KEDIRI, JP Radar Kediri - Hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) di sekolah dasar (SD) kemarin, diwarnai pemandangan sejumlah orang tua (ortu) yang mendampingi anak mereka di dalam kelas. Sisanya, ada yang memantau kondisi anak dengan mengintip lewat celah-celah jendela.
Dian, salah satu ortu siswa baru SDN Bangsal 3 mengatakan, hari pertama masuk SD membuat dirinya haru dan ikut antusias. Sejak pagi, dia dan putrinya sudah bersiap di sekolah yang berada di Jl Brigjend Pol. IBH Pranoto itu. “Alhamdulillah anaknya nggak nangis. Malah khawatir saya yang nangis waktu tadi simbolis penyerahan anak ke sekolah,” ujarnya sembari tertawa.
Di hari pertama itu, guru mengajak siswa memperkenalkan diri di depan teman. Ada yang sudah percaya diri menyampaikan nama. Namun, beberapa di antaranya masih malu-malu untuk berbicara di depan kelas.
Kepala SDN Bangsal 3 Dewi Sholihatur Rohmah mengatakan, MPLS siswa kelas 1 akan berlangsung selama 14 hari. Di tahap ini, sekolah tidak boleh melakukan asesmen berupa tes tulis dan wawancara kepada siswa baru. Dalam hal ini tes baca, tulis, dan hitung.
“Kita asesmennya lewat observasi. Misalnya anak diajak bermain, atau kelompokan. Nanti gurunya yang membuat catatan soal itu. Kalau transisi PAUD ke SD utamanya seperti itu,” ujarnya.
Selain pengenalan teman, guru, dan lingkungan sekolah, di hari pertama ini siswa juga diberikan pemahaman tentang mencegah kekerasan di sekolah. Termasuk perundungan yang juga dicegah sedini mungkin lewat pembelajaran di MPLS. “Misalkan mengenalkan anak tentang mana yang boleh dan tidak boleh dipegang oleh orang lain lewat lagu,” bebernya.
Sementara itu, selain MPLS SD dan SMP, kemarin siswa SMA/SMK juga mengikuti MPLS. Menindaklanjuti instruksi Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Kediri, di pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) kemarin, sejumlah siswa jalur afirmasi mendapat seragam gratis.
Kasi SMA Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Kediri Chairul Effendi mengatakan, kebijakan itu kali pertama diterapkan tahun ini. Secara serentak hari ini, sekolah akan memberikan bantuan dua stel seragam kepada siswa tidak mampu.
“Kalau di SMA negeri berarti untuk siswa yang diterima melalui jalur afirmasi keluarga tidak mampu,” ujarnya sembari menyebut kebijakan ini bertujuan membantu siswa kurang mampu yang kerap terkendala seragam.
Terlepas dari itu, Chairul menekankan setiap siswa tidak diwajibkan membeli seragam baru. Termasuk di sekolah. “Mau pakai seragam bekas punya tetangganya atau kakaknya kan nggak apa-apa. Sekarang diberikan bantuan untuk siswa yang tidak mampu untuk diberikan dua stel seragam,” tandasnya.
Dikatakan Chairul, jumlah siswa yang mendapat bantuan seragam di masing-masing sekolah tidak sama. Dinas pendidikan hanya mengatur target penerima yang merupakan siswa dari jalur afirmasi keluarga tidak mampu.
“Dari afirmasi keluarga tidak mampu kemarin kuotanya 5 persen dari pagu sekolah. Sehingga masing-masing sekolah menjadi tidak sama. Sesuai pagunya. Kalau pagunya misal 300 siswa, maka 5 persennya ya 15 siswa,” urainya mencontohkan.
Adapun kebijakan itu akan berlaku di seluruh daerah di Jawa Timur. Yakni, meliputi jenjang SMA, SMK, dan SLB. Lalu, bagaimana dengan lembaga swasta? Menurut Chairul, kebijakan ini tetap disesuaikan dengan kemampuan masing-masing sekolah. Menurutnya, sekolah swasta pada umumnya tidak memiliki kuota afirmasi tidak mampu. Sehingga penyerahan bantuan seragam diserahkan kepada masing-masing lembaga.
“Apalagi sekolah swasta biasanya sedikit siswanya. Kalau misal siswanya 30, mungkin satu (yang mendapat bantuan seragam gratis, Red). Jadi dibebaskan monggo sesuai kemampuan sekolah,” bebernya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah