KEDIRI, JP Radar Kediri – Di tengah anggapan bahwa dunia Vespa identik dengan kaum laki-laki, sekelompok perempuan di Kediri justru menunjukkan eksistensinya melalui komunitas Vespa khusus perempuan bernama FeminiLe. Komunitas yang berdiri sejak Maret 2018 itu masih bertahan hingga sekarang dan menjadi wadah bagi para perempuan pecinta skuter asal Italia tersebut.
Penggerak FeminiLe, Firstyarani Mutya Sari, 38, mengatakan komunitas itu lahir setelah gelaran Skuter Kediri Festival (KSF) ke-4. Saat itu muncul gagasan untuk menghimpun perempuan-perempuan pengguna Vespa yang jumlahnya mulai banyak di lingkungan Forum Scooter Kediri (Forscook).
"Awalnya setelah KSF 4 ada ide dari teman-teman karena ternyata banyak perempuan yang suka Vespa. Akhirnya dibentuk komunitas khusus perempuan," ujarnya.
Menurut Firstya, kegiatan pertama yang dilakukan FeminiLe cukup unik. Bertepatan dengan momentum Hari Kartini, para anggota menggelar riding menggunakan kebaya. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi penanda lahirnya komunitas perempuan pecinta Vespa di Kediri.
"Riding pertama kami pakai kebaya saat acara Kartini. Karena waktu itu kami berpikir masa Kartini isinya laki-laki semua, akhirnya dibuat komunitas perempuan," katanya.
Ia menjelaskan, tidak ada alasan khusus mengapa FeminiLe beranggotakan perempuan saja. Pembentukan komunitas lebih didorong oleh banyaknya perempuan pengguna Vespa yang ingin memiliki wadah untuk berkumpul dan berkegiatan bersama.
Rapat pertama FeminiLe sendiri digelar di rumah Dwijo, penasihat Forscook yang menjadi penggagas awal komunitas tersebut. Saat berdiri, jumlah anggota hanya sekitar tujuh hingga delapan orang. Kini jumlahnya telah berkembang menjadi 17 anggota yang seluruhnya berasal dari berbagai wilayah di Kediri.
"Awal berdiri sekitar tujuh atau delapan orang. Sekarang sudah ada 17 anggota," ungkapnya.
Meski tidak memiliki agenda touring rutin, FeminiLe tetap aktif menggelar berbagai kegiatan. Selain merayakan Hari Kartini setiap tahun, komunitas tersebut juga kerap mengadakan santunan dan kegiatan sosial saat Ramadan.
Menurut Firstya, suasana kekeluargaan menjadi salah satu alasan anggota bertahan di komunitas. Anggotanya berasal dari berbagai latar belakang, mulai ibu rumah tangga, pekerja hingga pelaku usaha.
"Yang penting nyaman. Kami berasal dari latar belakang berbeda, tapi nyambung saat kumpul bersama," ujarnya sambil tertawa.
Bagi Firstya, kecintaannya terhadap Vespa sudah tumbuh sejak kecil. Ia mengenal Vespa dari sang ayah yang juga menggunakan kendaraan tersebut. Kenangan sering dibonceng almarhum ayah menjadi alasan yang membuatnya terus setia menggunakan Vespa hingga sekarang.
"Awalnya karena bapak punya Vespa. Dari SMP saya sudah suka, SMA juga berangkat sekolah pakai Vespa sampai sekarang," kenangnya.
Ke depan, FeminiLe berharap semakin banyak perempuan muda yang tertarik bergabung dan meneruskan eksistensi komunitas. Regenerasi dinilai penting agar komunitas yang telah berjalan selama delapan tahun itu tetap hidup dan berkembang.
"Harapannya ada generasi muda yang mau melanjutkan FeminiLe dengan ide-ide baru dan lebih kreatif," pungkasnya. (c2)
Editor : Mahfud