JP Radar Kediri – Pasar motor bekas Indonesia terus menunjukkan dinamika menarik, terutama di segmen motor sport underbone dari Suzuki. Dalam beberapa tahun terakhir, dua model legendaris dari lini Suzuki Satria mengalami nasib yang sangat berbeda: Satria FU yang dulu menjadi idola kaum muda mengalami penurunan harga drastis, sementara Satria Hiu yang bermesin 2-tak justru naik daun dan diburu para kolektor.
Fenomena ini tak hanya menggambarkan perubahan preferensi konsumen, tetapi juga menunjukkan bahwa faktor emosional, nostalgia, dan kelangkaan kini menjadi pertimbangan penting dalam menentukan nilai motor bekas.
Suzuki Satria FU yang sempat mendominasi jalanan pada awal 2010-an kini mudah ditemui di pasar motor bekas dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Unit dalam kondisi standar dan masih layak pakai kini dibanderol mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 7 juta, tergantung kondisi mesin, bodi, serta kelengkapan surat.
Motor ini dahulu dikenal karena performanya yang buas untuk kelas underbone 150cc, desain sporty, dan kecepatan yang menjanjikan. Namun kini, faktor konsumsi bahan bakar yang relatif boros dan desain yang mulai dianggap umum menjadikan Satria FU kurang diminati oleh pasar generasi baru.
“Kalau untuk harian, Satria FU dianggap kurang ekonomis. Banyak yang pindah ke motor matik atau bebek irit,” ujar Arif, seorang pedagang motor bekas di kawasan Depok.
Satria Hiu Jadi Barang Kolektor
Berbanding terbalik dengan Satria FU, Satria Hiu — varian Satria 2-tak yang pernah dirilis di era awal 2000-an — kini menjelma jadi barang buruan kolektor dan penggemar motor klasik. Suara knalpot khas mesin 2-tak, desain retro, serta statusnya yang semakin langka di pasaran menjadi nilai jual tersendiri.
Harga unit bekasnya pun melambung tinggi. Unit dalam kondisi standar dan mulus bisa dihargai Rp 15 juta ke atas, bahkan unit istimewa yang full original tembus Rp 20 juta atau lebih.
“Sekarang nyari Satria Hiu yang masih ori itu susah. Banyak yang udah modifikasi. Jadi kalau ada yang mulus dan standar, pasti cepat laku,” ungkap Roni, kolektor motor 2-tak asal Bandung.
Tren ini menunjukkan bahwa di pasar motor bekas, harga tidak selalu ditentukan oleh performa atau teknologi terbaru, melainkan juga nilai historis, nostalgia, dan kelangkaan unit. Semakin sulit ditemukan, semakin tinggi harga jualnya.
Satria Hiu dianggap sebagai representasi era kejayaan motor 2-tak di Indonesia. Suara knalpotnya yang khas, lampu belakang unik, dan bentuk bodi ramping mengingatkan banyak orang pada masa remaja mereka. Tak heran jika komunitas penggemar motor 2-tak terus tumbuh dan mendongkrak harga motor-motor lawas seperti Satria Hiu.
Sementara itu, Satria FU yang dahulu jadi simbol anak muda yang doyan kecepatan, kini mulai tergeser oleh tren motor yang lebih efisien dan serbaguna, seperti skuter matik dan motor bebek injeksi.
Editor : Jauhar Yohanis