Hal tersebut diungkapkan oleh Wali Kota Abdullah Abu Bakar yang kemarin menghadiri ground breaking SMPN 9. Menurutnya, di Kota Kediri selama ini hanya ada tiga SMP inklusi. Yakni, SMPN 1, SMPN 5, dan SMPN 8. “Dengan pengoperasian SMPN 9 ini berarti ada empat sekolah yang bisa menampung siswa berkebutuhan khusus,” katanya.
Pengoperasian SMPN 9, menurut Abu juga jadi komitmen pemkot dalam pemerataan pendidikan. Selama ini jumlah SMPN terbanyak di Kecamatan Kota sebanyak empat lembaga. Kemudian, di Kecamatan Mojoroto tiga lembaga. Sedangkan di Kecamatan Pesantren hanya ada SMPN 5.
Karenanya, keberadaan SMPN 9 membuat siswa di wilayah timur Kota Kediri memiliki alternatif untuk mendaftar ke sekolah negeri lain di sana. “Mudah-mudahan (SMPN 9, Red) ini mengurangi disparitas layanan pendidikan di Kecamatan Pesantren,” harap Abu.
Orang nomor satu di Pemkot Kediri ini berharap pembangunan SMPN 9 bisa selesai tahun ini. Setelah fisik selesai, wali kota dua periode itu menyebut pemkot akan memberi fasilitas yang komplet. Sarana dan prasarana di sana akan mulai dipenuhi tahun depan.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Kediri Siswanto menambahkan, tahun depan siswa baru SMPN 9 bisa menempati gedung mereka sendiri. Sebanyak 150 siswa yang saat ini menempati ruangan di SMPN 5 itu bisa menikmati sejumlah fasilitas baru di sana.
Siswanto memastikan, sarpras di SMPN 9 akan jauh lebih lengkap dibanding SMPN lain. Apalagi, sebagai sekolah inklusi berarti disdik harus menyiapkan sarana yang ramah untuk siswa difabel.
Dengan demikian, diharapkan anak-anak berkebutuhan khusus di sana tidak merasa didiskriminasi. Sebab, mereka sudah mendapat pelayanan yang memadai untuk beraktivitas. “Semua akan ditata sedemikian rupa agar menjadi yang terbaik,” janji Siswanto.
Dia mencontohkan, salah satu fasilitasnya adalah tangga sekolah ramah difabel yang bisa jadi akses kursi roda. Selanjutnya, disdik juga akan membangun sarpras olahraga yang lengkap. Di antaranya, dilengkapi ruang olahraga indoor, laboratorium komputer, dan beberapa fasilitas lainnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah