KEDIRI, JP Radar Kediri – Selain adu nilai dan prestasi, pendaftar tiga SMK negeri di Kota Kediri harus bisa memenuhi beberapa persyaratan khusus agar bisa diterima. Di antaranya, harus lolos tes kesehatan untuk sejumlah jurusan yang akan dimasuki. Karena alasan itu pula, tes kesehatan dilakukan sebelum pendaftaran dimulai.
Pantauan koran ini di SMKN 2 Kota Kediri kemarin, sejumlah siswa masih melakukan verifikasi nilai untuk mengambil personal identification number (PIN). Di saat yang sama, ratusan siswa mengikuti tes kesehatan buta warna dan pengukuran tinggi badan.
“Saya ingin masuk jurusan perkantoran. Tadi (29/5) pas dites tinggi badan juga sudah memenuhi,” aku Safa Ardelia, lulusan SMPN 8 Kota Kediri yang kemarin juga memverifikasi berkas di SMKN 2 Kediri.
Kepala SMKN 2 Kediri Zamroji mengungkapkan, hingga hari kedua verifikasi kemarin memang sudah banyak siswa yang mengikuti tes kesehatan. Sesuai ketentuan, siswa yang selesai melakukan verifikasi berkas dan ingin masuk ke SMK memang harus mengikuti tes kesehatan. “Diarahkan untuk tes persyaratan teknis dengan mengukur tinggi badan dan tes buta warna,” terang Zamroji.
Terpisah, Kasi SMA/SMK Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) Provinsi Jatim Wilayah Kediri Chairul Effendi membenarkan terkait tes persyaratan teknis. Tes itu menurutnya untuk memetakan siswa yang bisa mendaftar di jurusan tertentu. “Beberapa keahlian mewajibkan calon peserta didik tidak boleh buta warna,” papar Chairul.
Yaitu jurusan teknologi manufaktur dan rekayasa, energi pertambangan, teknologi informasi. Kemudian, jurusan kesehatan dan pekerjaan sosial, seni dan ekonomi kreatif serta pariwisata. Demikian pula jurusan teknik ketenagalistrikan.
Selebihnya, ada jurusan yang mensyaratkan tinggi badan tertentu. Yakni,
pariwisata, perhotelan, teknik alat berat, teknik mekanik industri, dan teknik permesinan. “Tinggi badan perempuan paling rendah 153 sentimeter (cm) dan untuk laki-laki 158 cm,” jelas Chairul.
Terpisah, Kasi SMK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim Wilayah Kediri Sidiq Purnomo mengatakan, siswa yang buta warna atau tinggi badan kurang memang tidak leluasa memilih jurusan. Namun, dengan tes kesehatan digelar di awal, siswa bisa memilih jurusan lain yang tidak memiliki persyaratan khusus. “Jadi, kalau memang buta warna ya berarti bisa memilih jurusan yang tidak ada persyaratan khusus,” tegasnya.
Seperti halnya SMK, Sidiq menyebut, persaingan calon peserta didik dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMK juga sama ketatnya. Berdasar pengalaman tahun lalu, pagu di tiga SMK negeri Kota Kediri tidak akan bisa menampung semua pendaftar. Sebab, jumlah pendaftar mencapai 2-3 kali lipat dari pagu sekolah.
Jika pendaftar SMA didominasi siswa asal Kota Kediri, menurut Sidiq pendaftar SMK mayoritas merupakan warga luar Kota Kediri. “SMK kecenderungannya pendaftar lebih banyak dari Kabupaten Kediri dan sekitarnya,” jelas Sidiq.
Untuk diketahui, pagu dari tiga SMK di Kota Kediri mencapai 1.908 anak. Rinciannya, pagu SMKN 1 sebesar 828 anak, SMKN 2 684 anak, dan SMKN 3 sebanyak 396 anak. Belajar dari pengalaman tahun lalu, jumlah pendaftar di tiap sekolah bisa mencapai ribuan anak. Sehingga, persaingan akan berlangsung sangat ketat.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah