Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tahun Ajaran Baru, Sekolah Swasta di Kota Kediri Kelabakan Dapatkan Siswa

Anwar Bahar Basalamah • Senin, 11 Juli 2022 | 17:28 WIB
KOSONG: Guru SMP PGRI 4 Kota Kediri menunjukkan ruangan yang akan digunakan sebagai musala sekolah. Problem kekurangan siswa membelit banyak SMP swasta di Kota Kediri. (Foto: Ilmidza Amalia Nadzira)
KOSONG: Guru SMP PGRI 4 Kota Kediri menunjukkan ruangan yang akan digunakan sebagai musala sekolah. Problem kekurangan siswa membelit banyak SMP swasta di Kota Kediri. (Foto: Ilmidza Amalia Nadzira)
Dari tahun ke tahun masalah yang membelit sekolah swasta tetap sama, kesulitan menjaring murid baru. Mereka pun harus bekerja keras agar sekolah mereka tetap eksis.

Memenuhi kuota siswa. Itulah pekerjaan berat yang harus dilakukan sebagian besar sekolah swasta. Terutama di level sekolah menengah pertama dan atas.

Segala upaya telah mereka lakukan. Mulai dari menyebar brosur ke sejumlah sekolah dasar yang berada di sekitarnya, promosi ke kantung-kantung siswa, hingga ada yang mendatangi calon siswa secara door to door. Toh, seringkali cara itu tak mampu membawa hasil yang memuaskan.

Salah satu contoh adalah yang dilakukan SMP PGRI 4 Kota Kediri. Lembaga pendidikan yang berada di Jalan Semeru Gg 6, Campurejo ini harus mencari siswa hingga ke luar wilayah. Sampai ke wilayah kabupaten. Hanya sebagian kecil saja siswa mereka yang merupakan penduduk Kota Kediri.

“Siswa kota lebih tertarik (mendaftar) zonasi sekolah negeri. Di sekitar sini kan banyak sekolah negeri,” ucap sang kepala sekolah, Andik Rachmanto.

Beberapa cara mereka tempuh agar mampu memikat calon siswa. Seperti memberi kompensasi kepada calon siswa. Mereka yang ingin masuk tak dikenakan biaya pendaftaran. Juga, menggratiskan pakaian seragam.

“Meskipun program seragam gratis ini memang dari pemerintah tapi sebagian masyarakat bisa saja tertarik saat kami sebutkan bahwa seragam diberikan gratis,” akunya.

Lalu, berhasilkah cara itu? Ternyata, masih jauh panggang dari api. Hingga kemarin, yang mendaftar ke sekolah itu baru satu orang saja.

Situasi seperti sekarang memang sangat dilematis bagi lembaga-lembaga pendidikan formal swasta. Mereka sebenarnya punya beberapa keunggulan. Sayang, label swasta sering tak dilirik oleh calon siswa.

Andik meyakinkan, sekolah yang dipimpinnya punya keunggulan. Seperti adanya program ekstrakuriler dari olahraga hingga kesenian.

Kondisi-kondisi seperti itu yang membuat Andik juga realistis. Mereka tak menargetkan sesuatu yang muluk. Hanya berusaha mendapatkan satu rombongan belajar (rombel) gemuk. Yang diisi 25-30 siswa. Namun, target itu juga terasa berat untuk saat ini. Karena mendapatkan 15 siswa saja susahnya minta ampun. Jauh berbeda dengan situasi tahun-tahun sebelumnya, ketika sistem zonasi belum diterapkan.

“Setelah pengumuman PPDB zonasi tanggal 11 (Juli) ini kami tunggu apakah ada limpahan siswa dari negeri. Kami sih sudah berkoordinasi dengan disdik (dinas pendidikan, Red). Sudah mengirimkan surat terkait kebutuhan siswa di sekolah kami,” papar pria yang tinggal di Kelurahan Bujel ini.

Sekolah lain yang juga mengalami situasi sama adalah SMP Hasanuddin. Sekolah di Jalan Mastrip, Kelurahan Sukorame, Kota Kediri ini juga terbelit persoalan kesulitan mendapatkan murid.

“Persaingan tiap sekolah swasta semakin sengit untuk mendapatkan siswa,” aku Kepala SMP Hasanuddin Sucipto.

Mau tak mau, para tenaga pendidik di sekolah swasta harus putar otak. Menemukan cara agar bisa menggaet siswa lebih banyak. Mereka bahkan harus terjun langsung ke lapangan. Mendatangi rumah-rumah di sekitar sekolah yang memiliki anak usia SMP. Itu mereka lakukan usai pengumuman PPDB jalur zonasi keluar.

“Ya kami menunggu pengumuman zonasi dulu. Baru kami jalan ke rumah-rumah warga yang anaknya tidak lolos sekolah negeri,” terangnya.

Keberadaan sekolah negeri juga menjadi ancaman tersendiri bagi sekolah swasta ini. Misalnya, di dekat SMP Hasanuddin ada SMPN 9 Kota Kediri, yang baru berdiri tahun ajaran ini. Hal itu jelas semakin menyulitkan upaya sekolah partikelir itu dalam bergerilya murid. Karena calon siswa yang ada di sekitarnya tentu lebih tertarik masuk sekolah negeri melalui jalur zonasi.

Belum lagi keberadaan SMP terbuka. Yang juga bakal mengurangi pasar mereka dalam mendapatkan murid. Di Kota Kediri, SMP terbuka ada di SMPN 6 Kota Kediri.

Yang terjadi adalah kepasrahan. Cip, demikian kepala sekolah ini biasa disapa, tak terlalu muluk-muluk mengincar jumlah siswa baru.  “Kami saja hanya punya 43 siswa. Hanya ada satu rombongan belajar. Per kelas sekitar 12 sampai 15 siswa,” akunya.

Ketua PPDB SMPN 6 Kota Kediri Budi Pramono membenarkan jika pihaknya juga menaungi SMP terbuka. Meskipun siswanya saat ini hanya 30 anak namun itu juga menjadi saingan bagi SMP swasta yang lain. “Kami tidak kekurangan siswa, malah membeludak,” tandasnya. Editor : Anwar Bahar Basalamah
#SMP swasta #radar kediri #berita terkini #murid #tahun ajaran baru #pendidikan #ajaran baru #siswa #murid smp #ppdb zonasi #sekolah swasta #ppdb 2022 #siswa smp #Campurejo #info terkini #ppdb #zonasi sekolah negeri #ppdb kota kediri 2022 #SMPN 9 Kota Kediri #smp swasta kota kediri #pendaftaran smp swasta #ppdb jalur zonasi #SMP Hasanuddin #SMPN 6 Kota Kediri #ppdb kota kediri #SMP PGRI 4 Kota Kediri