Dadi debt collector utawa penagih utang pancen gampang-gampang susah. Sudrun sing asline perawakane kalem dituntut dadi wong teges. Kudu isa ketara sangar ben sing ditagih utang gelem bayar utange.
Masiya awake Sudrun wis gotot kaya atlet binaraga merga rutin nge-gym, ternyata perkara nagih utang tetep bukan hal yang gampang. Sejak nekat kerja jadi debt collector, Sudrun pancen wis membekali awake dengan bela diri. Deweke ya rajin olahraga ben awake semakin padat berisi.
Bekal ilmu bela diri dan postur tubuh tinggi serta postur tubuh yang kuat itu cukup membantu. Sudrun hampir selalu sukses melakukan tugas menagih utang. Namun, suatu hari dia harus mengalah juga. Ini terjadi setelah nasabah yang harus didatanginya adalah mantan napi atau narapidana. “Aku ya ora ngerti. Kok isa mantan napi oleh utangan,” kenang Sudrun tentang kejadian lima tahun silam itu.
Sejak awal datang ke nasabah, Sudrun sudah ciut nyali. Dia tahu jika orang yang akan didatangi adalah mantan napi. Awake langsung nggreweli. “Kan sebelum nagih aku survei disik. Golek info tentang nasabahku,” lanjutnya.
Dia langsung ketakutan setelah mengetahui jika orang yang akan ditagih adalah mantan napi. Apalagi, sang nasabah sudah berpesan agar dia tak mengajak orang lain saat menagih. Tak mau gagal di awal, Sudrun tetap meminta tolong temannya agar menemani.
"Jenenge ae ketemu residivis ya aku pancet wedi. Kancaku tak kongkon nunggu jarak 300 meter,” paparnya sembari berpesan jika dalam 30 menit Sudrun tak kembali, sang teman harus menyusul ke lokasi.
Rupanya, saat datang ke rumah sang nasabah, Sudrun justru diterima baik oleh kedua orang tua sang residivis. Bahkan, dia juga ditawari minuman oleh nasabahnya. Meskipun dipaksa untuk meminum, Sudrun sing wis keweden tetap nolak. “Aku njaluk minuman kemasan. Lek minuman gawe dewe ya emoh,” kenangnya lagi sambil tersenyum.
Sudrun masih ingat betul kisah debt collector yang diracun oleh nasabahnya. "Soale beneran ada kasusnya. Jadi minumane kuwi diracun karo nasabahe. Aku ya kudu ngelindungi awakku dewe," sungutnya.
Meski diliputi rasa takut, Sudrun bersyukur penagihan berjalan dengan baik. Meski tak langsung membayar tunggakannya, sang nasabah tak melarikan diri. Setidaknya, Sudrun yang sempat ketakutan juga tidak menyerah di awal. “Jaminane mobil pikap wis ora enek di rumahnya. Nggak tahu kok dulu bisa lolos piye,” keluhnya tentang kredit bermasalah yang ditanganinya. (em/ut)
"Tapi pick up sing jadi jaminane ga enek ndek omah e. Mbuh ndisek kok iso lolos pie," tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah