JP RADAR KEDIRI-Bisnis buku semakin termarginalisasi. Seiring menyusutnya minat pembaca di era kepesatan teknologi informasi. Toh, masih ada yang berusaha bertahan, meskipun harus menerima tekanan hebat.
Beberapa tahun silam, bila berbicara tentang literasi pasti yang terpikirkan adalah buku. Karena buku adalah wujud nyata dari geliat literasi saat itu.
Namun, seiring perkembangan zaman, literasi sudah melebarkan spektrumnya. Literasi kini tak lagi sekadar kemampuan menulis dan membaca saja. Melainkan juga diartikan sebagai kemampuan mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup.
Di sisi lain, peran buku sebagai agen ilmu dan pengetahuan juga mulai tergantikan. Kehadiran internet dengan segala kemajuannya yang serba cepat menjadikan lembar-lembar buku seperti seekor siput yang berlomba lari dengan kancil. Suatu keadaan yang secara langsung mengurangi eksistensi toko buku.
Baca Juga: Disdik Kabupaten Kediri Targetkan Kurangi Angka Putus Sekolah
Beberapa toko buku besar pun banyak bertumbangan. Sebut saja Toga Mas. Toko buku yang dulu berada di Jalan PK Bangsa Kota Kediri itu sudah menghilang sejak 2023 lalu. Tempatnya bahkan sempat menjadi markas pemenangan capres-cawapres. Dan, kini terpasang tulisan ‘Disewakan’.
Tapi, tak semua toko buku menyerah. Ada yang masih bertahan dari gempuran digitalisasi. Salah satunya adalah Toko Oscar di Jalan Ahmad Yani 85 Kota Kediri.
Sang manajer, Ferancesco Oscar, mengakui soal penurunan jumlah konsumen itu. Di antara penyebabnya adalah sistem pendidikan dan pandemi Covid-19.
“Dulu sehari 40-50 pembeli bisa. Sekarang sehari 10 pembeli saja sudah bagus,” lanjutnya.
Pandemi Covid-19 memang melumpuhkan perekonomian. Tapi menurutnya, yang juga berdampak pada penurunan konsumen buku adalah perubahan sistem pendidikan.
Baca Juga: Pendaftaran Peserta Kompetisi Akademik Jawa Pos Radar Kediri Diperpanjang Hari Ini
“Semenjak nggak ada UN (ujian nasional, Red) itu permintaan buku pelajaran berkurang sekali,” aku pria yang menjadikan ketersedian stok dan potongan harga jadi strategi untuk bertahan itu.
Bergeser ke wilayah Kabupaten Kediri, beberapa toko juga berusaha bertahan. Terutama yang berada di wilayah Kampung Inggris Pare. Seperti milik Sukamto ini. Meskipun dia mengakui bahwa jumlah pembelinya jauh berkurang dibanding beberapa tahun silam.
“Orang beli buku sudah jarang. Kalah sama HP (handphone, Red). Sekarang baca lewat soft file,” ucap pria 45 tahun ini sembari duduk di kursi kasir.
Siang itu, toko Kamto sangat sepi. Sempat ada pembeli yang masuk. Melewati meja kasir, menuju rak berisi deretan buku. Tapi, yang diambil ternyata hanya alat tulis.
Pria yang tokonya bersebelahan dengan tempat kursus besar ini mengatakan penjualan menurun bermula ketika pandemi Covid-19. Dia sempat mengantisipasinya dengan berjualan secara online. Tapi, setahun terakhir keadaannya sudah sangat parah.
Baca Juga: Keren! Semua Sekolah di Kota Kediri Buka Kantin Kejujuran
"Sekarang sehari paling dapat Rp 100 ribu. Sebelumnya, paling tidak, bisa Rp 500 ribu," aku pria yang memulai usaha pada 2007 ini.
Untungnya, sebagai basis kursus bahasa Inggris, buku yang bertemakan bahasa Inggris bisa jadi dewa penolong. Selain novel yang juga masih dicari. Itupun yang penulisnya ternama seperti Pramoedya Ananta Toer atau Tereliye.
Kamto pernah merasakan masa keemasan pada periode 2010-2014. Yang datang tak hanya dari Pare tapi dari wilayah Kediri Raya. Terutama para mahasiswa dan pelajar yang kursus di Kampung Inggris.
Nasib lebih mengenaskan dirasakan Masruroh. Dia bahkan tidak lagi menambah koleksi buku baru. Hanya memajang buku yang tersisa. Itupun terlihat berdebu karena tak lagi dibersihkan.
Baca Juga: Tak Hanya KIP Kuliah Saja, Ini Jenis Beasiswa Yang Bisa Dimanfaatkan Mahasiswa Baru
“Wis nggak nyetok,” ucap wanita 45 tahun ini sambil mengatakan sudah berganti berjualan makanan dan kebutuhan anak kos yang lebih ada pembelinya.
Penurunan konsumen juga dirasakan toko buku modern seperti Gramedia. Meskipun penjualan buku fisik masih jadi sektor income terbesar, namun sudah tak lagi jadi satu-satunya produk yang dijual.
“Secara kontribusi, tertinggi tetap buku. Antara 60-70 persen,” aku Kusuma Triwardhana, supervisor toko yang berada di Jalan Jayabaya Kota Kediri tersebut.
Menurut Dhana, minat baca masyarakat sebenarnya masih tinggi. Hanya, diperlukan inovasi agar mereka tertarik dengan buku.
“Kami sering mengadakan event. Bahkan sampai merambah ke luar kota. Jadi gimana caranya semakin banyak masyarakat yang tumbuh rasa literasinya. Baik itu mulai dari tahap sekolah sampai dewasa,” urainya.
Baca Juga: Calon Siswa Anak Berkebutuhan Khusus di Kota Kediri Tak Leluasa Pilih Sekolah Negeri, kok Bisa?
Menurutnya, manajemen toko buku tetap harus menyesuaikan kebutuhan pasar. Seperti membuka kunjungan dari siswa, menyelenggarakan bedah buku, hingga berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan stakeholder. Dengan berorientasi pada pasar, maka selalu akan ada hal baru yang bisa menarik minat baca masyarakat.
“Di sisi lain kami tidak melulu bisnis sebenarnya. Ada sosialnya juga. Seperti saat ada anak kecil belanja ke sini. Jangan sampai anak full gadget. Itu visinya,” pungkasnya.
Kegemaran Membaca Rendah, Butuh Peran Banyak Pihak
Kota Kediri agaknya masih punya pekerjaan rumah untuk meningkatkan kegemaran membaca warganya. Sebab, berdasarkan laporan kajian tingkat kegemaran membaca (TGM) Jawa Timur 2023, Kota Kediri menduduki peringkat dua dari bawah dengan nilai 54,2. Hanya lebih baik dari Kabupaten Sampang yang berada di posisi buncit.
Penentuan nilai TGM itu berdasarkan kajian terhadap lima faktor. Yakni, frekuensi membaca, durasi membaca, jumlah buku yang dibaca, frekuensi akses internet, dan durasi akses internet. Dari kelima indikator itu, Kota Kediri seluruhnya mendapat predikat ‘sedang’.
Terkait hal itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Eko Lukmono Hadi membenarkannya. Menyikapi itu, Pemerintah Kota Kediri terus berupaya meningkatkan tingkat kegemaran masyarakat melalui berbagai cara.
Baca Juga: Calon Siswa Anak Berkebutuhan Khusus di Kota Kediri Tak Leluasa Pilih Sekolah Negeri, kok Bisa?
“Kami menjalankan fungsi pembinaan terhadap minat baca warga Kota Kediri. Tugas kami salah satunya memanfaatkan perpustakaan umum daerah sebagai perpustakaan rujukan,” kata Eko.
Beberapa langkah yang dilakukan untuk mengakomodasi hal itu antara lain meningkatkan pelayanan perpusda. Jam operasional yang sebelumnya terbatas, kini ditambah. Yakni, buka hingga pukul 20.00. Serta juga beroperasi meskipun Sabtu yang sebenarnya hari libur bagi ASN.
“Kami juga berupaya menambah jaringan internet agar pembaca lebih nyaman di perpustakaan daerah. Selain itu, koleksi buku juga kami tambah,” tandasnya.
Yang tak kalah penting dalam upaya menumbuhkan minat baca adalah menyediakan bacaan untuk masyarakat. Salah satunya melalui sudut baca di setiap instansi atau gedung pelayanan publik.
“Itu seharusnya bisa menjadi rangkaian pelayanan di institusi itu,” tandasnnya.
Namun demikian, sudut baca tidak lagi hanya buku. Melainkan segara aktivitas yang bisa memicu minat baca masyarakat juga bisa dikategorikan sebagai sudut baca.
“Misal contohnya ruang pelayanan publik disediakan koran. Itu kan sebenarnya bagian dari sudut baca juga. Karena membaca itu tidak hanya konteks membaca buku saja. Membaca koran juga termasuk bagian penilaian kita untuk tingkat kegemaran membaca,” tandasnya.
Dengan begitu, pihaknya pun terus mengedukasi pihak-pihak terkait agar setidaknya menerapkan hal tersebut. Tujuan utamanya tetap agar kegemaran membaca masyarakat bisa meningkat.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah