KEDIRI, JP Radar Kediri – Lomba Sekolah Peduli Inflasi yang digagas oleh Bank Indonesia (BI) Kediri memasuki babak penilaian. Kemarin, tim juri mendatangi tujuh SMP/MTs di Kota Kediri. Masing-masing peserta menunjukkan kreativitas masing-masing dalam melakukan urban farming.
Untuk diketahui, Sekolah Peduli Inflasi sekaligus merupakan ajang untuk mengenalkan inflasi sekaligus memupuk kepedulian mereka untuk ikut mengendalikan inflasi. Salah satunya, dengan menerapkan urban farming. Praktik bercocok tanam sejumlah komoditas yang jadi tolok ukur inflasi itulah yang kemarin dinilai.
Tim juri mendatangi MTsN 2 Kota Kediri, SMPN 7 Kota Kediri, SMPN 9 Kota Kediri. Kemudian, SMPN 5 Kota Kediri, SMP Plus Arrahman, SMP Plus Rahmat, dan SMPN 2 Kota Kediri. “Hari ini (kemarin, Red) adalah hari pertama pemantauan Sekolah Peduli Inflasi,” kata Samudi, dosen Agroteknologi Universitas Islam Kadiri, salah satu juri.
Dalam pemantauan dan penilaian tahap pertama kemarin, menurut Samudi juri melihat proses, progres, keterlibatan elemen sekolah, dan kreativitas mereka dalam menerapkan urban farming. Sedangkan untuk output akan dilakukan pada bulan ketiga atau Agustus nanti. “Di awal ini kami akan menilai empat komponen. Tentu saja disana terdapat indikator yang harus dipenuhi,” lanjutnya terkait komponen-komponen yang sudah dirinci tersebut.
Jika dari empat kriteria yang ada itu belum terpenuhi, menurutnya masih bisa dilakukan perbaikan pada periode kedua dan ketiga. Selanjutnya, hasil penilaian di tiga tahapan itu akan diambil rata-ratanya. Dari sana akan didapat total skor tiap sekolah.
Karenanya, menurut Samudi pekerjaan rumah (PR) peserta SPI adalah mengamankan, menjaga atau mempertahankan tanaman dalam tiga bulan ke depan. Dia berharap sebanyak 150 bibit yang diberikan bisa berproduksi maksimal.
Bagaimana hasil penilaian kemarin? Menurut Samudi, dari tujuh sekolah yang dikunjungi, mayoritas jumlah populasinya masih dibawah standar yang dibutuhkan. Terkait keberagaman tanaman juga dinilai kurang bervariasi. Di antaranya, terkait inisiatif mengganti tanaman yang mati atau tambal sulam.
Sementara itu, Eni Widarti Budiastuti, pembina Pokja SMPN 7 Kota Kediri mengatakan, tanaman-tanaman urban farming sekaligus jadi pembelajaran untuk siswa. Selain pembelajaran IPA, biologi, juga untuk pelajaran bahasa Indonesia, dan IPS. “Tanamannya ada tomat, cabai besar, dan cabai kecil ini bisa jadi bahan ajar,” tutur Eni.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah