JP Radar Kediri- Nduwe dulur akeh, rukun sampeh tuwek ngrumat orang tua pancen dadi cita-citane wong akeh. Yu Minthul sing dadi anak ragil uga nduwe cita-cita yang sama.
Perempuan yang tinggal di salah satu desa di Kecamatan Ngancar itu awalnya begitu bahagia karena memiliki delapan saudara yang rukun dan guyub saat kedua orang tuanya masih hidup. Namun, lambat laun semua berubah seiring waktu.
Yu Minthul masih ingat benar kebiasaanya bersama tujuh kakak lain dan keluarga saat lebaran. Semua pulang kampung ke Ngancar dengan mengajak keluarga. “Pokoke lek Idul Fitri omahe ibuk sampek ora cukup menampung. Rame pol,” kenang Yu Minthul.
Selama ini, kakak Yu Minthul memang banyak yang tinggal di luar kota. Bahkan tinggal di luar pulau. Karenanya, Idul Fitri jadi momentum untuk mudik.
Pulang kampung. Berkumpul dengan keluarga besar. Melepas kangen dengan orang tua dan keluarga besar.
Tinggal terpencar, Yu Minthul dan kakak-kakaknya memutuskan untuk membuat grup WhatsApp. Tujuannya, untuk memudahkan komunikasi dan koordinasi. “Biasane grup WhatsApp ya membahas kondisi bapak ibuk. Sembarang dibahas nek grup,” lanjut perempuan berusia 50 tahun itu.
Lambat laun, pembahasan di grup WhatsApp dirasa mulai tidak sehat. Ibu empat anak itu merasa dia dan keluarganya mendapat diskriminasi.
Diperlakukan berbeda dengan kakak-kakaknya yang kondisi ekonominya jauh lebih baik. “Asline diskriminasi iki wis suwe tapi aku wegah mikir sing elek. Wis sejak sebelum bapak ibuk sedo,” tuturnya.
Dari tujuh kakak Yu Minthul, semua berhasil berkarir di berbagai bidang. Salah satu yang paling moncer adalah Yu Menik. Kakak ketiganya itu menjadi karyawan salah satu bank. Sedangkan suaminya menjadi manajer di sebuah perusahaan.
Dengan kondisi ekonomi yang lebih mapan, Yu Menik sering mengajak semua saudara untuk berkumpul. Tidak jarang mereka juga diajak bepergian. Rekreasi bersama untuk merayakan ulang tahun atau moment kebersamaan lainnya. “Memang Mbakyuku iki sing paling Makmur dibanding dulur liyane,” papar Yu Minthul.
Yu Minthul pun tidak masalah dengan kondisi itu. Dia sadar jika setiap orang memiliki jatah kesuksesan dan rezeki masing-masing. Yu Minthul bisa menerima itu dengan berbesar hati. Sing nggarai Yu Minthul kecewa justru perlakuan kakak-kakaknya di grup WhatsApp bersama keluarga mereka.
Di mata Yu Minthul, kakak-kakaknya terlalu menyanjung dan mencari muka keluarga Yu Menik. “Pokoke apa wae sing dikarepne Mbakyuku langsung disetujui. Didukung. Manut kabeh,” lanjutnya.
Baca Juga: Ngaku-Ngaku Diselingkuhi Padahal Tukang Selingkuh
Perlakuan yang berbeda diberikan kepada keluarga Yu Minthul. Suatu kali, dia mengabari keluarganya di grup WhatsApp kondisi anaknya yang sedang sakit dan masuk rumah sakit.
Masa-masa seperti itu, Yu Minthul sedang membutuhkan banyak dukungan dari keluarganya untuk menguatkan. Namun, yang merespons dan mendoakan di grup hanya beberapa orang saja. “Sing jenguk nek rumah sakit ya cuma Mbakyuku sing mbarep. Liyane ora ketoro blas,” kenangnya.
Namun, hal itu tidak terjadi saat anak dari Yu Menik sakit. Grup WhatsApp keluarga langsung rame ngucapne dukungan dan doa.
Bahkan, kakak-kakaknya yang tinggal jauh dari Yu Menik rela menempuh perjalanan jauh untuk bisa menjenguk di rumah sakit. “Atiku langsung nelangsa. Sakjane aku iki ya adike tapi nyapo kok perhatiane beda,” sesal Yu Minthul.
Peristiwa tersebut membuat Yu Minthul mengingat kembali perlakuan kurang menyenangkan lainnya.
Puncak kemarahan Yu Minthul terjadi saat Sudrun, suaminya, menjadi olok-olokan di grup. “Pancen bojoku iki bayarane ora akeh kayak bojone Mbakyuku tapi sapa sing trima lek bojone dadi enyek-enyekan,” ketus Yu Minthul.
Diskriminasi juga sering dialami anak-anak Yu Minthul. Melihat hubungan yang sudah tidak sehat itu, Yu Minthul memilih keluar dari grup keluarga. Timbangane lara ati, Yu Minthul milih minggir timbang terus-terusan ngempet sing marai sirah mumet, ngelu, tekanan darahe duwur. Peh!
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah