JP Radar Kediri – Sistem injeksi pada sepeda motor mengandalkan sejumlah sensor untuk mengatur pasokan bahan bakar dan udara ke ruang bakar. Ketika salah satu sensor mengalami gangguan, performa motor dapat menurun hingga menyebabkan konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros.
Pemilik bengkel sepeda motor Viyan Bengkel Papar, Viyan (25) menjelaskan, sensor injeksi berfungsi mengirimkan data ke Electronic Control Unit (ECU) sebagai dasar pengaturan pembakaran mesin. Jika sensor mengalami kerusakan atau pembacaan tidak akurat, ECU akan kesulitan menentukan campuran bahan bakar yang ideal.
"Akibatnya motor bisa mengalami gejala seperti brebet saat akselerasi, langsam tidak stabil, tenaga berkurang, hingga sulit dihidupkan," jelasnya.
Baca Juga: Deretan Mobil Baru yang Siap Meluncur di Indonesia, Ada yang Sudah Lama Dinanti Pecinta Otomotif
Beberapa sensor yang umum mengalami gangguan antara lain Throttle Position Sensor (TPS), Manifold Absolute Pressure (MAP) Sensor, sensor suhu mesin, dan sensor oksigen. Gangguan dapat disebabkan oleh usia pakai, kotoran yang menempel, kabel yang putus, maupun konektor yang longgar.
Selain memengaruhi performa, sensor injeksi yang bermasalah juga dapat meningkatkan konsumsi bahan bakar. Hal itu terjadi karena ECU menerima data yang tidak sesuai sehingga suplai bensin menjadi terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Pemilik kendaraan disarankan segera melakukan pemeriksaan apabila motor menunjukkan gejala tidak normal. Pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan alat pemindai (scanner) untuk mendeteksi kode kerusakan yang tersimpan pada ECU.
Baca Juga: Dari Skutik Hingga Sport, Yamaha Sapu Bersih 7 Penghargaan di Event Otomotif Award 2026
Perawatan rutin seperti membersihkan konektor, menjaga kebersihan sistem kelistrikan, serta melakukan servis berkala juga dapat membantu mencegah kerusakan sensor injeksi. Dengan kondisi sensor yang optimal, performa motor tetap terjaga dan konsumsi bahan bakar lebih efisien.
Menurut mekanik, penanganan sejak dini penting dilakukan agar kerusakan tidak merembet ke komponen lain pada sistem injeksi. Jika dibiarkan terlalu lama, biaya perbaikan berpotensi menjadi lebih besar dibandingkan melakukan pemeriksaan saat gejala awal muncul. (*)
Editor : Mahfud