KEDIRI, JP Radar Kediri-“Ini pertama kali saya ikut (PON),” ucap Putra Tri Ramadani dari seberang telepon. Jawaban yang dia berikan singkat saja. Kalimatnya pendek-pendek. Bahkan, terkesan malu-malu.
Padahal, prestasi yang dia torehkan tak bisa dipandang enteng. Meskipun keikutsertaan pertama, hasil yang dia peroleh bukan kaleng-kaleng.
Lima medali dia dapat. Empat emas dan satu perak dari panjat tebing, cabor yang dia terjuni di ajang multi-event tingkat nasional itu.
Dari lima medali itu, dua di antaranya dia dapatkan di nomor perorangan. Yaitu emas untuk lead perorangan kelompok putra. Serta medali perak di nomor Combined (lead and boulder) perorangan.
Sedangkan medali emas lainnya dari nomor beregu. Yaitu campuran combined (lead and boulder) tim, putra boulder tim, dan putra lead tim.
Keberhasilannya itu diperoleh dari upaya keras. Putra sudah harus berkutat dengan pusat pelatihan daerah (puslatda) Jatim untuk PON XXI sejak dia kelas 11 SMA.
Sementara, saat ini dia sudah lulus dari SMAN Olahraga (SMANOR) Sidoarjo.
Selama persiapan tersebut, beberapa kali Putra juga diikutkan dalam beberapa kejuaraan. Yang ditujukan untuk memantapkan kemampuan agar prima ketika tampil di PON. Dan, hasilnya, memang sesuai harapan.
Prestasi yang dicetak Putra saat ini adalah bukti bahwa usaha dan jerih payah akan berbanding lurus dengan hasil. Sebab, alumnus SMP Negeri 3 Kota Kediri ini telah menggeluti panjat tebing sejak anak-anak. Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).
“Masih kelas 3 SD dulu,” kenangnya, masih dengan kalimat yang singkat.
Kala itu, Putra dan teman-teman sekitar rumahnya sering bermain di Taman Harmoni. Di taman yang berada di Jalan Syudanco Supriadi tersebut kebetulan ada papan panjat tebing yang bisa digunakan untuk berlatih.
“Awalnya ya nyoba-nyoba manjat aja. Main-main karena dekat rumah,” akunya.
Karena masih kecil, hobi Putra itu sempat ditentang oleh orang tua. Terutama dari sang ibu. Bukan tanpa sebab, olahraga panjat tebing dianggap ekstrem dan berbahaya.
Tetapi, Putra telanjur menyukai. Tak sekadar berlatih, dia bahkan berani ikut kompetisi yang digelar di Kota Kediri.
“Masih ikut di karesidenan. Setelah itu ditarik (menjadi atlet Kota Kediri), akhirnya orang tua mendukung,” sebutnya sembari menjelaskan bila dirinya benar-benar menekuni panjat tebing ketika kelas 5 SD.
Sejak saat itulah, dia rutin berlatih. Namun tidak lagi di Taman Harmoni, melainkan di GOR Jayabaya.
Setiap harinya, Putra tekun menjalani latihan rutin usai pulang sekolah.
Meski kala itu masih belia, Putra sangat menikmati waktunya belajar panjat tebing. Sayang, bencana datang saat pandemi Covid-19 melanda.
Pasalnya, aktivitas olahraga ini dihentikan. Putra pun terpaksa meninggalkan hobinya.
Untung, harapan datang lagi. Tepatnya saat dirinya berseragam SMANOR Sidoarjo. Dia kembali menekuni olahraga yang telah dia gemari tersebut.
Lantas, apa yang membuatnya ingin terus menggeluti karirnya sebagai atlet?
“Saya sudah lama di panjat tebing. Jadi sekalian jebur aja,” jawab pemuda yang bercita-cita menjadi polisi ini.
Kini, Putra pun belum bisa kembali ke Kediri. Jadwalnya padat lantaran masih ada banyak agenda kompetisi yang akan diikuti.
Setelah PON XXI Aceh-Sumut 2024, dia akan mengkuti SEA Boulder League Asian Qualifier. Alasan itulah yang membuat wawancara hanya bisa melalui telepon.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah