Duwe bojo sing seneng ngatur ada penak dan tidaknya. Penake, si istri merasa diperhatikan dan disayang. Tapi, ora penake, lama-lama merasa ora bebas. Urip serba-terkekang.
Seperti itulah yang dirasakan oleh Yu Minthul, warga salah satu desa di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri ini.
Sangking posesifnya Sudrun, ibarate Yu Minthul sampek ora bisa ambekan.“Masak nang endi-endi kudu laporan. Kudu ngirim gambar setiap jam,” gerutu karyawan bank ini.
Sakjane, kelakuan Sudrun sing seneng ngatur kuwi wis terlihat nalika pacaran. Deweke mesti telpon pas keduanya tidak bersama.
Jaluk diwenehi kabar, nang endi panggonane, atau jaluk kiriman foto karo sapa Yu Minthul sedang beraktivitas saat itu.
Awale Yu Minthul merasa biasa saja dengan sikap Sudrun sing wis berlebihan itu. Deweke mengira sikap posesif iku muncul gara-gara mereka berdua menjalin hubungan jarak jauh atau bahasa gaule saiki long distance relationship (LDR).
Berpacaran selama tiga tahun pun berakhir di kursi pelaminan. Mereka resmi menikah pada 2023 lalu.
Dari pernikahannya, Sudrun dan Yu Minthul dikaruniai satu orang anak cowok yang tampan dan menggemaskan.
Ternyata, setelah rabi tabiate Sudrun ora berubah. Bahkan, luwih ngaturan maneh. “Bojoku kudu weruh kanca kantorku. Bahkan kanca-kancane anakku wae ya kudu dikenalne siji- siji,” omel Yu Minthul.
Semakin lama, Yu Minthul pun mulai risih dengan sikap posesif Sudrun. Deweke merasa tak bisa leluasa dengan kegiatan sehari-harinya.
Suatu ketika, Yu Minthul bertemu dengan kliennya cowok. Ndilalah, ada temannya Sudrun yang mengetahui hal itu dan mengirim fotonya.
Sudrun sing oleh foto saka kancane langsung nesu. Yu Minthul wis ora oleh kerja neng bank maneh.
“Ya aku wegah dikongkon metu. Kerja di bank adalah impianku sejak kecil. Masak kudu tak korbankan demi bojoku,” ujarnya dengan nada tinggi.
Karena Yu Minthul ngotot tak mau keluar, akhirnya Sudrun mau mengalah. Deweke mengizinkan Yu Minthul bekerja asalkan saat bertemu dengan kliennya harus ditemani oleh Sudrun.
Kontan saja itu membuat ruang gerak Yu Minthul semakin terbatas. Kliennya juga merasa kurang nyaman ketika ada orang lain yang ikut diskusi. Apa maneh, Sudrun sering nimbrung di pembicaraan.
“Akhir- akhir iki hawane kudu nesu wae. Bojoku (posesif) garai aku sensitif. Opo wae rumangsaku ora bener dan garai emosi,” tandasnya.
Kesal dengan sikap Sudrun, Yu Minthul balik bersifat agresif. Dia melawan. Caranya dengan menggugat cerai suaminya itu. Deweke wis ora betah harus tinggal serumah dengan bojone sing posesif tur mutungan. Peh!
Editor : Andhika Attar Anindita