Namanya rumah tangga pasti tidak selalu berjalan mulus. Ada suka dan duka yang harus dilewati. Sayangnya tidak semua pasangan mampu bertahan hingga titik darah penghabisan. Banyak mereka yang bubar di tengah jalan karena tak berhasil melewati cobaan tersebut.
Seperti rumah tangga Yu Minthul dan Kang Dalbo. Pasangan suami istri (Pasutri) asal Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini terpaksa berakhir karena kondisi perekonomian yang semrawut.
“Mulai muncul percikan-percikan api ya nalika bojoku dipecat soko pekerjaane,” terang Yu Minthul.
Kang Dalbo ini saat menikah dengan Yu Minthul masih berstatus sebagai pegawai badan usaha milik negara (BUMN) yang ada di wilayah Surabaya. Meskipun menjalani long distance marriage (LDM) tak menjadi masalah. Kehidupan rumah tangga tetap bahagia. Karena serba berkecukupan.
Bahkan Yu Minthul pun juga melepaskan pekerjaannya demi mendampingi suaminya. Padahal deweke juga punya karir yang mentereng sebelum menikah. Yen istilahe jaman saiki budak korporat.
“Bayaranku jaman semono kae per bulan bisa Rp 5 juta. Belum lagi tambahan-tambahannya. Pokoke terjamin banget uripku, makane nalika diajak Kang Dalbo nikah gelem wae soale gajine luwih gede,” gerutu Yu Minthul.
Ya, ketika menikah deweke membayangkan bisa hidup layaknya wanita-wanita di negeri dongeng. Yang kehidupannya serba enak, anak ada yang mengurus, begitupun semua urusan rumah tangga sudah tertata rapi.
Pikiran seperti ini muncul karena lingkungan Yu Minthul selama ini adalah orang-orang berada. Tak heran impian memiliki kehidupan yang jauh lebih enak ketika menikah itu muncul.
“Sakjane tiga tahun menikah kehidupanku lan bojo wes sesuai karo karepku. Nanging aku ora pernah bayangke yen kudu enek di titik jatuh kayak ngene iki,” omel Yu Minthul.
Memang namanya hidup tidak ada yang tahu. Terkadang bisa di atas, namun juga bisa di bawah. Banyak dari mereka yang selalu berpikiran ingin di posisi teratas, namun tak pernah menyiapkan langkah ketika berada di posisi paling bawah.
Tak heran ketika menemui cobaan banyak orang yang kelimpungan. Ada yang tetap bertahan, tak jarang juga ada yang memilih menyerah karena tak bisa menerima keadaan.
“Satu tahun terakhir iki aku wes ngancani masa angele bojoku merga dipecat. Ekonomi berantakan, termasuk aku wes ora iso menikmati hidup. Tambah mumet nalika bojoku isine nesu-nesu wae,” beber Yu Minthul.
Karena tak betah, akhire Yu Minthul memilih berpisah. Itu setelah melalui pemikiran yang cukup panjang. Deweke berupaya berdiskusi dengan orang tuanya dan psikolog pribadinya. Hasilnya semua menyarankan untuk berpisah demi kesehatan mentalnya dan dua anaknya.
“Memang disarankan pegatan wae, soale bojoku iki ternyata nalika ora nduwe duwit hobine nesu-nesu wae. Ora peduli sopo sing ditemui, yen pengen nesu kabeh dinesuni termasuk anakku,” pungkasnya.
Tentu sikap yang seperti itu tidak baik bagi pertumbuhan sang anak. Tak heran Yu Minthul memilih pegatan dan berupaya kembali bekerja untuk menghidupi kedua anaknya yang masih dini itu. (la/fud)
Editor : Mahfud