapat sinyal wifi itu, pihak sekolah harus ‘menembak’ dari Desa Gringging, Kecamatan Grogol.

Yang jaraknya mencapai 15 kilometer. Kondisi kian sulit karena sekolah ini banyak tertutup tebing dan pepohonan besar.

Serta jauh dari permukiman. Mereka butuh antena khusus agar bisa menangkap sinyal wifi tersebut.

“Kalau yang dekat dengan permukiman itu SDN Parang 3. Tapi kondisinya kurang lebih sama. Letaknya juga lebih atas,” jelas laki-laki berkacamata ini.

Saking jauhnya, sinyal yang didapat juga sangat lemah. Meskipun Sugeng sudah berupaya keras, seperti meminta provider menambah kekuatan sinyal, tetap saja tak maksimal hasilnya.

Paling sering adalah gangguan ketika berpindah dari satu soal ke soal lain. Saat itu sering mengalami buffering.

Situasi seperti itu sudah terjadi saat simulasi. Sinyal tiba-tiba hilang. Tampilan lembar kerja kembali ke asal.

Meskipun jawaban sudah tersimpan, tapi peserta harus mengisi data diri lagi. Membuat waktu pengerjaan jadi terpangkas.

Bahkan, pernah server di SD ini trouble. Terpaksa, para guru ‘boyongan’ ke rumah kepala desa (kades). Yang sinyal wifi-nya lebih bagus.

 “Kalau di rumah pak lurah (kades, Red) dan kantor desa itu sudah Indihome. Tapi sinyalnya gak sampai sini. Jadi saat itu guru membonceng murid-murid ke rumah pak lurah. Ada yang mbonceng peralatan untuk dibawa ke sana,” jelasnya menceritakan kejadian ketika dia belum bertugas di sekolah ini.

Tidak hanya masalah sinyal, listrik juga jadi kendala. Ketika cuaca mendung, aliran listrik sering padam. “Sementara kami tidak punya genset,” keluh Sugeng.

Selain itu, laptop pun harus pinjam. Milik SMPN 2 Banyakan, yang kebetulan dulu pernah satu atap dengan SDN Parang 4. Jumlahnya delapan unit. Enam digunakan siswa dan sisanya untuk proctor dan teknisi.

Kesulitan juga dirasakan oleh SDN Parang 3. Walaupun lokasinya berada di dekat permukiman, namun tetap saja susah sinyal. Karena letaknya di lereng gunung. Bahkan lebih tinggi dari SDN Parang 4.

Untuk ANBK lalu,  Senin (4/11) sampai Rabu (5/11), mereka harus melakukannya di balai desa. Wifi-nya bermasalah dan baru normal pas pelaksanaan ujian. Karena takut ada masalah lagi, pelaksanaan tes pun tetap di balai desa.

“Mengantisipasi adanya kendala itu lembaga berkoordinasi dengan pemdes. Agar ANBK bisa berlangsung lancar,” kata Biti Afroni, kepala SDN Parang 3.

Para kasek tersebut berharap ada perhatian khusus bagi sekolah yang berada di pelosok. Seperti bantuan perangkat, misalnya, ataupun sambungan wifi. Tidak hanya untuk SDN Parang 3 dan 4, namun juga semua sekolah yang berada di pelosok maupun di lereng gunung.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radarkediri #ANBK #jawapos #sekolah #Berjuang