NGANJUK, JP Radar Kediri - Memperingati Hari Pendidikan Nasional 2024, SDN 2 Ngadiboyo menggaungkan semangat merdeka belajar dan membangkitkan nilai-nilai filsafat pendidikan sebagaimana pemikiran Ki Hajar Dewantara.
Kegiatan dimulai dengan melaksanakan upacara bendera. Seluruh peserta mengenakan pakaian adat dengan maksud implementasi penanaman profil pelajar Pancasila. “Kami ingin melestarikan budaya kebhinekaan yang diwariskan leluhur bangsa," ujar Sumarno, Kepala SDN 2 Ngadiboyo, Rejoso.
Dalam sambutannya, Sumarno menyampaikan pentingnya pendidikan untuk anak dan kerja sama dari berbagai pihak (baik dari lingkup keluarga atau wali murid, sekolah, dan lingkungan masyarakat) sebagai ujung tombak untuk memajukan pendidikan nasional.
Salah satunya membangkitkan nilai-nilai filsafat pendidikan Ki Hajar Dewantara kepada seluruh warga sekolah, seperti konsep Tripusat Pendidikan, Konsep belajar Tri Nga, hingga trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara serta menekankan pentingnya merdeka belajar yang dicetuskan oleh menteri pendidikan Nadiem Makarim.
Sumarno mengingatkan bahwa Bapak Pendidikan Ki Hajara Dewantara mengemukakan konsep Tripusat pendidikan dengan menyatakan bahwa ada tiga pusat tempat yang sangat penting untuk tumbuh kembangnya anak, yaitu keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda.
Yang mana menurut UU No 20 Tahun 2003 disebutkan pendidikan keluarga, sekolah, dan pendidikan masyarakat. Di lingkungan sekolah, tripusat pendidikan sangat diperlukan agar terjalin kerjasama yang apik untuk menciptakan suasana belajar mengajar yang baik sehingga mampu memberikan dampak positif terhadap potensi anak dan pengembangan karakter anak.
Tripusat pendidikan itu terdiri atas sekolah (kepala sekolah, guru, siswa), keluarga (wali murid), dan masyarakat (komite sekolah atau warga masyarakat lingkungan sekolah juga organisasi lainnya).
"Selain dengan kerja sama, dalam memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak maka juga harus memerhatikan sebuah konsep belajar dalam pendidikan, yang mana jika kita membaca dan mengikuti jejak Ki Hajar Dewantara akan mengenal konsep belajar yang disebut konsep Tri Nga" jelasnya.
Konsep Tringa terdiri atas ngerti, ngrasa, lan nglakoni. Konsep ini menekankan bahwa untuk memaksimalkan hasil pembelajaran dan pendidikan maka siswa perlu untuk dibimbing hingga mampu menguasai pengetahuan yang sedang dipelajari (ngerti), mengambil sikap positif dari proses pembelajaran (ngrasa), dan mempraktikkan dari proses pembelajaran (nglakoni). Harapannya anak tidak hanya dididik intelektualnya saja (kognitif) dalam isitlah Ki Hajar Dewantara ‘ngerti’, melainkan juga ada keseimbangan dengan ‘ngrasa’ (afektif) serta ‘nglakoni’ (psikomotorik).
Tidak hanya berfokus pada siswa, kemajuan pendidikan juga harus memberikan penekanan terhadap guru sebagai salah satu unsur penting dalam proses pembelajaran.
Guru juga harus memahami peran dan fungsinya dengan baik, sehingga akan mampu mendiagnosis anak didik dengan tepat dan menentukan langkah yang optimal untuk menghantarkan perkembangan anak didik untuk berprestasi.
Guru dapat memahami dan mengimplementasikan konsep trilogi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang sampai saat ini masih menjadi semboyan pendidikan bangsa Indonesia, yaitu Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Inti dari konsep tersebut adalah guru di depan harus menjadi panutan, di tengah menjadi penyemangat, dan di belakang menjadi pendorong. Tujuannya anak didik benar-benar akan mengeksplorasi kemampuannya untuk menemukan jati diri dengan keunikannya masing-masing.
Konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara sangat berfokus kepada perkembangan anak didik yang didasarkan pada asas kemerdekaan, yang mana selaras dengan program pendidikan yang diusung Indonesia saat ini, yakni program kebijakan merdeka belajar yang dicanangkan oleh Menristek, Nadiem Anwar Makarim.
Konsep merdeka belajar menjadi sebuah terobosan pendidikan yang potensial. Merdeka belajar mencerminkan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang menekankan pada kemerdekaan atau kemandirian dalam berpikir dan belajar anak didik untuk mengeksplorasi dan mengembangkan minat bakatnya.
Setelah kegiatan upacara, dilanjutkan dengan kegiatan pembagian buku dari dinas pendidikan kabupaten nganjuk sejumlah 10 buku per siswa sebagai wujud pelayanan standar minimal pendidikan dan sebagai bentuk dorongan atau motivasi kepada anak bangsa agar lebih giat belajar dan bersekolah guna mencapai cita-cita.
Selain itu juga digelar perlombaan-perlombaan yang diikuti oleh seluruh siswa sebagai wujud implementasi dari nilai-nilai semangat pendidikan dari Ki Hajar Dewantara dan Bapak Menteri Pendidikan serta wujud implementasi tujuan pendidikan yang dibagi dalam tiga ranah domain, yaitu ranah kognitif (cerdas cermat tentang literasi dunia pendidikan, seperti sejarah pendidikan dan tokohnya), afektif (mewarnai), dan psikomotorik (menyanyi dan memainkan gamelan).
Harapannya dengan mengingat dan mengisi momentum hari pendidikan nasional ini semua pihak dalam institusi pendidikan khususnya SDN 2 Ngadiboyo dapat mengoptimalkan makna pendidikan dan proses pembelajaran sebagaimana yang dicita-citakan oleh Ki Hajar Dewantara dan Mendikbudristek Bapak Nadiem Makarim sehingga dapat menciptakan generasi emas yang sesuai dengan profil pelajar pancasila.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah