Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Yu Minthul Ngronto gara-gara Salah Pilih Bojo

Hilda Nurmala Risani • Selasa, 26 Agustus 2025 | 16:18 WIB
Ilustrasi pertengkaran rumah tangga.
Ilustrasi pertengkaran rumah tangga.

Nduwe dulur titik tapi rukun sampek tuwek ngrumat wong tuwa pancen dadi cita-citane kabeh anak. Yu Minthul sing dadi anak tunggal uga nduwe cita-cita yang sama.

Perempuan yang tinggal di salah satu desa di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri itu awalnya begitu bahagia karena memiliki suami dengan lima saudara. Mereka sangat menyayangi kedua orang tuanya. Namun, seiring berjalannya waktu semuanya berubah.

Yu Minthul masih ingat benar kebiasaanya sebagai anak tunggal. Dia selalu menjadi yang pertama dan mendapat sesuatu dalam jumlah banyak. Namun, setelah menikah, privilege itu tidak lagi didapatkannya. Sebaliknya, dia harus sering mengalah dengan Sudrun, suaminya.

Sembarang sing didisikne keluargane. Ya aku ngerti yen dulur kandung ora ana gantine. Tapi kan ya enek bojone sing perlu diperhatikne,” gerutu Yu Minthul.

Awale saudara kandunge Sudrun pengertian dengan Yu Minthul. Entah kenapa, lama-lama mereka hanya memanfaatkan Yu Minthul. Dia menduga hal itu karena dirinya datang dari keluarga kaya dan anak tunggal.

Karenanya, adik ipar Yu Minthul sering meminjam uang atau barang-barang branded miliknya. Namun hingga beberapa minggu tidak segera dikembalikan. Alasannya masih dipakai untuk kegiatan.

Regane larang sing tuku wong tuwaku. Basan wadul bojoku jare wis bene disilih disik. Masak pelit karo adik ipar,” omel Yu Minthul.

Setahun berjalan Yu Minthul mulai kesal dengan keluarga Sudrun. Apa-apa njaluk dinomorsatukan. Sedangkan giliran Yu Minthul dan Sudrun, butuh dulure ilang kabeh.



Bahkan, satu-satunya orang yang masih mau membantu ya hanya wong tuwane Yu Minthul. “Bukane rabi tambah mandiri, justru aku luwih ngrepotne wong tuwaku merga kelakuan bojo lan iparku,” bebernya.

Satu tahun setelah menikah dengan Sudrun, Yu Minthul terlilit utang. Kuwi merga Sudrun sing sok dadi pahlawan neng keluargane. Padahal asline nggawe duwit utangan.

Sebaliknya, ketika Yu Minthul butuh belanja bojone selalu alasan ora duwe duwit. Dan ngongkon Yu Minthul njaluk  neng wong tuwane. “Lek karo aku gayane melas, basan neng keluargane sok jadi pahlawan. Wong kok ora isin” gerutu Yu Minthul.

Lambat laun, kekesalan dalam diri Yu Minthul pun menumpuk. Deweke pegel merga selalu dinomorduakan karo bojone. Bahkan kebutuhane wae ora bisa dicukupi

Setelah berpikir panjang deweke pun memilih njaluk pegatan. Setelah dipikir-pikir, Yu Minthul wegah kelara-lara. Apalagi deweke ora nduwe anak. Dia bertekad untuk mencari pengganti Sudrun yang lebih baik.

Karo wong tuwaku di kongkon pegatan wae. Jarene lek rabi ora marai aku bahagia terus digawe apa?” tandasnya dengan nada tanya.

Dari pernikahan dengan Sudrun, Yu Minthul bisa belajar bahwa memiliki banyak saudara bukan jaminan membuat hidupnya lebih bahagia. Ternyata urip dalam kesepian namun penuh ketenangan justru lebih membahagiakan. (la/ut)

Editor : Mahfud
#yu minthul #kang dalbo #peh