JP Radar Kediri- Urip satu rumah dengan mertua kuwi gampang-gampang angel. Seringnya ora cocok.
Kerep tukaran, bertengkar. Ujung-ujungnya menerima nasib kayak Yu Minthul ini, keluargane bubrah, bercerai.
Memang, sejak menikah dengan Kang Dalbo, Yu Minthul harus tinggal bersama sang mertua perempuan. Jenenge Mbok Ndewor.
Penyebabnya, si mertua itu sudah sebatang kara. Hidup seorang diri setelah suaminya meninggal.
“Sakjane pingine ngontrak. Nanging bojoku ora gelem. Jare mesakne neng ibuke,” ucap Yu Minthul, menjelaskan alasan dia terpaksa hidup seatap dengan mertua.
Padahal, keseharian Kang Dalbo sering tidak di rumah. Kerja neng pabrik sing ada di luar kota.
Otomatis, Yu Minthul harus tinggal berdua dengan Mbok Ndewor.
Praktis, hari-hari Yu Minthul pun penuh teror. Sang mertua kerep ngamukan.
Apa-apa ora cocok. Dan, yen nesu, apapun dijadikan sasaran.
Piring, gelas, mangkuk, dan semua peralatan dapur bisa jadi supermen. Melayang menuju ke arah dirinya.
“Kadang pas aku neng kamar, lawang digedor-gedor,” omelnya.
Apa karena kurang cakcek kalau tandang gawe di rumah Yu? Membuat mertua ora senang?
“Embuh wis, wong kabeh penggawean omah ya wis tak tandangi. Umbah-umbah, masak, korah-korah, nyapu omah, apa wae wis. Nanging ora marai mertuaku bungah atine,” gerutu Yu Minthul.
Ora wadul neng bojomu? “Wis, tapi jawabe aku kongkon sabar,” aku Yu Minthul.
Suatu saat, Yu Minthul merekam kejadian saat mertuane ngamuk. Ketika benda-benda dapur melayang ke arahnya.
Video itupun ditunjukkan ke orang tuanya sendiri. Sontak, kedua orang tuanya ora terima.
Mereka pun langsung menjemput dan membawa pulang.
Mediasi pun sempat dilakukan. Nanging, Kang Dalbo ora bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya, Yu Minthul mantap milih pegatan. Duh, gara-gara mertua congkrah, keluarga pun jadi bubrah.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah