JP Radar Kediri - Hidup bertetangga memang tidak mudah. Harus pintar menjaga perilaku dan saling menghargai. Itu perlu dilakukan agar hidup bertetangga tidak saling berselisih. Tapi iku kabeh mung teori. Pada praktiknya semua bisa jadi tidak sama.
Jaga hubungan apik iku angel angel gampang. Seperti yang terjadi di salah satu desa di Kecamatan Badas ini. Hanya karena membuang sampah, urip tonggoan malah dadi bubrah.
Cerita ini bermula ketika Yu Minthul, 58, membuang sampah seperti biasanya. Yakni di sebuah pekarangan milikinya, istilah jawanya, tempat itu dinamakan peceren. Nah, pekarangan tersebut bersebelahan dengan rumah Kang Dalbo, keponakan Yu Minthul.
“Lha pas ngguwak iku diclatu karo ponakane. Jarene sampean iku wis tuo, kok gaisa menghargai aku. Bar iku dipisuh-pisuhi,” ungkap Cemplon, yang juga keponakan wanita itu.
Menurut Cemplon, sepupunya itu marah lantaran air peceren itu mengenai pagar belakang rumahnya. Atau istilah jawanya nyiprat. Oleh karenanya, di saat wanita itu membuang sampah, Kang Dalbo langsung menegur dengan memaki-maki.
Ora trima, Yu Minthul langsung panas ati. Opo maneh ngerasa luwih tua. Makian yang dilontarkan itu membuat sakit hati. Pasalnya, kata-kata yang dilontarkan benar-benar tidak sopan.
Setidaknya, jika memiliki masalah, Kang Dalbo bisa mengatakan dengan cara baik-baik. Lebih menghormatinya lantaran wanita itu merupakan bibinya sendiri.
Di sisi lain, Yu Minthul merasa tidak salah. Karena membuang sampah masih di area pekarangannya sendiri. Setelah mendapat makian itu, wanita itu pun tak berpikir panjang untuk menjualnya.
“Sesok e iku langsung di dol tanah e, saking mangkele. Tanah e di dol ndek dulure sing ndek Sumatra,” beber Cemplon.
Ternyata, perselisihan diantara mereka sudah berlangsung sejak lama. Padahal, mereka bukan sekadar tetangga biasa. Mereka masih terikat hubungan keluarga.
“Dulu pernah wonge (Kang Dalbo, red) nyetel radio bianter. Terus, karo anak e budheku ya dibales pisan. Akhire yo banter-banteran radio, padahal ngarep iku pas musala,” kenang Cemplon sembari menggeleng-geleng kepala.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah